Evan Dimas: Poros dan Nyawa dari Permainan Indonesia di SEA Games 2017

Dia adalah pemain yang sudah dipercaya banyak kalangan akan menjadi jenderal lapangan tengah Indonesia di masa depan sejak masih remaja...

Menjelang Piala AFF 2016 lalu bergulir, pembicaraan mengenai Evan Dimas dan peran besar yang mungkin akan ia emban di lini tengah tim nasional Indonesia mencuat. Apa boleh buat, hal ini tidak bisa dihindarkan; Evan adalah pemain muda paling menjanjikan yang dimiliki tim nasional Indonesia sejak Boaz Solossa, dan Indonesia sudah ditinggal gelandang top yang memiliki pengaruh besar seperti Firman Utina.

Praktis, hanya Evan yang diharapkan bisa meneruskan jejak Firman. Bagaimanapun, publik sepakbola Indonesia masih belum bisa melupakan heroisme tim nasional U-19 di tahun 2013 lalu, ketika sanggup menjuarai Piala AFF dan mengalahkan Korea Selatan di babak penyisihan Piala Asia U-19. Hat-trick-nya di laga yang disebut terakhir tentu terus terpatri di benak para pecinta sepakbola.

Harapan memang membebani Evan Dimas dalam perjalanan kariernya selepas dua prestasi hebat itu. Entah apakah hal ini menahannya atau tidak, yang pasti Evan tak mengalami perkembangan yang terlampau pesat – tak seperti Chanathip Songkrasin, wonderkid Thailand yang kini bermain di Jepang. Trial-nya di Spanyol tak membuahkan kontrak profesional, sementara di kompetisi dalam negeri, Bhayangkara FC, klubnya, belum berhasil ia antarkan untuk merebut prestasi.

Meski begitu, menjelang Piala AFF 2016 lalu, Evan masih menjadi harapan bangsa. Apalagi, ia baru saja pulang dari belajar sepakbola di Spanyol bersama Espanyol B. Tentu tak sedikit yang berharap Evan bisa menampilkan permainan satu tingkat lebih tinggi daripada yang ia tunjukkan sebelumnya, dan memimpin timnas berprestasi.

Apa daya, tak seperti itu kenyataannya. Evan memang mendapatkan menit bermain, namun ia tak mampu tampil bagus dan justru tanpanya, Indonesia bisa bermain lebih baik dan melaju hingga ke final.

Singkatnya, Evan gagal memenuhi harapan yang dibebankan pada dirinya. Ia pun dipertanyakan. Apakah Evan tidak bisa berkembang lagi? Apakah potensinya memang hanya sampai di sini?

Permainan Evan masih tertutup oleh para seniornya seperti Bachdim, Boaz dan Andik

Pages