Dualisme Klub-Klub Indonesia

Apa itu dualisme? Dan siapa saja klub yang memiliki masalah dualisme ini? Gerry Putra dari FourFourTwo Indonesia menjelaskannya dalam artikel ini...

Persebaya Surabaya

Dualisme Persebaya Surabaya secara kronologis terjadi ketika klub tersebut mengalami degradasi ke Divisi Utama Liga Indonesia musim 2010/2011. Proses degradasi Persebaya kala itu memang karena ‘perlawanan’ kepada PSSI era Nurdin Halid yang dinilai mereka tak adil.

Lahirnya Persebaya 1927 merupakan bentuk kekecewaan terhadap kebijakan PSSI. Mereka memilih untuk bermain di kompetisi tandingan, bernama Indonesia Primer League (IPL). Persebaya 1927 tidak sendiri, karena Persema Malang dan Persibo Bojonegoro juga mengikuti langkah Bajul Ijo keluar dari PSSI.

Demi menyelamatkan sejarah Persebaya, muncul politisi Wisnu Wardana yang nantinya meneruskan sepak terjang Baju Ijo di PSSI di Divisi Utama. Ia menjadi Ketua Umum Persebaya Divisi Utama dengan mengambil para pemain dari Persikubar yang memang sedang pailit.

Akhirnya terjadilah dualisme Persebaya, yakni Persebaya 1927 dan Persebaya DU (Divisi Utama). Bonek pun terpecah, namun kelompok suporter yang terkenal dengan militansinya itu condong mendukung Persebaya 1927 yang memang banyak didukung oleh klub internal Persebaya.

Dualisme ini pun memakan waktu panjang. Namun, lambat laun, dualisme ini berakhir seiring dengan kemenangan Persebaya 1927 di pengadilan atas Persebaya DU. Pergantian nama pun dilakukan Persebaya DU menjadi Bonek FC Surabaya. Tapi setelah dibeli saham oleh Kepolisian RI, namanya kembali berubah Bhayangkara FC.

Persebaya 1927 pun kembali menjadi Persebaya. Perjuangan Bonek untuk mengakui kembali Persebaya berbuah hasil. Berbekal sebagai klub legendaris Indonesia, PSSI pun akhirnya memutihkan status Persebaya. Dualisme yang menguras pikiran dan energi ini pun berakhir.

Pages