50 Pemain Terbaik Asia 2017 versi FFT: Tiongkok Terus Berkuasa - Tapi Sampai Kapan?

Liga Super Tiongkok yang dipenuhi oleh pemain-pemain mahal kini menyumbangkan wakil yang sama banyaknya dengan negara-negara lainnya di daftar Asia 50 tahun ini. Tetapi peraturan baru di CSL bisa membuat tren ini hanya akan terjadi sekali saja alih-alih sebuah perubahan permanen di Asia...

Resmi sudah. Liga Super Tiongkok saat ini menjadi tujuan dari pemain-pemain bintang Asia, di mana enam pemain dari klub-klub di liga itu masuk daftar 50 pemain terbaik Asia versi FourFourTwo, menyamai jumlah perwakilan terbanyak dari Bundesliga musim lalu. 

Namun, ini hanya dugaan sementara, kesuksesan Liga super Tiongkok mungkin hanya akan menjadi kejutan satu musim saja layaknya ketika Leicester City menjadi juara Premier League Inggris.

Meningkatnya jumlah ini sebagian besar disebabkan oleh aturan kuota pemain Asia yang diperkenalkan di sebagian besar negara Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) pada dekade sebelumnya

Namun, pertama-tama kita akan membahas latar belakang tren ini. 

Bintang-bintang asing seperti Hulk, Oscar, Carlos Tevez, Alex Teixeira, Ramires, dan Paulinho, hanyalah beberapa nama yang telah pergi ke Middle Kingdom dalam beberapa tahun terakhir.

Kepindahan mereka serta nilai transfer mereka yang luar biasa pun menjadi berita utama di seluruh dunia. 

Di saat yang sama, semakin banyak bintang Asia yang juga pergi ke negara yang sana. 

Enam pemain Liga Super Tingkok yang berada di daftar 50 pemain terbaik Asia FFT membuat mereka mengirimkan dua perwakilan pemain lebih banyak ketimbang Inggris, Italia, Arab Saudi, dan Italia.

Hulk masih memegang rekor transfer CSL

Meningkatnya jumlah ini sebagian besar disebabkan oleh aturan kuota pemain Asia yang diperkenalkan di sebagian besar negara Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) pada dekade sebelumnya. 

Di Tiongkok, sebuah tim diizinkan untuk memiliki lima pemain asing dan salah satunya harus merupakan pemain dari negara anggota AFC. 

Pada awalnya, ini berarti peningkatan jumlah warga Korea Selatan, yang para pemainnya lebih sering menempuh karier di luar negeri ketimbang kebanyakan negara Asia lainnya.

Liga Super Tiongkok tidak hanya menjadi alternatif dari liga besar Eropa untuk bintang terkenal dunia, namun juga menjadi pilihan bagi pemain Asia

Kim Young-gwon adalah contoh untuk peraturan ini. Pemain Korea Selatan itu tidak pernah bermain dengan klub sepakbola di negaranya, bergabung dengan FC Tokyo di usia remaja pada tahun 2010. Dua tahun kemudian dia pindah ke Guangzhou Evergrande dengan nilai transfer sebesar $2,5 juta (S$ 3,48 juta), sekaligus menjadi perekrutan pemain pertama oleh pelatih baru Marcello Lippi.

Bek tengah itu telah memenangi lima gelar Liga Super Tiongkok, sama dengan jumlah musim yang ia mainkan di Stadion Tianhe. Dia juga telah memenangi dua trofi Liga Champions Asia, di bawah pelatih Italia itu pada 2013 dan kemudian Luiz Felipe Scolari dua tahun kemudian.

Hanya sedikit pemain Asia dengan pencapaian  seperti itu. Namun tanpa peraturan itu, tidak mungkin klub-klub kaya Tiongkok itu akan merekrut Kim, dan alih-alih mereka akan memilih pemain Amerika Selatan yang lebih glamor.

Bintang AFC lainnya menyusul. Nama terbesar adalah Tim Cahill, mantan bintang Everton yang tiba di Shanghai Shenhua pada tahun 2015.

Setelah awal musim yang lambat panas, pemain Australia menjadi pemain kesayangan dari barisan suporter klub yang penuh gairah. Dia mencetak gol dan memimpin tim ke final Piala FA. Dia kemudian secara tiba-tiba dan mengejutkan dijual pada awal musim 2016.

Apakah kuota pemain Asia berarti klub Tiongkok terlalu banyak menghamburkan uang untuk pemain Korea dan Australia  untuk mengisi kuota yang harus diisi, setidaknya sampai batas tertentu,  bagi pemain lokal bukan itu yang jadi masalah. 

Liga Super Tiongkok tidak hanya menjadi alternatif dari liga besar Eropa untuk bintang terkenal dunia, namun juga menjadi pilihan bagi pemain Asia.

Karier Cahill di Tiongkok sangat singkat

Whether the Asian quota meant Chinese teams were paying Koreans and Australians too much money to fill positions that could be filled, at least to a reasonable extent, by local players is not the point.

The Chinese Super League was not just becoming an alternative to the big leagues of Europe for world famous stars, it was becoming an option for Asian players too.

Pemain timnas Korea Selatan, Hong Jeong-ho, meninggalkan FC Augsburg, klub Jerman, untuk bergabung dengan Jiangsu Suning, sementara pemain timnas Australia, Robbie Kruse, juga meninggalkan Bundesliga dan pergi menuju Liaoning.

Seperti bagaimana para pemain Australia itu mengikuti jejak para pemain Korea, pemain-pemain Uzbekistan pun mengikuti pemain-pemain Australia. Anzur Ismailov, Igor Sergeev, dan Egor Krimets telah muncul di sana dan kemudian Odil Ahmedov bergabung ke Shanghai SIPG menjelang musim ini.

Kemudian ada juga bintang Suriah, Ahmad Al Salih, dan juga Javier Patino dari timnas Filipina.

Tiongkok telah menjadi negeri tujuan para pesepakbola top Asia. Nilai gaji bagus, tim-tim di sana terus semakin bagus, dan juga ada banyak pemberitaan menyoal di liga ini, yang sulit untuk ditemukan di negara lainnya di Asia.

Melihat tren ini, FourFourTwo memperkirakan jumlah wakil Chinese Super League di Asia 50 2017 nanti akan terus meningkat.

Yah, perkiraan awal sih seperti itu, sampai kemudian, berita mengejutkan datang.

Hanya beberapa pekan menjelang musim 2017 dimulai, Chinese Football Association mengubah aturan pemain asing dan menghilangkan kuota pemain Asia. Aturan ini tidak sepenuhnya dihapus, karena setidaknya satu aspek dari aturan baru ini masih bertahan.

Kruse menjalani karier yang singkat dan tak menyenangkan bersama Liaoning

Klub-klub CSL masih bisa merekrut lima pemain asing, dengan satu tempat masih diperuntukkan untuk pemain dari Asia, tetapi yang berbeda adalah kini mereka hanya bisa memainkan tiga pemain asing di line-up pertandingan.

Nah, yang paling krusial adalah tidak ada perlakuan khusus untuk para pemain Asia, jadi tiga dari lima pemain asing yang tersedia di skuat klub bisa dimainkan, termasuk pemain Asia.

Ini memberikan konsekuensi besar. Lihat Ahmedov. Ia tampil impresif di Liga Champions Asia, di mana aturan lama masih berlaku, tetapi ia hanya bermain dalam empat dari tujuh pertandingan liga.

Ini karena ketika sebuah klub sudah membayar sebesar $150 juta untuk pemain-pemain seperti Hulk, Oscar, dan Elkeson, dan jika mereka fit dan siap tampil, pemain-pemain itu akan lebih diutamakan untuk bermain ketimbang pemain-pemain dari Asia.

Ahmedov bermain lebih baik daripada pemain-pemain asing lainnya. Dua pemain asal Korea Selatan, Kim Kee-hee dan Jang Hyun-soo, yang menjadi bintang di musim lalu bagi Shanghai Shenhua dan Guangzhou R&F, bahkan belum bermain sekalipun musim ini.

Jang sepertinya pun akan pindah dalam waktu dekat, mungkin ke Timur Tengah atau kembali ke Jepang.

"Saya harus meninggalkan CSL demi mempertahankan tempat saya di tim nasional," katanya baru-baru ini.

Tianjin Quanjian merekrut Kwon Kyong-won dengan nilai $11 juta pada Januari lalu, tetapi gelandang ini baru bermain satu kali dari tujuh pertandingan pertama liga, jumlah yang sama dengan yang dicatatkan Kim Ju-young di Hebei dan satu lebih banyak daripada Krimets di Beijing.

Jika aturan ini terus berlaku, maka sepertinya kebanyakan bintang Asia ini akan pergi untuk mencari kesempatan bermain yang lebih luas, dan membuat status Tiongkok sebagai negeri sepakbola tujuan para bintang Asia pun akan hilang.