Analisa

Deretan Pemain yang Sukses Menjalani Perubahan Posisi dari Winger ke Striker

Perubahan posisi seorang pemain adalah hal yang umum dalam sepakbola. Namun, perubahan posisi yang sering terjadi dalam beberapa tahun terakhir adalah ketika seorang winger dialihfungsikan menjadi seorang striker...

We are part of The Trust Project What is it?

“Kau hanya membuang-buang waktumu saja menjadi seorang winger, kau adalah no.9 (penyerang tengah),” ungkap Arsene Wenger kepada Thierry Henry saat awal-awal merekrut penyerang asal Prancis tersebut dari Juventus.

Maklum saja, saat awal kariernya di klub Arsenal, Henry dipindahtugaskan dari seorang penyerang sayap menjadi penyerang tengah dan masih belum menghasilkan sebiji gol pun.

Henry pun merasa resah, bahkan ia berpikir untuk mengadu ke bosnya tersebut untuk dikembalikan posisinya sebagai winger saja apalagi ia kerap dibanding-bandingkan dengan seniornya, Nicolas Anelka. Namun, pada akhirnya ia melunak dan sedikit bersabar untuk menjajal posisi barunya tersebut. 

Thierry Henry, salah satu winger yang kemudian menjadi striker jempolan

Kisah tentang Henry tersebut adalah salah satu kisah klasik di mana seorang pemain sayap yang diubah posisinya sebagai penyerang tengah oleh pelatihnya sendiri, baik karena potensi maupun karena kebutuhan. Kisah ini juga bisa menjadi referensi bagi pemain ‘zaman now’ yang masih bimbang atas posisi bermainnya di lapangan.

Meski begitu, jika melihat tren saat ini misalnya, seorang Eden Hazard yang digeser ke tengah oleh Antonio Conte sejajar dengan Alvaro Morata di kotak penalti lawan bisa dibilang lebih kepada respon taktik Conte yang mengubah pakem 3-4-3 andalannya menjadi 3-5-2 untuk memperkuat lini tengahnya. Hazard, bagaimanapun, memang memiliki kemampuan menjadi pengoyak gawang lawan yang klinis ditunjang dengan kemampuan dribel yang mumpuni. Pemain tipe seperti ini jelas selalu merepotkan barisan pertahanan lawan.

“Sekarang saya pikir Eden (Hazard) benar-benar dalam performa yang bagus dan ia menyukai perannya sebagai striker. Ada koneksi yang bagus dengan Alvaro (Morata) dan bagi saya itu adalah peluang yang bagus untuk bermain dengan dua sistem berbeda,” ungkap Conte seperti dilansir Sky Sports

Perubahan, bagaimanapun, muncul karena ada tantangan baru. Kubu Chelsea yang menemukan kebuntuan dengan formasi lamanya jelas ingin menemukan sesuatu yang baru musim ini. Kasus lainnya yang patut diperhatikan adalah pada posisi Dries Mertens yang saat ini bermain sebagai penyerang tengah (atau banyak pengamat yang mengasosiasikan dengan peran false nine) saat bermain untuk Napoli saat ini.

"Ia (Mertens) terus menjadi lebih baik dan benar-benar menjadi pemain kelas dunia. Saya ingin Mertens menjadi predator yang haus gol. Sejujurnya saya beruntung bisa menemukannya sebagai penyerang tengah, karena saya harus membuat perubahan saat Milik cedera tahun lalu, tapi kami tidak berpikir dia akan menjadi seperti ini,” ungkap Maurizio Sarri, pelatih Napoli.

"Sangat disayangkan bahwa kami menemukan Mertens sebagai striker pada usia 28, padahal jika kami menyadarinya lebih cepat mungkin ia sudah teratas di dunia selama bertahun-tahun,” lanjutnya.

Pengakuan Sarri ini memang sangat jelas didasari dengan keadaan yang menimbulkan keterpaksaan untuk menjadikan Mertens sebagai penyerang tengah. Mungkin, jika Gonzalo Higuain tak hengkang ke Juventus dan akhirnya Milik tak datang ke Napoli dan tak cedera,  bisa saja kita semua tak menyadari bakat besar Mertens sebagai penyerang tengah andal seperti saat ini. Musim lalu saja ia membukukkan 34 gol sekaligus 15 asis di semua ajang dan musim ini sudah 13 gol dan 9 asis di segala kompetisi yang diikuti oleh Mertens dan Napoli. 

"Sangat disayangkan bahwa kami menemukan Mertens sebagai striker pada usia 28, padahal jika kami menyadarinya lebih cepat mungkin ia sudah teratas di dunia selama bertahun-tahun."

- Maurizio Sarri

“Saya sempat menjadi gelandang tengah saat memulai karier, lalu saya bermain sebagai winger. Tak lama, saya kini menjadi penyerang tengah. Saya terus meningkat konsisten karena saya bermain sebagai starter yang mana sebelumnya saya selalu sebagai cadangan,” ungkap Mertens kepada La Republica

“Sepakbola a la Sarri tampak seperti dikhususkan untuk membantu saya, saya senang bermain dengan umpan-umpan segitiga yang cepat sebagai kekuatan dan kelebihan dari Napoli. Kita semua bicara dengan teknik yang sama dan tumbuh berkembang pun bersama,” lanjut Mertens.

Mertens yang merupakan satu negara dengan Hazard di Belgia, sudah pasti akan menarik siapa yang akan menjadi penyerang di lini depan tim nasional nanti pada ajang Piala Dunia 2018. Bayangkan saja, Mertens dan Hazard yang sejatinya pemain sayap saja sangat fasih bermain sebagai penyerang tengah, ini belum menghitung penyerang tengah klasik seperti Romelu Lukaku, Christian Benteke atau pun Mitchy Bathsuayi. Entah bagaimana pusingnya Roberto Martinez, pelatih timnas Belgia dengan stok yang melimpah seperti ini.