FFT Telling It Like It Is: Afshin Ghotbi, Buriram United

Dalam edisi terbaru seri ini, Afshin Ghotbi berbicara untuk yang pertama kalinya tentang masa kepemimpinannya di Buriram United, hubungannya dengan pemilik Newin Chidchob, dan alasan di balik pemecatannya

Sebagai seorang manajer dan pelatih kepala, saya telah mengalami banyak hal di seluruh dunia. Tetapi, tidak ada yang bisa memersiapkan saya untuk apa yang saya alami di Buriram.

Saya telah mengalami banyak hal di seluruh dunia. Tetapi, tidak ada yang bisa memersiapkan saya untuk apa yang saya alami di Buriram

Sebagian hal ini disebabkan oleh filosofi pemilik tentang bagaimana terlibat dalam operasi dari hari-ke-hari di segala level sebuah tim sepak bola.

Ada beberapa perbedaan filosofis tentang bagaimana sebuah tim seharusnya ditangani.

Saya mencintai para pemain Thailand dan mencintai orang-orang Thailand. Mereka memiliki semangat yang kuat dan baik. Para pemain sangat terbuka tentang keinginan mereka untuk berkembang dan saya yakin saya telah menciptakan koneksi dengan mereka dan para fans. Saya pikir saya telah membawa level profesionalisme yang tidak pernah mereka lihat sebelumnya dan saya tidak yakin mereka siap untuk hal tersebut.

Pemecatan saya tidak ada hubungannya dengan hasil pertandingan. Saya tidak di klub pada Mei itu dan melihat klub ditangani dengan buruk dari sisi sepak bola. Para pemain tidak bugar, tidak dalam kondisi tajam, dan tidak termotivasi.

Semua berawal karena mereka meraih begitu banyak kesuksesan tahun lalu. Mereka berbicara tentang menjadi lima tim terbaik di Asia.

Pemilik Buriram Newin Chidchob

Ghotbi punya perbedaan filosofis dengan pemilik klub, Newin Chidchob

Kemudian, Liga Champions Asia dimulai dan mereka kalah 6-0 dalam laga pertama melawan FC Seoul. Itu adalah sebuah realita dan berakhir dengan klub tidak memenangi satu pun pertandingan di ACL.

Ada beberapa pemain yang menderita cedera dan kemudian mereka kalah 3-0 di kandang dari Muangthong United, sesuatu yang tidak pernah terjadi sebelumnya.

Semua hal ini terjadi sebelum saya tiba.

Ketika saya datang, saya merasa ada sepercik antusiasme di sana dan para pemain meresponnya. Sayangnya, kami kehilangan kapten tim utama Suchao Nutnum karena cedera ACL. Ia adalah jiwa dari klub, salah satu pemain terbaik di Thailand, dan pemimpin tim.

Selama dua pekan, tidak ada jeda internasional dan kami kehilangan Ko Seul-ki asal Korea karena infeksi otot.

Penyakit tersebut sangat langka. Hanya pernah terdengar tiga kasus sebelumnya. Ia harus masuk ke ICU dan ada bahaya bahwa ia tidak akan bisa kembali berjalan.

Sebelumnya, ia adalah perebut bola utama di lini tengah kami.

Jadi, kami kehilangan pemain terbaik Thailand dan, mungkin dengan cederanya Diogo ketika itu, pemain terbaik asing kami juga menepi. Tidak ada yang dapat menggantikan mereka.