Jadikan Kepahlawanan Ricko Andrean Sebagai Landasan Perdamaian Suporter Indonesia

Mari kita sudahi kekerasan di sepakbola Indonesia. Dimulai dari lingkungan terkecil, dimulai dari diri sendiri.

Dalam beberapa dekade terakhir, sepakbola Indonesia nyaris selalu bertungkus-lumus dengan problematika baik di dalam maupun di luar lapangan. Sebagai penonton biasa pun, membayangkannya saja sudah enggan. Entah bagaimana perasaan mendiang Soeratin jika ia tahu kecarut-marutan ini.

Sepanjang masalah terus tak terselesaikan, maka sepanjang itu jugalah senyum dari mendiang Soeratin mungkin takkan pernah melebar. Wajah masam dan kecutlah yang mungkin beliau tampilkan dari alam sana karena warisannya terlihat berantakan. Ia tak mampu berbuat banyak lagi utuk membereskan peninggalannya tersebut.

Salah satu penyebab wajah masam Soeratin, selain masalah borok organisasi PSSI yang sudah bukan menjadi rahasia lagi oleh kita semua, adalah masalah pertikaian antar suporter. Padahal, saat pertama beliau membangun PSSI pada tahun 1930 lalu bertujuan untuk menyatukan para penduduk pribumi tertutama para pemuda dengan menggunakan media yang bernama olahraga sepakraga.

BACA JUGA: Sekelumit Kisah Soeratin, Pendiri PSSI yang Mengorbankan Hartanya Demi Sepakbola

Kini, bayangkan saja, tercatat sudah 59 suporter yang meregang nyawa akibat sepakbola. Jumlah ini merujuk pada catatan litbang Save Our Soccer, yang menyebutkan Ricko Andrean sebagai korban jiwa ke-56 di sepakbola Indonesia, ditambah lagi dengan tiga Bonek yang tewas karena kecelakaan. Memang seluruhnya bukan dikarenakan pertikaian dan kekerasan saja. Ada juga yang disebabkan karena kecelakaan lalu lintas dan lainnya.

Mengutip sebagian dari laman Goal, rincian korban-korban tersebut antara lain; mereka yang terinjak ada enam orang, kecelakaan kendaraan ada 11 orang, korban pengeroyokan ada 17 orang, pukulan benda keras sebanyak 11 orang, tusukan benda tajam ada 12 orang, serta korban gas air mata dan penembakan sama-sama memiliki korban satu orang.

Kerusuhan di pertandingan Persija vs Sriwijaya tahun lalu adalah salah satu yang terbesar dalam beberapa tahun terakhir

Jelas ini hal yang harus diperhatikan dengan langkah konkret, bukan hanya wacana yang berlarut-larut semata. Karena bagaimanapun ke-59 orang tersebut menonton sepakbola untuk mencari kesenangan, bukan untuk mengantar nyawa mereka.

Jika hal-hal seperti kecelakaan lalu lintas/kendaraan adalah hal yang diluar kehendak federasi, maka hal yang harus dibenahi dari beberapa kondisi tewasnya suporter di atas adalah masalah pertikaian dan kekerasan antar suporter sepakbola Indonesia.

Saat sang pendiri PSSI menjabat di eranya, konsep sepakbola kebangsaan, stridij program, steden toernoor dan konsep-konsep lainnya dicetuskan sebagai salah satu realisasi keinginan para pendiri organisasi sepakbola saat itu. Perjuangan dan kompetisi diharapkan menjadi pemersatu dan perekat ikatan pemuda di berbagai daerah Nusantara.

Pemersatu dan perekat, bukan sebagai pemecah belah bangsa.