Dua Masalah Besar yang Membuat Dominasi Juventus di Serie A Mungkin Akan Runtuh

Menjelang akhir Oktober, Juventus masih belum kembali ke habitatnya di puncak klasemen Serie A. Kekalahan pertama di J-Stadium dalam dua tahun memberikan sinyal bahaya bagi Si Nyonya Tua. Apa yang terjadi?

Tahun 2017 menjadi tahun yang cukup menyedihkan bagi pecinta sepak bola lawas. Tahun ini menjadi tahun di mana para pemain ikonik seperti Philipp Lahm, Xabi Alonso, Andrea Pirlo, Francesco Totti, dan Kaka pensiun. Menyusul mereka tahun depan adalah kiper Juventus, Gianluigi Buffon.

Buffon (39 tahun) akan mengakhiri dedikasinya selama 22 tahun untuk Juventus pasca Piala Dunia 2018 - itupun jikalau timnas Italia lolos play-off melawan Swedia. Tentu, Buffon takkan ingin meninggalkan Juventus dalam kondisi terpuruk – tanpa raihan trofi.

Ironisnya, Bianconeri saat ini tengah menurun performanya. Sebagian kecil fans Juve mulai khawatir, musim ini 'roda nasib tim kesayangannya tengah berputar memasuki akhir era keemasan. Hasil imbang 2-2 melawan Atalanta dan kekalahan 1-2 dari Lazio di Serie A mempertegasnya.

Memang, dua hasil minor tersebut bukanlah akhir dunia bagi Juventus karena musim masih panjang. Tetapi, jika menilai secara garis besar perjalanan Juventus, determinasi dan semangat bermain mereka tak lagi sehebat musim-musim sebelumnya.

Kekalahan dari Lazio sudah dua kali dirasakan Juventus. Satu saat kalah 2-3 di Piala Super Italia, lalu yang kedua terjadi di J-Stadium pada lanjutan laga Serie A. Juve yang sempat unggul melalui gol Douglas Costa, kehilangan konsentrasi di paruh kedua hingga Lazio memanfaatkannya melalui dua gol Ciro Immobile. Ini merupakan kekalahan pertama yang diderita Juventus di Turin setelah dua tahun lamanya.

Bukan sekali itu saja Juve kehilangan fokus kala sudah unggul atas lawannya. Melawan Atalanta pun sama. Juve unggul 2-0 melalui gol Federico Bernardeschi dan Gonzalo Higuain, lalu hilang konsenstrasi, hingga Mattia Caldara dan Bryan Cristante memanfaatkan kelengahan itu untuk menyamakan kedudukan. Atalanta yang masih berkutat di papan tengah klasemen Serie A mampu melakukan comeback dan mengakhiri laga dengan skor 2-2.

Massimiliano Allegri, pelatih Juventus yang paling mengenal betul timnya, menjadi orang pertama yang mengetahui akan ketidakwajaran yang sedang dialami Juventus.

"Kami sudah diperingatkan saat melawan Torino, Sassuolo, dan Atalanta. Konsentrasi kami menurun dan kami harus menerima konsekuensinya. Di antara laga di Bergamo (Atalanta) dan hari ini (melawan Lazio), kami kehilangan lima poin dan belum menyadari, untuk memenangi Scudetto (titel Serie A) Anda harus bertarung setiap harinya," ucap Allegri.

Satu hasil imbang dan kekalahan tersebut boleh jadi hal yang wajar jika itu terjadi di Premier League, liga terketat dunia di mana semua tim bisa saling mengalahkan. Namun untuk Juventus, hasil-hasil tersebut sudah memunculkan pertanyaan, "Ada apa dengan Juventus?"

Permasalahan bisa jadi dimiliki Juventus. Tapi, tak menutup kemungkinan juga jika rival-rival Juventus di Serie A memang telah berkembang pesat untuk mengakhiri dominasi mereka yang sudah meraih enam Scudetto beruntun.