FFT Telling It Like It Is: Issey Nakajima-Farran

Issey Nakajima-Farran menikmati sepakbolanya di Terengganu, tetapi pemain internasional Kanada ini juga mengetahui bahwa sedikit perubahan kecil bisa membantu The Turtles memperbaiki posisi mereka di Malaysia Super League. Dalam bagian kedua seri terbaru FourFourTwo, ‘Telling it like it is’, Issey mencurahkan pendapatnya dengan tulisannya sendiri…

Saya menyadari bahwa sebagai seorang pemain asing di Malaysia, dan sebagai seorang yang ceplas-ceplos, saya harus berhati-hati. Pemain seperti saya mudah digantikan.

Saya benar-benar ingin membuat klub ini lebih baik daripada saat ini. Saya melihat ada banyak potensi di sini

Tetapi saya tidak ingin menjadi seorang pemain asing yang hanya datang dan pergi. Saya ingin memberikan imbas (atas kehadiran saya) dan berbagi pengalaman saya untuk hal yang membangun. Saya ingin memberikan sisi terbaik dari sepakbola pada kota ini. Itulah niat saya.

Semua ini untuk kecintaan saya pada sepakbola, pada kota, dan pada orang-orang yang saya temui di sini.

Saya mendapatkan banyak pesan di media social. Biar saya perjelas – saya mencintai Terengganu dan saya benar-benar mencintai sepakbola di sini. Saya datang ke sini untuk memenangkan sesuatu. Saya melihat Terengganu sebagai sebuah proyek, bukan hanya sebuah tempat untuk bekerja.

Sebagaimana yang saya katakana di media social, saya kecewa melihat (mantan pelatih The Turtles) Mike (Mulvey) pergi. Saya tidak menyalahkan siapa-siapa, saya memberikan opini saya dalam bentuk yang saya pikir cukup bisa diterima. Sebagai seorang pemain asing, saya benar-benar ingin membuat klub ini lebih baik daripada saat ini. Saya melihat ada banyak potensi di sini dan klub ini hanya memerlukan tuntunan yang tepat.

Mike Mulvey, pelatih Terengganu

Issey kecewa melihat Mulvey meninggalkan The Turtles

Presiden dan para pemain pernah duduk bersama di awal tahun ini untuk membicarakan perbaikan yang perlu kami lakukan untuk membuat klub terus tumbuh, terkait fasilitas, yaitu dengan membuat lapangan latihan kami lebih bersifat milik kami pribadi – semua detail yang sama yang seharusnya dimiliki sebuah klub profesional.

Jadi saya benar-benar berpikir kami berjalan ke arah yang tepat, tetapi tidak ada satu pun hal itu yang terealisasi dan itu menjadi masalahnya.

Saya telah bermain untuk 13 tim sejauh ini dalam karier saya. Ketika seorang pemain asing datang ke sebuah negara yang baru, perlu dua, tiga, atau bahkan enam bulan untuk mengenal para pemain lain, gaya bermain, penentuan waktu yang tepat, dan pergerakan yang tepat. Perlu waktu untuk beradaptasi dan saya pikir hal yang sama juga berlaku pada pelatih.

Saya benar-benar berpikir bahwa kami berjalan ke arah yang benar dengan kedatangan Mike. Mike ingin pemain-pemain tertentu di skuatnya, ingin memperkenalkan referensi video, suplemen untuk tubuh, pencegahan cedera, dan banyak hal lainnya untuk meningkatkan level para pemain yang kami miliki dan juga meningkatkan kekuatan skuat dengan taktik-taktik tertentu. Inilah sepakbola modern yang sesungguhnya.

Ini tidak hanya soal mengatakan ‘kita harus memenangkan pertandingan hari ini’. Tetapi juga soal bagaimana ide-ide Anda bisa diterima di seluruh lapangan latihan.

Jika lapangannya tidak dalam standar yang bagus, atau tim-tim lokal lainnya menggunakannya juga, dan bola mengarah ke berbagai sasaran ketika Anda berusaha berlatih menendang, latihan Anda bisa berujung negatif dan Anda akan mulai frustasi. Inilah hal yang berusaha kami bicarakan ke semua orang.

(Selanjutnya Issey beropini soal latihan, mencari informasi lawan, dan fans)