FFT Telling It Like It Is: Alex Weaver

Alex Weaver - S.League

Di edisi keempat seri baru kami, mantan pelatih Warriors FC, Alex Weaver, menuliskan ceritanya tentang kariernya di klub tersebut dan juga tentang bagaimana ia akhirnya harus pergi dari sana... 

Rasanya fantastis bisa memenangi gelar S. League bersama Warriors FC di tahun 2014.

Saya datang ke sana di musim sebelumnya dengan rencana-tiga-tahun untuk klub berkembang menjadi salah satu penantang gelar S. League dan kemudian turnamen AFC. Kami akhirnya bisa memenangi gelar liga lebih awal dari rencana, dan itu adalah hal yang bagus.

Saya sudah melihat banyak hal tentang Warriors sejak saya masih di Hougang. Saya melihat disfungsi di dalam tim yang sangat terlihat di mata semua orang yang memahami tentang kesatuan tim. Saya memiliki waktu satu minggu untuk mengamati situasi dan langsung melihat bahwa ada hubungan yang renggang antara pemain Jepang, pemain Kroasia, dan yang lainnya. Saya menutup celah-celah ini di sepanjang sisa musim dengan sebaik mungkin dan kemudian membawa pemain yang bisa membantu membuat mereka menjadi sebuah tim.

warriors_fc_-_s.league_-_2013_winners

Weaver membawa Warriors FC merebut gelar juara S.League pada 2014

Ini semua bukan hanya tentang kemampuan mereka, tapi juga soal bagaimana mereka bisa menyatu ke dalam skuat. Kevin McCann, Nico Velez – pemain-pemain ini datang dan berkontribusi sangat besar terhadap terbentuknya semangat tim yang kami miliki.

Proses membangun tim seringkali diabaikan. Budaya di Singapura lebih sering hanya melihat permukaannya saja. Banyak hal di sini yang hanya untuk pertunjukan belaka. Jika segalanya terlihat bagus dari luar, maka orang-orang tidak akan peduli dengan apa yang ada di dalamnya. Jadi sebenarnya adalah hal yang sangat penting untuk mendapatkan pemain-pemain yang tidak hanya berbakat, tapi juga tepat.

Kami membuktikan ini di tahun 2014. Saya sudah menyatakannya bahwa di atas kertas,  jika Anda hanya melihat dari kualitas pemain, ada Home United dan Tampines yang memiliki skuat yang hebat dan DPMM dengan para pemain asing mereka. Kami memiliki kebersamaan dan semangat. Di sanalah letak perbedaannya.

Mendatangkan pemain asing sangatlah penting, tapi Anda akan berpikir dari mana beberapa tim mendapatkan mereka – hanya dengan menimbang CV dan video-video pendek di YouTube? Sangat penting untuk bisa memiliki inti tim yang bagus bersama-sama.

Tapi ada masalah yang muncul menjelang akhir musim kesuksesan kami. Di bulan September atau Oktober 2014, kami sedang mengejar Brunei dan saya sudah mencoba berbicara dengan manajemen tentang musim selanjutnya. Begitulah cara saya bekerja. Saya suka mempersiapkan segalanya dan mempersiapkan sesuatu lebih dini. Saya menanyakan pada mereka mengenai kontrak saya kerena mereka hanya memberikan kontrak pendek selama 12 bulan yang konyol ini yang tidak memberikan rasa aman atau kemampuan untuk membuat rencana jangka panjang.

Pemain butuh tahu apakah saya akan bertahan, bukan karena ini Alex Weaver, tapi jika mereka tahu siapa pelatih kepalanya nanti, maka mereka akan tahu lebih banyak tentang rencana mereka sendiri. Saya memiliki nama-nama pemain yang ingin dipertahankan dan juga yang ingin saya datangkan ke klub.

Mencoba mendapatkan jawaban dari manajemen terbukti sulit. Kemudian semuanya bergantung pada AGM. Saya memberikan rencana skuat yang sudah saya siapkan. Saya mencoba untuk mendapatkan angka anggaran yang tersedia dan pada akhirnya berhasil mendapatkannya dan saya pun mempresentasikan ke manajemen tentang rencana skuat saya dan besaran gaji yang dibutuhkan setelah berbicara dengan beberapa pemain.

Pagi hari berikutnya, saya mendapatkan pesan yang menyebutkan bahwa mereka menyadari bahwa mereka tidak bisa mengeluarkan anggaran yang sudah disebutkan sebelumnya. Saya sudah menghabiskan satu minggu berbicara ke pemain, memberitahu mereka apa yang bisa kami tawarkan, dan saya harus kembali ke mereka seminggu kemudian untuk menyatakan bahwa kami tidak bisa melakukannya. Ini sama sekali tidak masuk akal dari sisi bisnis, apalagi dari sisi sepakbola, dan kami akhirnya kehilangan beberapa pemain.