Analisa

FFT SEA Awards: Pemain Asing Terbaik ASEAN Bicara Soal Drama di Makassar dan Mengapa Ia Meninggalkan Bali

Sylvano Comvalius berhasil menjadi bintang dalam waktu sekejap di sepakbola Indonesia musim 2017 lalu, dengan secara luar biasa mencetak 37 gol dalam 34 pertandingan di Liga 1, membuatnya pindah dari Bali United ke klub Thailand, Suphanburi FC, dan penghargaan Pemain Asing Asia Tenggara Terbaik Tahun Ini. Ia berbicara kepada FourFourTwo soal perjalanannya yang panjang dan tidak biasa…

We are part of The Trust Project What is it?

Kepindahan Comvalius ke Thailand untuk musim 2018 ini adalah kepindahan kesekian kalinya dalam karier sepakbola yang panjang dan penuh petualangan dalam kehidupan penyerang berusia 30 tahun asal Belanda ini.

Thai Premier League akan menjadi destinasi kesepuluhnya sebagai pemain profesional, setelah sebelumnya ia pernah berkarier di Belanda, Malta, Skotlandia, Kuwait, Kazakhstan, Tiongkok, Jerman, Ukraina, dan Indonesia.  

I actually knew a lot about Indonesian football already. First of all, I knew the fans are really crazy

- Sylvano Comvalius

Dicintai oleh para pendukung di Bali karena efisiensinya di depan gawang, Comvalius enggan merasa puas dengan kesuksesannya di Bali dan memilih untuk mengambil tantangan baru di Thai League 1, yang dianggap sebagai kompetisi terbaik di Asia Tenggara.

Kepada FourFourTwo, ia mengaku bahwa ia menikmati kariernya di Asia dan mengaku tidak punya rencana untuk kembali ke Eropa dalam waktu dekat.

FFT: Terima kasih atas waktumu, Sylvano. Sebelumnya, kamu pernah bermain di Asia dua kali (Kuwait dan Tiongkok) dan kemudian kembali ke Eropa setelah dari sana. Apa alasanmu kembali ke Asia untuk ketiga kalinya?

SC: Saya memang sudah berencana untuk kembali ke Asia. Setelah saya bermain di Tiongkok (pada 2012), saya kembali ke Eropa untuk lebih dekat dengan keluarga saya, tetapi saya selalu punya mimpi untuk kembali ke benua ini. Saya hanya menunggu momen yang tepat.

Karena keadaan di Ukraina (bersama FC Stal Kamianski pada 2016/17), saya memutuskan untuk meninggalkan klub segera setelah saya mendapatkan kesempatan untuk pergi ke Bali, dan saya tahu itu akan jadi kepindahan yang bagus untuk saya dan saya sangat senang bisa kembali ke Asia.

Ini juga soal waktu dan situasi. Saya menyukai kultur Asia. Cara hidup di sini benar-benar berbeda dari Eropa. Di sini (di Asia), orang-orang lebih hidup sebagai sebuah keluarga dan senang menolong satu sama lain. Kehidupan jauh lebih simpel.

FFT: Bali United adalah pengalaman pertamamu tinggal di Asia Tenggara. Apa yang kamu ketahui soal sepakbola Indonesia sebelum kami tiba?

Playing in front of 25,000 fans was amazing because even in Europe there're not many fans like this in some matches

SC: Sebetulnya saya sudah tahu banyak soal sepakbola Indonesia. Pertama, saya tahu fans di sana sangat gila. Mereka pergi ke stadion – 30, 40, 50.000 orang, tak masalah.

Saya juga mengetahui soal Irfan Bachdim, yang bermain di Chonburi sebelum pergi ke Bali United. Jadi itulah hal pertama yang saya ingat ketika saya mendapatkan tawaran dari Bali.

Ketika saya pertama kali bicara dengan klub ini, saya bertanya banyak pada Irfan soal Bali, soal organisasi [klub], tentang kondisi negara saat ini karena ada banyak hal yang terjadi di sepakbola Indonesia. Jadi saya tahu cukup banyak sejak awal.

FFT: Bisakah kamu deskripsikan perbedaan di sepakbola Indonesia dari apa yang kamu ekspektasikan dengan apa yang akhirnya kamu rasakan langsung?

SC: Ekspektasi pertama saya soal sepakbola Indonesia adalah soal jumlah penontonnya yang banyak dan hal itu benar adanya.

Selain itu, pertandingan persahabatan pertama saya satu tahun yang lalu adalah saya terbang dengan tim ke Kedah. Di Eropa, kami biasa melakukan perjalanan dengan bus, tetapi di Indonesia tidak seperti itu dan bermain di hadapan 25.000 fans adalah hal luar biasa karena bahkan di Eropa, beberapa pertandingan tidak dipenuhi begitu banyak fans.

Hal itu mengonfirmasi apa yang saya bayangkan soal Indonesia.

We ended up with about 2,000 people on the field and we had to be escorted from the stadium with a military tank. It was crazy and a little scary

Juga ada aspek lain dan itu adalah soal bagaimana segalanya diorganisasikan. Sayangnya, hal itu saya sadari di akhir musim, bahwa segalanya agak tidak benar ketika federasi memutuskan untuk memberikan gelar juara kepada tim lain (Bhayangkara FC) karena regulasi yang aneh. Aturan diubah di saat-saat terakhir.

Itu sangat-sangat disayangkan karena hal itu mengonfirmasi bahwa sepakbola Indonesia masih sangat memerlukan perbaikan.

[SELANJUTNYA: Pertandingan di Makassar yang tak akan pernah terlupakan]