Dari Mancini sampai Pochettino: Gelombang Ketiga Manajer Asing di Premier League

Dengan Arsene Wenger akan merayakan 20 tahunnya sebagai manajer Arsenal pada Kamis nanti, FFT memutuskan untuk mengenang setiap manajer asing yang pernah melatih di sepakbola level tertinggi di Inggris – semuanya. Dan inilah gelombang ketiganya...

21. Luiz Felipe Scolari (Chelsea)

  • 1 Juli 2008 hingga 9 Februari 2009

Semuanya berjalan dengan baik pada awalnya: dengan sistem Scolari, Chelsea tidak terkalahkan dalam 12 pertandingan pertama mereka, termasuk dua kemenangan 5-0 dan tiga kemenangan 4-0

Finalis Liga Champions atau bukan, Avram Grant tidak akan pernah bisa mengisi kekosongan yang ditinggalkan Jose Mourinho. Mereka membutuhkan seseorang yang nama panggilannya diawali dengan kata ‘Big’: Sam Allardyce tidak cukup cocok untuk mereka, maka Chelsea pun memilih Big Phil Scolari (yang tingginya sebetulnya di bawah 180cm).

Chelsea adalah posisi manajerial-nya yang ke 21, di mana ia melakoni 19 di antaranya dalam 20 tahun, melompat-lompat di klub-klub Brasil (selain juga petualangan ke Arab Saudi, Kuwait, dan Jepang yang ikut mengisi kariernya) dan mengumpulkan pengalaman serta beberapa gelar Copa Libertadores sampai ia dipercaya untuk memegang tim nasional Brasil, yang ia bawa, secara cukup mengejutkan, menjadi juara di Piala Dunia 2002. Ia kemudian membawa Portugal ke final Piala Eropa 2004, semifinal Jerman 2006, dan perempat final Euro 2008 sebelum Chelsea berhasil melakukan sesuatu yang gagal dilakukan FA dua tahun sebelumnya: menggodanya pindah ke Inggris – dan ia pun menjadi orang non-Eropa pertama yang menjadi manajer tim Premier League semenjak Ossie Ardiles 14 tahun sebelumnya (Anda boleh berargumen mengenai Avram Grant, yang orang Israel).

Luiz Felipe Scolari

Scolari menjadi manajer asing anyar Chelsea pada 2008

Semuanya berjalan dengan baik pada awalnya: dengan sistem Scolari di mana gelandang bertahan akan menutup posisi full-back yang rajin melakukan penetrasi ke depan, Chelsea tidak terkalahkan dalam 12 pertandingan pertama mereka, termasuk dua kemenangan 5-0 dan tiga kemenangan 4-0. Tapi kekalahan krusial dari Liverpool, Roma, Arsenal, dan Manchester United membuat para fans yang tidak sabar dan juga para anggota skuat melawannya, dan ia pun didepak hanya seperempat dari kontrak tiga tahunnya. Seperti yang dikatakan John Terry yang ‘terkejut’, “Ia mendapatkan dukungan dari saya, tentu saja. Dua atau tiga pemain lain akan mengatakan hal yang sama.”

Scolari mengakui bahwa finansial adalah “salah satu alasan” dirinya melatih Chelsea, dengan mengatakan, “Anda hanya mendapatkan kesempatan seperti ini sekali.” Ia kemudian melatih di Uzbekistan (disebut-sebut sebagai pelatih paling mahal di dunia, dengan gaji mencapai £200.000 per pekan), Brasil (termasuk menjadi tim nasional untuk Piala Dunia di negeri sendiri, yang tidak berakhir dengan baik), dan sekarang di Tiongkok.

Luiz Felipe Scolari

Petualangan Scolari membawanya ke Tiongkok, di mana ia melatih Guangzhou Evergrande saat ini

22. Gianfranco Zola (West Ham)

  • 15 September 2008 hingga 11 Mei 2010

Dengan bijak mendatangkan pelatih top, Steve Clarke, sebagai pendampingnya, ia memaksimalkan kondisi keuangan Hammers yang layak dipertanyakan dengan mempromosikan pemain muda ke tim utama

Saat Alan Curbishley mundur karena kebijakan transfer klub – di mana mereka menjual atau melepaskan beberapa pemain – The Hammers sangat ingin mencari pelatih asing: daftar pendek incaran mereka adalah Slaven Bilic, Gerard Houllier, Roberto Donadoni, Roberto Mancini, dan Zola. Mantan pemain Chelsea ini adalah salah satu kandidat di posisi bawah dalam daftar mereka, namun mendapatkan pekerjaan ini setelah sesi wawancara yang impresif, dan mungkin sebuah pertanda bahwa besarnya rasa hormat atas dirinya lah yang membuat ia dengan cepat didukung para fans West Ham meski berhubungan erat dengan The Blues.

Musim perdana Zola memberikan beberapa hasil yang menjanjikan. Dengan bijak mendatangkan pelatih top, Steve Clarke, sebagai pendampingnya, ia memaksimalkan kondisi keuangan Hammers yang layak dipertanyakan dengan mempromosikan pemain muda ke tim utama, sesuatu yang jarang tidak populer di Upton Park. Penampilan yang menarik di lapangan juga disambut baik, dan finis di posisi sembilan memperlihatkan bahwa masa-masa indah akan segera datang.

Kenyataannya tidak begitu. Satu kemenangan dari 10 pertandingan pembuka di musim berikutnya membuat tim ini berada di posisi kedua dari bawah, dan pengambil alihan kepemilikan klub di bulan Januari oleh David Gold dan David Sullivan sama sekali tidak membantu stabilitas tim, terutama setelah nama terakhir melabeli tim mereka “menyedihkan” pasca kekalahan 3-1 dari Wolves, dan kemudian mengumumkan (tanpa berbicara dengan Zola) bahwa semua pemain selain Scott Parker siap dijual. The Hammers bertahan di Premier League tapi Zola digantikan oleh Avram Grant; musim selanjutnya mereka degradasi dengan berada di posisi terbawah.

Pages