FFT 20 Under-20: Bintang Muda Multi Posisi Thailand yang Meroket Cepat

Penyerang muda Thailand, Supachai Chaided, memiliki loyalitas yang luar biasa kepada tim yang memberikannya peluang pertama menjadi pesepakbola profesional. Tetapi ketika klub terbesar di negaranya datang memintanya, apa yang harus ia lakukan?

Hanya 12 bulan yang lalu, bintang muda Thailand, Supachai Chaided, mengumumkan kesetiaannya pada Osotspa, klub profesional pertamanya.

"Saya ingin bertahan di Osotspa," kata Supachai kepada pemain veteran yang telah membela klub tersebut selama 10 tahun, Apipoo Sunthornpanawes.

a tak menyangka bahwa hidupnya, dalam waktu singkat, akan mengalami perubahan yang begitu drastis, baik di klub dan di level internasional

“Saya akan memengakhiri karier saya di sini. Saya ingin menjadi legenda di sini."

Itu adalah impian yang bisa dipahami dari seorang pemain muda, yang karier sepakbolanya baru saja dimulai dan hatinya benar-benar diberikan bagi klub pertamanya, klub yang mengubah namanya menjadi Super Power di pertengahan tahun lalu.

Ia tak menyangka bahwa hidupnya, dalam waktu singkat, akan mengalami perubahan yang begitu drastis, baik di klub dan di level internasional.

Dua tahun yang lalu, Suphachai meninggalkan kota kelahirannya, Pattani, yang berada di salah satu dari provinsi di selatan Thailand, untuk mengejar impiannya di sepakbola.

Super Power menjadi tim pertama yang memberikannya kesempatan, awalnya mengundangnya untuk bergabung dengan tim junior mereka.

Supachai mendapatkan kesempatan pertamanya bersama Osotspa

“Ketika saya bersama Sekolah Patumkongka, saya hanya berlatih dengan Osotspa di akhir pekan," jelas Supachai kepada FourFourTwo.

“Sejujurnya, saya jarang menyaksikan mereka. Saya dipilih untuk tim untuk turnamen Coke Cup, dengan para pemain yang dua tahun lebih tua dari saya."

"Saya menjalani percobaan untuk tim nasional U-19 di bawah pelatih Jun (Anurak Srigerd), tim yang kemudian akan bermain di Piala AFF 2015.

“Saya tidak tahu apa alasannya, tetapi saya diputuskan untuk dicoba di posisi gelandang bertahan. Pelatih menginginkan pemain yang telah berusia 19 tahun, jadi saya tidak lolos dalam tahap pertama itu. Tetapi kemudian ia menginginkan seorang penyerang lagi, jadi saya dipanggil untuk mengisi tempat terakhir di tim.”

Supachai tidak membiarkan kesempatan itu terbuang percuma.

Sebagai pemain termuda di tim, ia mencetak dua gol, dan membantu timnya memenangi turnamen tersebut.

Setelah kesuksesan itu, Super Power menambah kontrak Supachai empat tahun lagi, yang membuatnya menyebutkan niatannya untuk bertahan dengan klub ini di sepanjang hidupnya.

Setelah itu ia ditarik masuk ke skuat senior untuk musim 2016.

"Pelatih Toi (Sirisak Yodyadthai – eks pelatih tim junior Osotspa yang sekarang melatih Thai Honda) mendorong saya untuk bermain dengan tim utama di bawah asuhan pelatih Chai (Somchai Sabperm) sebelum musim 2016 dimulai," jelasnya.

Hanya sedikit orang yang bisa menahan diri ketika Buriram datang mengajak bergabung

“Pada hari pertama saya berlatih, pelatih Chai mengatakan pada saya, 'Nak, bekerja keras lah saat latihan. Saya senang mendukung pemain-pemain muda' dan hal itu membuat saya bersemangat. Ketika pelatih mengatakan hal itu kepada Anda, Anda akan termotivasi."

“Saat pra-musim, ‘Buzz’ (Apipoo Sunthornpanawes) mendapatkan cedera."

Kami tertinggal 2-1 ketika saya kehilangan bola di tengah lapangan dan kami kebobolan gol ketiga... saya mengacaukannya

“Pelatih Chai memilih saya untuk menggantikannya di lini tengah di laga persahabatan. Kemudian di laga pembuka Thai League melawan Bangkok Glass, ia memilih saya untuk bermain di posisi yang sama."

"Saya tidak berpikir saya akan bermain hari itu."

Tetapi ia salah, karena pelatih Chai memasukkannya di 14 menit terakhir pertandingan. Sayang segalanya tak berjalan sesuai rencana.

"Saya sangat gugup," kenang Supachai. "Kami tertinggal 2-1 ketika saya kehilangan bola di tengah lapangan dan kami kebobolan gol ketiga. Kami akhirnya kalah 3-1."

"Itu adalah laga pertama saya di Thai League dan saya mengacaukannya."

"Saya merasa buruk. Saya agak kehilangan kepercayaan diri. Tapi Buzz menemui saya ketika kami melakukan pendinginan pasca pertandingan dan mengatakan, 'Gol ketiga bukan kesalahan siapapun. Kamu bermain baik di laga pertamamu. Kamu akan semakin baik lagi'."

[Bagaimana ia bisa pulih dari pengalaman buruk itu? Temukan jawabannya di halaman selanjutnya]