Analisa

Dicaci, Namun Tak Dibenci: Arsene Wenger Tak Akan Pernah Jadi Tokoh Antagonis di Arsenal

Meski menjadi target lelucon dan kritikan pedas menjurus kasar dari para fans sepakbola di seluruh dunia dalam lima tahun terakhir, Arsene Wenger tak akan pernah menjadi sosok yang dibenci...

We are part of The Trust Project What is it?

Bisa dimengerti jika sebagian penggemar Arsenal bersikap semakin kritis, bahkan menjurus kasar, kepada Arsene Wenger dalam lima tahun terakhir. Tidak adanya perubahan nasib yang berarti dalam satu dekade terakhir (yang ada bahkan semakin menurun), serta cara pandangnya yang sangat terbatas di era ketika sepakbola berubah begitu cepat, menjadikannya kambing hitam di balik kegagalan demi kegagalan Arsenal untuk berprestasi.

Bahwa Arsenal juga masih terus minim prestasi meski mereka sudah berani mengeluarkan banyak uang untuk membeli pemain-pemain berlabel bintang seperti Mesut Ozil, Alexis Sanchez, Granit Xhaka, Petr Cech, Henrikh Mkhitaryan, dan bahkan dua kali memecahkan rekor transfer klub dalam semusim untuk mendatangkan Alexandre Lacazette dan Pierre-Emerick Aubameyang, semakin memperburuk citranya. Fans Arsenal pun semakin yakin bahwa masalah klub ini bukan semata-mata kalah bersaing karena terlalu irit dalam belanja pemain, tetapi karena ketidakmampuan Wenger untuk membentuk tim yang tangguh dan memberikan taktik yang cerdik dan variatif.

Wenger gagal membuat tim yang mampu tampil konsisten, dan memiliki mental tangguh untuk bangkit ketika keadaan tak berpihak pada mereka. Arsenal di paruh kedua kepemimpinannya adalah tim yang tak mampu bersaing dengan tim-tim yang belanja lebih besar daripada mereka, dan kerap tersandung saat melawan tim-tim yang lebih lemah.

Singkatnya, Arsene Wenger telah membawa Arsenal ke periode mediokritas yang parah yang membuat mereka bahkan berpeluang tidak tampil di Liga Champions lagi untuk kali kedua berurutan.

Tetapi bahkan orang-orang yang mengritik keras Arsene Wenger pun, mungkin, juga memendam rasa sedih bahwa Arsene Wenger yang luar biasa itu saat ini telah terdegradasi menjadi target hujatan dan lelucon semata. Mereka yang paling vokal menyuarakan ditendangnya Wenger dari Emirates Stadium sekalipun, pasti tidak akan pernah melupakan revolusi yang ia buat dua dekade lalu, yang mengangkat derajat Arsenal ke titik tertinggi di sepanjang sejarah mereka.

Karena itu jugalah, pengumuman mundurnya Wenger di akhir musim nanti pada pekan lalu memberikan dua perasaan yang mungkin bertolak belakang: kelegaan, namun juga rasa sedih.

Tak ada keraguan, Wenger memang harus pergi. Bisa dikatakan, ia bahkan seharusnya pergi sejak lama, setidaknya akhir musim lalu, ketika Arsenal berhasil menjuarai Piala FA setelah satu musim yang begitu berat, yang diwarnai dengan hujan kritik yang semakin lebat pada Wenger dan kegagalan Arsenal untuk lolos ke Liga Champions untuk pertama kalinya di era manajer asal Prancis itu.