Blog

Dilema Performa Granit Xhaka

Walau menjadi bagian penting dalam skema Emery, naik-turunnya konsentrasi Xhaka bisa berakibat fatal bagi Arsenal.

We are part of The Trust Project What is it?

Oleh: Chris Wheatley

Granit Xhaka adalah dilema untuk Arsenal. Dibeli dengan harga £30 juta dari Borussia Monchengladbach sebagai kapten termuda sepanjang sejarah Bundesliga, Xhaka mampu menyajikan deretan performa impresif dan mengecewakan secara bersamaan.

Tak ada ilustrasi yang lebih pas selain laga kontra Wolverhampton, Minggu (11/11) lalu. Pemain 26 tahun itu datang setelah menunjukkan performa terbaiknya dalam laga kontra Liverpool [pada pekan sebelumnya] di Liga Primer Inggris

Kedatangan Lucas Torreira dalam tim memberikan kebebasan lebih pada pemain internasional Swiss itu dan setelah menghabiskan beberapa waktu bermain sebagai bek kiri, aksinya melawan skuat Jurgen Klopp mengindikasikan lahirnya seorang pemain top di London Utara.

Ia melakukan umpan lebih banyak dari pemain lain di lapangan, melakukan intersepsi terbanyak, tekel terbanyak, dan – bersama Torreira – menjadi kunci untuk menghentikan sepakbola eksplosif finalis LIga Champions itu.

Namun ketika menghadapi klub promosi Wolves, Xhaka menjadi sorotan utama dengan alas an yang berbeda.

Xhaka

Setelah menyajikan performa kelas dunia lawan Liverpool, Xhaka malah jadi penyebab Arsenal kehilangan dua poin.

Kendati mencatatkan akurasi umpan 89 persen melawan Wolves, hilangnya konsentrasi Xhaka, setelah menerima umpan dari Sead Kolasinac, membuat Ivan Cavaleiro mampu membuka keunggulan tim tamu. Jika bukan karena gol penyama kedudukan Henrikh Mkhitaryan empat menit jelang jeda, blunderXhaka bakal jadi penentu laga.

Itu merupakan satu dari 29 kali Xhaka kehilangan bola melawan tim Nuno Espirito Santo, ia kehilangan bola lebih banyak dari pemain lain. Sejauh ini, ia sudah mencatatkan lima kesalahan yang berujung gol sejak debutnya di Inggris pada 2016. Tak ada pemain di divisi tersebut yang mampu melampauinya.

“Ia memiliki komitmen besar dengan kami dan juga karakter,” kata Unai Emery setelah ditanyai soal kesalahan terkini Xhaka. “Penampilannya dengan kualitasnya bagus untuk kami. Kami butuh semua orang. Bagi saya dan bagi tim, kami butuh konsistensi lebih. Saya piker hal yang paling penting adalah membangun kepercayaan diri dan mewujudkan sedikit demi sedikit rencana besar kami. Saya pikir kami sedang melakukannya dan Xhaka juga.”

Inkonsistensi Xhaka tampak sistematik dilihat dari tim Arsenal yang sekalipun tampil apik bersama Emery, terus menjegal diri sendiri.

Tak ada tim papan atas yang mencatatkan kesalahan individu berujung gol lebih banyak dari The Gunners (17) jika dihitung dari musim lalu. Sementara 16 laga tanpa kalah di semua kompetisi patut dipuji, ada potensi untuk melakukan lebih.

Patut ditunggu sampai kapan Emery bisa bersabar dengan Xhaka. Kemampuannya untuk menjadi penghubung lini tengah dan depan memang layak disandingkan dengan pemain papan atas Liga Primer. Gol tendangan bebas melawan Crystal Palace pun sekaligus menunjukkan bahwa Xhaka mampu menyajikan momen penentu pada pertandingan penting.

Walau masih kurang pengalaman dibandingkan Xhaka, pemain seperti Matteo Guendouzi dan Ainsley Maitland-Niles bisa menjadi alternative Emery jika ia sudah muak dengan sang gelandang Swiss. Bahkan Aarom Ramsey bisa diduetkan dengan Torreira, walau pemain internasional Wales itu diprediksi hengkang musim depan.

Kesetiaan Emirates Stadium mungkin bakal mendukung Arsenal, tetapi kelemahan defensif yang mengganjal musim terakhir Arsene Weinger juga patut menjadi tanggung jawab Xhaka. Emery mungkin bakal segera memutuskan apakah pemain dengan inkonsistensi parah bisa dipertahankan dalam timnya yang sedang berevolusi.