David De Gea Pemain Terpenting Manchester United Musim Ini

Tingkat refleks yang tinggi dan penyelamatan indah hanyalah sebagian kecil dari kemampuan penjaga gawang utama Manchester United, menurut analisa jurnalis FourFourTwo, Seb Stafford-Bloor...  

Kiper menempati posisi yang aneh dalam jiwa sepakbola. Ini adalah posisi yang tidak terdeteksi dan bahkan pada tingkat profesional, sebagian besar keunggulan diabaikan.
 
Namun bermain di bawah mistar gawang dianggap tidak berguna, dan anak-anak kecil dididik untuk menerima fakta bahwa posisi ini adalah posisi buangan untuk mereka yang tidak bisa bermain sepakbola. Pemikiran tersebut tidak pernah benar-benar hilang.
 
Di setiap akhir pekan, studio televisi yang dipenuhi pandit memberikan penilaian yang kurang untuk penampilan seorang kiper. Hingga kini penilaian soal posisi kiper masih bersifat satu arah dan itu berdasarkan pada apakah sebuah gol tercipta atau tidak.
 
Ada penjelasan yang mudah untuk ini: sangat sedikit dari kita yang pernah menjaga gawang dan mengenakan sarung tangan selama 10 saat permainan berlangsung. Dengan begitu, bisakah kita menilai posisi ini seperti kita menilai posisi non-kiper? Apalagi, posisi kiper adalah posisi yang paling ingin kita hindari.

Kemampuannya dalam menghalau bola masuk ke gawangnya memberikan pujian setinggi langit kepadanya

Keberhasilannya Sebagai Seorang Kiper

Di Liga Primer musim ini, performa David De Gea menjadi alasan penting kenapa musim debut Louis van Gaal bisa diterima suporter. Pemain Spanyol ini, yang dikritik habis-habisan pada 18 bulan pertamanya di Inggris, sering melindungi kerapuhan lini pertahanan United dan hampir pasti akan masuk sebagai nominator Player of the Year versi PFA.

BACA JUGA Pemain Terbaik versi PFA: Ini dia nama-nama calon penerima gelar pemain terbaik

Jika itu terjadi, bukan hanya akan menjadi merupakan tonggak penting dalam karir pemain, tapi mungkin akan memvalidasi posisi kiper secara keseluruhan - De Gea bisa menjadi kiper ketiga yang memenangkan penghargaan tersebut, dan yang pertama sejak Peter Shilton pada tahun 1978. Ini adalah sedikit pengakuan pada peran yang dirasakan penting.
 
Menariknya, seperti yang diulas mengenai perkembangan De Gea, itu masih dipandang dari dua segi. Sebagian besar, performanya dinilai dari jumlah penyelamatan yang ia buat dan perkembangannya dinilai dari gerakan refleksnya

Tapi kembali ke tahun 2009 dan kembali ke musim debutnya di Atletico Madrid: kemampuannya menghentikan tembakan yang membuatnya menjadi begitu terkenal, faktanya sudah ia lakukan sepanjang karirnya.
 
Dari saat ia diangkat menjadi sepak bola profesional, De Gea secara rutin menunjukkan kelincahan yang mengejutkan dan jangkauan bola yang aneh.
 
Dia tidak memperoleh kemampuan itu di Inggris, meskipun tidak mengabaikan perkembangannya di Carrington: setiap hari, para kiper melakukan berbagai latihan untuk menyempurnakan gerak reflek mereka.
 
Dan itu tidak hanya terbatas pada latihan menahan tembakan. Pelatih akan menggunakan tembakan jarak pendek untuk melatih ketepatan waktu dalam bereaksi. Begitu halnya dengan latihan hidden-ball, kiper diharuskan bergerak ke arah bola yang berjalan, ke arah yang sama dan membantu untuk mempertahankan kecepatan reaksi yang baik.
 
Ini semua merupakan rutinitas sehari-hari kiper, tapi itu tidak semuanya, terutama bagi mereka yang memiliki kelemahan dalam permainannya.

Nama Besar Manchester United Menjadi Beban Tersendiri Baginya

Pada musim panas 2011, De Gea merampungkan proses transfernya ke Manchester United setelah bermain 84 laga untuk AtleticocMadrid dan memperoleh pengalaman yang baik untuk kiper seusianya. Namun, pada awalnya ia kesulitan, ada kerapuhan yang terlihat jelas dan dia bermain di tengah perbedaan gaya sepakbola.
 
Ada hal-hal yang tidak terlihat dalam proses adaptasinya dan nama besar Manchester United mungkin terlalu berat baginya di musim pertamanya, tapi masa-masa awalnya di Old Trafford tak bisa hanya dinilai sebagai periode adaptasi.
 
Ada asumsi yang keliru bahwa kiper-kiper di Premier League menghadapi lebih banyak bola-bola lambung daripada di luar Inggris, yang menyiratkan bahwa setiap kiper Spanyol yang datang akan menghadapi ujian dalam hal kemampuannya mengatasi bola-bola atas. Tapi itu tidak benar: menurut data Opta pada 2013/14, lebih banyak bola-bola lambung di La Liga (13007) daripada di Liga Primer Inggris (12.709).

De Gea saat masih 19 tahun meninju bola di depan Clint Dempsey saat final Europa League 2010 melawan Fulham

Perbedaannya terletak pada detil. Kotak penalti Inggris adalah area yang lebih fisik dan kontak fisik antar pemain lebih sering terjadi - bahkan dengan kiper, yang sekarang umumnya dianggap lebih terlindungi daripada yang seharusnya. Itu jelas menjadi masalah awal De Gea. Dia baru berusia 20 tahun saat datang ke Old Trafford, namun masih memiliki fisik remaja dan tampak rapuh saat ditekan.

Pengaruh Besar Eric Steele

Dalam sebuah wawancara dengan Daily Mail pada oktober 2014, Eric Steele - pelatih kiper De Gea dari 2011 hingga 2013 - menceritakan awal-awal pertemuannya dengan sang pemain, saat fokus diarahkan untuk mengasah kondisi fisiknya.
 
"Dia berada di gym pada pukul 9.30 pagi tiga kali dalam sepekan," kata Steele. "Bagian pertama dalam tiap pekan fokus pada kinerja dan ketahanan. Empat puluh delapan jam sebelum bertanding kami fokus pada kecepatan dan kekuatan."
 
"Kami akan melakukan sesi sore dua kali sepekan dan kemudian dia akan belajar bahasa Inggris dan bertanding di pertengahan minggu. Kami harus berhati-hati untuk tidak terlalu mengeksploitasi dirinya."
 
Pentingnya dari ketahanan fisik sudah tentu, begitu halnya dengan nilai bahasanya. Seorang kiper memikul tanggung jawab besar pada organisasi pertahanan, yang berarti nilainya tidak murni ditentukan oleh aktivitas fisiknya.
 
Dalam situasi yang meragukan, antara mengambil bola atau menyapunya, dia harus menjadi yang pertama mengambil tindakan untuk menghindari ketidakpastian di pertahanan sendiri.

De Gea bercanda dengan mantan pelatih kiper United, Eric Steele

Itu keseimbangan yang sulit bagi setiap pemain, bahkan bagi kiper yang  percaya diri dengan kemampuannya sendiri. Tapi bagi seseorang yang menyesuaikan diri dengan liga baru di negara baru, bermain untuk salah satu klub yang memiliki tekanan terbesar di dunia, dia harus berusaha. Dan itulah mungkin kenapa suporter tetap menghargainya.
 
Ini bukan tentang menu protein dan karbohidrat yang dilahap kiper Spanyol ini, mengunci dia di ruang timbangan dan ia langsung menjadi pemain yang siap berlaga di Liga Primer. Sebaliknya, harus ada agenda yang sangat terencana untuk memperbaiki kelemahannya.

Terlatih Untuk Menang

Sementara tidak ada cara untuk meniru kondisi pertandingan dalam latihan, para pelatih seringkali mensimulasikan menciptakan situasi meragukan dengan menempatkan beberapa kiper dalam kotak enam yard dan meminta mereka untuk bersaing untuk memenangkan bola yang sama. Sebelum bola ditembakkan, nomor bola yang harus dimenangkan salah satu kiper akan disebutkan dan sang kiper akan berusaha menangkap bola itu sementara kiper-kiper lainnya akan bermain seperti penyerang lawan.
 
Dalam latihan yang sama, para penjaga gawang akan dihujani bola dari berbagai arah yang berbeda, ditambah dengan rintangan dan kontak-kontak fisik untuk meniru beberapa kondisi yang mungkin terjadi dalam pertandingan.
 
Itulah bagian tersulit dari menjaga gawang. Salah satu alasan mengapa posisi ini membutuhkan begitu banyak pengalaman karena menu latihan di posisi ini sangat bervariasi. Bahkan untuk kiper Inggris, yang tumbuh dengan permainan kasar di dalam kotak penalti, penguasaan daerah adalah hal yang sulit dipahami. Ada puluhan variabel - kecepatan dan lintasan bola, kondisi, lawan - dan tidak ada dua situasi yang benar-benar sama.
 
Tentu saja, tak satu pun dari semua itu merupakan hal yang baru bagi De Gea, tapi bagian-bagian dari kemampuannya telah diasah menjadi lebih detil di Inggris dan sesi latihannya menyesuaikan dengan kondisi permainan sepakbola Inggris.

Target De Gea selanjutnya adalah menggantikan Iker Casillas di timnas Spanyol

Semakin pentingnya De Gea bagi Manchester United mungkin sangat dipengaruhi oleh kerapuhan pertahanan tim, dan dengan jumlah peluang menembak yang mereka berikan kepada lawan.
 
Apapun itu, perkembangan pemain Spanyol ini masih bisa terlihat: di 2012/13 ia meninju bola 23 kali; pada musim 2013/14 angka tersebut menurun menjadi 14 kali, dan di musim ini turun menjadi hanya lima. Bandingkan dengan catatan, misalnya, kiper Liverpool, Simon Mignolet (30) dan kiper Manchester City, Joe Hart (25) musim ini.
 
Itu mungkin hanya berhubungan dengan satu aspek permainan, tapi itu relevan di luar kotak enam yard. Komentar klise para pandit memang menjengkelkan tapi benar adanya: situasi yang penuh ketidak pastian mengelilingi para pemain bertahan dan setiap kuartet bek yang hebat selalu dipimpin oleh kiper yang menentukan.
 
Dramatisnya, tontonan menyenangkan yang menjadi bagian dari permainan De Gea layak mendapatkan tepuk tangan, tapi itu seharusnya tidak mengalihkan perhatian seberapa jauh dia dapat lebih diandalkan. Dia semakin menguasai areanya, tapi kehadiran fisiknya kini memiliki pengaruh yang lebih besar berkat kemampuan dasarnya yang meningkat.
 
Saat De Gea terus meningkat, kita harus ingat bahwa bukan hanya gerak refleknya yang membawanya ke sana.

BACA JUGA Pemain Terbaik versi PFA: Ini dia nama-nama calon penerima gelar pemain terbaik