Eropa Menjadi Tujuan Zhang Linpeng Berikutnya

Peter Davis berbicara mengenai salah satu prospek cerah dari Cina, pemain belakang Guangzhou Evergrande, Zhang Linpeng tentang kedewasaannya dan kemungkinan dirinya bermain di Eropa...

Di usianya yang ke 25 tahun, Zhang Linpeng berhasil buktikan kemampuan terbaik. Bagian penting dari peserta Liga Champions Asia, Chinese Super League dan juga tim nasional Cina. Disebut salah satu mantan pelatih Evergrande, Marcello Lippi sebagai “Pemain terbaik di liga Cina”, ia sukses membangun reputasi sampai tim sekelas Inter Milan tertarik kepadanya.

“Saya berharap kesempatan seperti itu akan datang,” katanya merespon dari pertanyaan FFT mengenai ketertarikan Inter.

Pasti ada rasa keraguan bagi semua pemain Cina ketika mendengar main di luar negeri dikarenakan banyak sekali dari mereka yang gagal sukses akhir-akhir ini. Termasuk musuh bebuyutan Zhang musim lalu, Zhang Xizhe. Tampil beringas di lini depan bersama Beijing Guoan, dia lalu memilih Vfl Wolfsburg sebagai tempat berikutnya dan hasilnya? dia tak satupun turun di Bundesliga.

Zhang Linpeng menjalani karir dari bawah bersama tim nasional junior. dan kini menikmati proses panjang dengan mendapatkan berbagai trofi seperti AFC Champions League, empat kali kampiun Chinese Super League dan East Asian Football Championship bersama negaranya. Sekarang menjadi bertambah karena masuk daftar FFT Asia top 50.

“Ini merupakan hasil proses panjang yang saya jalani khususnya belakangan ini. Dengan masuk daftar ini bisa jadi lecutan bagi saya untuk main semakin baik di masa mendatang,” katanya.

Menuju partai ke 200nya, Zhang Linpeng semakin dewasa dalam bermain bahkan banyak yang membandingkan dirinya dengan pemain belakang Real Madrid dan Spanyol, Sergio Ramos. Bukan saja canggih bertahan namun mampu mencetak gol.

Guangzhou Evergrande telah menjelma menjadi kekuatan sepak bola Cina. Beberapa faktor membantu hal tersebut terjadi seperti datangnya manager handal seperti Marcello Lippi dan pemain-pemain handal dari dalam serta luar negeri. Lemari piala kini penuh sesak lantaran banyak piala disana. Legenda Italia, Fabio Cannavaro kini meneruskan pekerjaan Lippi, jadi kesempatan bagi Linpeng untuk belajar langsung dari pemain terbaik pada masanya.

“Lippi mengajarkan banyak hal tak hanya di lapangan tapi juga dalam hal makna hidup. Dia membantu membuat saya dewasa dan lebih kuat sebagai pemain. Keinginan untuk menang begitu besar dan dalam, hal tersebut tertanam dalam diri saya dan semakin mirip dengan dirinya,” katanya.

Musim ini bagi Guangzhou Evergrande lebih ketat dari sebelumnya. Awal kurang baik berdasarkan standar mereka membuat mereka kini ada di posisi dua di belakang tim asuhan Sven-Goran Eriksson, Shanghai SIPG. Kehilangan poin saat bertemu Changcun Yatai kemudian Henan Jianye, termasuk di Liga Champions Asia dari klub Jepang, Kashima Antlers.

Bagi si perfeksionis Zhang Linpeng, empat kali juara CSL terakhir harus tetap berkembang lebih baik dari sebelumnya.

“Saya tidak terlalu senang (dengan awal musim ini),” kata Linpeng

“Sebagai tim kami sudah beberapa kali menemui hambatan, khususnya di lini belakang. Tapi pelatih (Cannavaro) sudah memberikan tips agar masalah tersebut hilang dan kini perlahan telah kembali normal,” katanya.

Menjadi nomor dua bukanlah hal yang harus menjadikan kami panik. Guangzhou Evergrande masih punya beberapa kesempatan termasuk di pertengahan bulan ini menghadapi Sven dengan SIPG. Akan tetapi bagi Zhang Linpeng kesempatan membela tim Eropa bisa membuat ia kehilangan momen untuk menjadi juara kembali.

Sepertinya kita tinggal menunggu pemain Cina mana lagi yang bisa mendobrak Eropa, Zhang Linpeng jadi pemain yang paling memungkinkan untuk membuat hal itu terjadi.

Simak yang lain di #FFTAsia50

FourFourTwo 50 Pesepakbola Asia Terbaik bekerjasama dengan Samsung SportsFlow - memberikan Anda liputan olahraga terlengkap dalam satu aplikasi. Unduh dan temukan lebih banyak lagi di www.sportsflow.me