Eric Cantona: Tetapi saya tidak menendangnya dengan keras. Saya harusnya lebih keras lagi menendangnya

Legenda Manchester United mengeluarkan ceritanya dibalik kepindahannya dari Leeds United ke Manchester United, karir aktingnya dan kejadian malam itu di Selhurst...

Putih dan briliannya daerah urban Marseille yang menjadi pemandangan disana, sangat kontras dengan langit mediterania. Di tengah kota pelabuhan itu, ribuan orang datang ke jalan untuk memperingati Hari Bastille, udara kala itu bercampur dari sulfur yang keluar dari kembang api dan hawa laut yang asin.

Marseille sangat berterima kasih kepada laut, sedangkan fans Manchester United, bergantung kepada Eric Daniel Pierre Cantona, yang telah mengatakan kepada FourFourTwo untuk berada dirumahnya pada hari Senin atau Selasa. Menapaki jejak kakek Cantona yang dipaksa keluar dari Franco, Spanyol, dimana kita harus mengemudi sejauh 300 miles dari Barcelona, melewati kota-kota yang pernah menjadi mantan klub Cantona seperti, Montpellier, Nimes dan Martigues, kami sampai dengan rasa lelah tetapi damai dan sedikit khawatir. Cantona adalah pahlawan dari semua orang (khususnya fans sepakbola di tahun 90an) dan ditambah juga dengan kebijaksanaannya yang tradisional membuat dirimu sepertinya segan untuk mewawancarai legenda ini.

Kami di instruksikan untuk segera datang ke sebuah hotel yang berada di antara toko-toko diskon di sepanjang jalan. Beberapa anak muda mengenakan jersey Olympique Marseille melempar untuk mengintimidasi pejalan kaki.

Keluarga Cantona telah membantu membawa FIFA Beach Soccer World Cup ke Marseille dan ajang besar itu akan dimulai dalam waktu dua hari lagi. Reklame iklan dari turnamen itu menyebar di seluruh kota terbesar ketiga Perancis itu, sedangkan terlihat beberapa pemain dari tim nasional Argentina dan Jepang memakai tracksuit negara mereka berjalan di jalanan kota, menaiki trem dan menikmati menjadi sorotan publik karena tracksuit yang mereka kenakan (walaupun tidak ada yang mengenal mereka).

Cantona datang mengenakan baju Perancis dan dengan jenggot berwarna abu-abu yang ada di dagunya. Dia tinggi, besar dan mengagumkan dari yang pernah kalian bayangkan. Alis mata cokelatnya sangat dahsyat, begitu juga dengan mata gelapnya yang sangat tidak terduga. Dia seperti sedikit terganggu, dijaga dan waspada ketika berada di kumpulan orang-orang asing di sekelilingnya.

Sayangnya, saat kami memberikan berita kematian dari Norman Davies, mantan kitman Manchester United yang mengawalnya ke lorong Selhurst Park setelah insiden tendangan kung-funya di 1995. Banyak dari rekan-rekan tim Cantona yang datang ke pemakamannya seminggu sebelumnya. "Tidak, tidak, tidak, tidak," itu yang bisa dia katakan.

Kami diberitahu kalau hanya memiliki waktu 10 menit dengan Cantona, jauh dari yang sebelumnya di janjikan. Sebagai manajer dari tim nasional sepakbola pantai Perancis, Cantona sangat sibuk. Tetapi 10 menit sangatlah tidak cukup, jadi kami sebenarnya tidak terlalu senang.

"Besok pagi," dia setuju. "Kita bertemu besok ketia saya memiliki waktu lebih banyak. Jam sembilan pagi di hotel."

Besok paginya, Cantona datang tepat waktu, sibuk tetapi lebih santai, walaupun ada beberapa pertanyaan yang tidak prediksi membuat tensi berbeda yang didapatkan terasa jelas. Dia berada selama lebih dari satu jam, menjawab pertanyaan yang kami dapat dari para pembaca, senyum, ketawa, cemberut dan berpikir. Dia sudah pasti adalah salah satu pahlawan yang akan kita wawancara di masa yang akan datang.

Apa yang Anda ingat dari kenangan tumbuh besar di Marseille? Apakah Anda adalah seorang anak kecil yang bahagia atau selalu cembetut? - Steven Price, Ashton-on-Mersey

Saya adalah anak yang bahagia, Saya memiliki hubungan keluarga yang kuat dan dekat, dimana hal itu memberikan kamu pelajaran yang berguna. Keluarga saya adalah kelas pekerja dan sangat menghargai hal terkecil apapun di kehidupan kami. Kami juga sangat sopan dan selalu mengatakan "mohon untuk dan terima kasih". Kita sangat menghargai satu sama lain dan menikmati hidup. Kami bernyanyi, tersenyum dan mencintai satu sama lain. Kami adalah imigran, orang mediterania. Ayah saya datang dari Italia dan Ibu saya dari Barcelona.

Saya ada disana ketika saya masih kecil untuk bertemu dengan kakek saya. Saat itu saya berumur 10 tahun dan sangat menyukainya. Dia datang ke Perancis setelah perang saudara di Spanyol. Dia tidak dapat kembali kesana selama 15 tahun saat dibawah rezim Franco. Saat saya keluar dari Manchester, saya tinggal di Barcelona selama tiga tahun, untuk menghidupkan kembali dan mengenang masa kecil saya disana. Untuk membaca dan hidup. Saya menyukai Barcelona. (FFT menyela dengan memberikan pertanyaan: apakah Anda membaca Homage to Catalonia yang ditulis oleh George Orwell?) Tidak, belum pernah, tetapi saya mau membacanya. Bisakah kalian mengirimkan buku itu kepada saya? Sekarang saya tinggal di Marseille, sebuah kota sepakbola dimana OM (Olympique Marseille, salah satu mantan klub Cantona) seperti agama disini. Kota ini sangat kosmpolitan, memiliki hasrat yang tinggi dan orang-orang hidup untuk sepakbola.

Siapa yang lebih gila: Anda atau Guy Roux? Dan apa kenangan favorit Anda tentangnya? - Tommy Rogers, Essex 

Saya meninggalkan keluarga saya di Marseille untuk pindah sejauh 600 km ke Auxerre. Saat itu saya masih berusia 15 tahun. Bagi kami, para pemain muda, Guy Roux seperti seorang Ayah. Saya menyukainya dan menghargainya. Di beberapa klub, tidak semua pelatih dekat dengan para pemainnya, tetapi Guy Roux membuat dan memastikan bahwa Auxerre adalah sebuah keluarga besar. Mungkin kalau saya pindah ke klub lain saya akan kesulitan, tetapi di Auxerre saya menemukan keluarga baru.

Apa yang memotivasi Anda sebagai seorang pemain? Uang? Kesuksesan? Kejayaan? - Michael Clarke, Huddersfield

Sukses dan kejayaan, apa bedanya? (terdiam lumayan lama). Saya rasa, saya pensiun di umur yang muda karena saya ingin berkembang setiap saat, untuk menjadi pemain yang lebih baik, bagi saya dan juga tim saya. Untuk memenangkan gelar. Untuk mendapatkan perasaan berkembang. Ketika saya pensiun, saat itu saya merasa tidak bisa berkembang lagi. Dan saya kehilangan semangat saya pada saat yang bersamaan. Semangat datang bersamaan dengan motivasi untuk berkembang, apabila Anda kehilangan semangat, maka Anda juga akan kehilangan motivasi itu sendiri.

Uang? Tidak. Jika seseorang menyuruh Anda untuk membayar sebesar £100 untuk bermain di final Piala FA, apakah Anda mau membayar atau tidak? Jadi, itu adalah impian bagi saya untuk bermain, karena saya tidak harus membayar. Kami memang dibayar, tetapi saya tidak mau dibayar untuk sesuatu yang tidak ada. Ada banyak sekali uang yang terlibat di sepakbola dan para pemain mendapatkan jatahnya sendiri, dimana itu adalah hal yang normal. Tetapi uang bukanlah motivasi dasar dari semua itu, adalah mimpi yang menjadi dasarnya. Atmosfir pertandingan adalah sesuatu yang sangat spesial bagi para pemain, karena kami bisa merasakan bahwa para pendukung berkorban untuk berada di dalam stadion. Kami bisa merasakan bahwa sepakbola ada didalam darah pada pendukung.

Pages