Era Baru dimulai: Guardiola, Conte, dan 8 Manajer Asing Terbaru Lainnya di Sepakbola Tertinggi Inggris

Dengan Arsene Wenger akan merayakan 20 tahunnya sebagai manajer Arsenal pada Kamis kemarin, FFT memutuskan untuk mengenang setiap manajer asing yang pernah melatih di sepakbola level tertinggi di Inggris – semuanya. Dan inilah 10 manajer asing yang baru-baru ini datang ke Premier League...

41. Quique Sanchez Flores (Watford)

  • 5 Juni 2015 hingga 16 Juni 2016

Dua striker tangguh mereka, Odion Ighalo dan Troy Deeney, juga membantu The Hornets ke semifinal Piala FA, tapi mereka merosot ke papan bawah setelah Natal, memenangi empat laga dan kalah 12 kali dari 21 laga liga

Mempekerjakan lima manajer dalam 12 bulan biasanya bukan formula untuk sukses, tetapi Anda tidak bisa membantah hasil yang dicapai Watford. Kombinasi Giuseppe Sannino, Oscar Garcia, Billy McKinlay, dan Slaviša Jokanović membawa The Orns promosi ke Premier League, dan ketika Jokanovic tidak setuju dengan kontrak yang disodorkan padanya, keluarga Pozzo yang menjadi pemilik klub ini berpaling ke Flores.

Pria asli Spanyol – anak dari pemain Real Madrid dan musikus flamenco (musik khas Spanyol yang diiringi nyanyian dan tarian), anak baptis dari Alfredo Di Stefano – ini memiliki latar belakang yang bagus  dengan beberapa klub papan tengah Spanyol, termasuk gelar juara Europa League dengan Atletico Madrid pada tahun 2010. Meskipun pada empat pertandingan pertama Premier League ia hanya menghasilkan dua gol dan tiga poin, pasukannya tiba-tiba menemukan performa terbaik mereka, memenangkan delapan dari 14 laga berikutnya untuk berada di peringkat ketujuh pada periode Natal.

Quique Sanchez Flores

Flores membawa Watford ke semifinal Piala FA dan bertahan di Premier League

Jika bukan karena kisah luar biasa Leicester City yang menjadi juara, Watford akan menjadi kisah terbaik musim itu. Dua striker tangguh mereka, Odion Ighalo dan Troy Deeney,  juga membantu The Hornets ke semifinal Piala FA, tapi mereka merosot ke papan bawah setelah Natal, memenangi empat laga dan kalah 12 kali dari 21 laga liga terakhir mereka untuk finis di posisi yang aman, namun cukup mengecewakan, di peringkat 13. Mengumumkan perpisahan atas kesepakatan bersama sebelum pertandingan terakhir, Flores mengatakan "Saya menyukai Premier League, itu telah menjadi pengalaman yang luar biasa, tapi dalam sepakbola Anda tidak pernah tahu apa yang terjadi berikutnya." Ia kemudian melatih Espanyol.

42. Slaven Bilic (West Ham)

  • 9 Juni hingga saat ini

Ia bertahan dengan tim nasional Kroasia hingga 2012, dan kemudian menikmati beberapa pengalaman mengejutkan bersama Lokomotiv Moskwa dan Besiktas sebelum menggantikan Sam Allardyce di Upton Park

Satu-satunya kejutan tentang kedatangan Slaven Bilic sebagai manajer Premier League adalah ternyata butuh waktu lama. Masih elegan di luar lapangan seperti saat ia masih aktif bermain, pria Kroasia yang berkelas ini telah lama diperkirakan akan kembali ke negara di mana ia pernah bermain bersama West Ham dan Everton; melatih tim nasional negaranya pada usia 38 tahun, ia menggagalkan rencana Steve McClaren untuk membawa Inggris lolos ke Euro 2008.

Ia segera dikaitkan dengan West Ham (namun mereka malah memilih Gianfranco Zola), namun bertahan dengan tim nasional Kroasia hingga 2012, dan kemudian menikmati beberapa pengalaman mengejutkan bersama Lokomotiv Moskwa dan Besiktas sebelum menggantikan Sam Allardyce di Upton Park. Menjalani pemanasan dengan laga pra-kualifikasi Europa League yang dimulai pada 2 Juli, The Hammers mengawali musim Premier League dengan kemenangan 2-0 di markas Arsenal, salah satu dari enam kemenangan yang mereka raih dalam 10 pertandingan pembuka liga.

Meskipun sempat goyah sebelum Natal, permainan menyerang yang cerdik yang diterapkan Bilic berhasil membuat mereka memenangi tujuh dari 11 pertandingan dalam periode pasca Natal dan membuat munculnya harapan untuk tampil di kualifikasi Liga Champions di musim terakhir mereka di Boleyn Ground. Pada akhirnya, meskipun meraih poin dan posisi terbaik mereka di era Premier League sejak tahun 1999, dua kekalahan dalam tiga pertandingan terakhir membuat mereka hanya finis di peringkat ketujuh dan bermain di Europa League lagi - tapi dengan manajer cerdas dan Stadion Olympic yang baru, masa depan yang cerah menanti di London timur.

Pages