FourFourTwo 50 Manajer Sepak Bola Terbaik Dunia 2015: 20-16

Dalam daftar 20 teratas ini, kami memilih pelatih asal Spanyol, pelatih Timnas yang cerdik dan pahlawan baru Belanda...

Penulis: Lee Roden, Alima Hotakie, Arthur Renard, Martin Mazur.

20) Marcelino (Villarreal)

Dengan hasil di liga, kejuaraan domestik dan Eropa, tidaklah cukup menggambarkannya, kesuksesannya dengan para talenta muda membuat dirinya cocok untuk Villarreal, yang sangat fokus dalam mencari lalu membina pemain muda penuh potensi untuk mencegah membayar harga transfer yang mahal

- Lee Roden, FFT

Dengan dua klub Spanyol menjadi juara kompetisi Eropa dan lima klub Spanyol menjadi peserta Champions League musim lalu, perhatian pastinya terarah ke pelatih-pelatih tim papan atas La Liga. Tapi, di luar tim papan atas masih ada pelatih berkualitas lainnya dan tidak ada seorang pun yang bisa seperti itu selain Marcelino Garcia Toral.

Menjadi pelatih Villarreal bisa seperti menjalankan tugas tanpa pamrih. Sistem ekonomi klub ini bergantung pada bagaimana mereka menemukan bakat tersembunyi, mengubahnya menjadi pemain matang dan kemudian memindahkan mereka ke klub lain, kadang-kadang di pertengahan musim. Itulah yang harus dihadapi Marcelino ketika ia kehilangan bek tengah Gabriel yang ke Arsenal pada Januari, namun ia segera merespon dengan memberikan hasil yang luar biasa melawan Real Madrid dan Valencia, serta lolos ke 16 besar Liga Europa (di mana timnya kurang beruntung karena bertemu dengan tim yang akhirnya menjadi juara, Sevilla).

Bagi Villarreal, Marcelino memberikan stabilitas dan konsistensi dengan pola permainan yang jelas yang juga sangat menghibur dengan aktif menyerang. Dia merupakan manajer terbaik Yellow Submarine sejak Manuel Pellegrini, dan lebih besar lagi, salah satu yang terbaik dalam sejarah klub. Mereka tidak akan menantikan waktu di mana mereka harus menggantikan dirinya saat ia pindah ke klub lain. LR

19) Oscar Tabarez (Timnas Uruguay)

Saya mengenalnya sejak 23 tahun yang lalu dan dia tidak berubah sama sekali. Setelah berkarir begitu lama di sepak bola, dia bukan lagi menjadi seorang guru tetapi dia adalah direktur. Tabarez akan memberitahu Anda kata-kata yang Anda butuhkan. Ketika pemain tensinya sedang 1000 rpm, dia sangat tenang dengan 40 rpm

- Rubén Sosa, mantan pemain Inter

Tabarez tidak disebut sebagai Maestro dan Profesor tanpa alasan. Mantan guru sekolah berusia 68 tahun ini menjadi ayah dari kebangkitan Uruguay di akhir 80-an, membawa Boca Junior meraih gelar pertama dalam 11 tahun, melatih di Serie A dan La Liga, kemudian kembali untuk melatih generasi emas Uruguay saat ini yang mencapai semifinal Piala Dunia dan memenangkan Copa America pada tahun 2011.

Ambisius dan seimbang, Tabarez  sangat berfokus pada sistem pengembangan pemain muda yang lebih baik untuk negaranya dan mengikuti sesi latihan tim muda Uruguay dari dekat. "Saya tidak berurusan dengan bintang. Bintang berada di langit. Saya memperlakukan seseoranh seperti manusia," jelasnya ketika ditanya tentang bagaimana ia menangani pemain-pemain seperti Suárez, Cavani, atau Forlán dan Lugano.

Tabarez adalah penggemar mantan pelatih Milan, Arrigo Sacchi, dengan empat pemain di belakang menjadi salah satu ciri khasnya. Tapi dia terbukti mampu beradaptasi dengan cepat tergantung dengan situasi pemainnya, memainkan formasi 4-3-3 ketika sebagian besar tim di Amerika Selatan masih memainkan 4-3-1-2, dan kemudian beralih ke 3-4- 3 jika dibutuhkan. Perilaku baik dan sikap disiplin selalu menjadi warisannya di Timnas Uruguay. MM

18) Phillip Cocu (PSV)

Phillip benar-benar menjadi orang kepercayaan pada pemain, Anda bisa berbicara apa saja dengan jujur kepadanya, dimana hal itu tidak akan Anda dapatkan dari pelatih lain. Sangatlah luar biasa bagaimana dirinya menganalisis pertandingan dan dia bekerja untuk membuat tim dan pemain lebih baik. Dia bisa menambahkan hal-hal di luar sepak bola

- Georginio Wijnaldum, PSV

Setelah karir yang sukses sebagai pemain, termasuk enam tahun di Barcelona, ​​Cocu menjadikan dirinya seorang manajer. Setelah belajar sebagai asisten tim nasional Belanda dan pelatih tim muda di akademi PSV, pria yang berusia 44 tahun ini menjadi pelatih kepala pada tahun 2013.

Tahun pertamanya begitu sulit dengan hasil yang mengecewakan - belum lagi kekhawatiran terhadap kondiis kesehatannya setelah dokter menemukan tumor jinak di tubuhnya - tapi pria asal Belanda ini tetap setia pada filosofi dan bangkit kembali di tahun keduanya dengan persaingan merebut gelar di Eredivisie, mengakhiri musim dengan unggul 17 poin dari Ajax.

Tantangannya sekarang adalah untuk membuktikan bahwa ia dapat melanjutkan kesuksesannya sebagai pelatih. Tahun depan dia akan memimpin PSV ke Liga Champions, meskipun ia harus melakukannya tanpa Memphis Depay yang hijrah ke Manchester United.

Cocu telah menyatakan bahwa ia akan menghormati kontraknya di PSV, yang berlaku sampai 2017. Mantan pemain Tim Nasional Belanda baru-baru ini menyebutkan bahwa ia bahkan dapat memperpanjang kontraknya, meskipun ia juga berbicara tentang ambisinya untuk meraih kesuksesan di kompetisi lain. Beberapa orang mengira bahwa ia ingin melatih Barcelona, namun pada kenyataannya dia baru saja memulai. Untuk saat ini, Camp Nou bisa menunggu. AR

17) Lucien Favre (Borussia M’Gladbach)

Favre adalah juru taktik yang baik dan skema taktik yang luar biasa, semua itu bisa digunakan di setiap timnya. Di bawah kepemimpinannya, banyak pemain yang berkembang secara signifikan dan saya mengambil keuntungan pemain mereka di tim nasional

- Joachim Löw

Favre adalah salah satu pelatih yang langsung terlihat hasil kerjanya. Setelah membantu Hertha Berlin menyingkirkan beban mereka, pelatih asal Swiss ini membantu Borussia Mönchengladbach menghindari degradasi ketika ia pertama kali mengambil alih jabatan manajer pada tahun 2011, dan sejak itu ia membawa mereka ke posisi tiga dengan pertahanan terbaik kedua di Bundesliga.

Tapi fleksibilitas dan kemampuan taktiknya yang adaptif-lah yang membuat pria berusia 57 tahun ini benar-benar menonjol. Tidak heran namanya pernah dikaitkan dengan Bayern, setelah kebangkitan besar Gladbach; membawa mereka ke posisi empat secara ajaib setelah memenangkan play-off degradasi semusim sebelumnya dan kemudian membentuk tim yang lebih solid yang mampu finish di posisi kedelapan dan keenam.

Favre tidak menghindar dari tantangan yang diberikan kepadanya dan kemampuannya untuk membangun kembali sebuah tim bukanlah sebuah rahasia. Dia kehilangan pemain berharga seperti Marco Reus, Dante dan Roman Neustadter, tapi itu tidak mempengaruhi rencananya - atau setidaknya tidak terlihat seperti itu.

Tim asuhan Favre mendapatkan tiket otomatis Liga Champions musim lalu, dengan taktik bervariasi yang mengajarkan pemain untuk merasa nyaman dalam sistem yang berbeda telah membantunya menang dari klub-klub papan atas Bundesliga. Seperti Pep Guardiola, Favre juga teliti dan rinci. Perbedaannya adalah ia lebih mengandalkan serangan balik dan memprioritaskan pertahanan. Tapi itu tidak berarti timnya tidak menyerang dan menekan - dan ketika mereka melakukannya, mereka melakukannya dengan kecepatan dan ketepatan. AH

16) Louis van Gaal (Man United)

Dia adalah pelatih yang memberikan banyak pelajaran kepada saya, walaupun dia juga menjadi satu-satunya orang yang selalu saya konfrontasi, ya.. karena perbedaan pendapat. Dia sangat terobsesi dengan etos kerja, bagaimana dia merencanakan semuanya. Mungkin saya lebih menyukai gaya yang sedikit lunak darinya

- Luis Enrique

Setelah memenangkan 12 trofi besar dengan klub-klub seperti Ajax, Barcelona dan Bayern Munich, Van Gaal berbicara dengan Liverpool tentang jabatan pelatih di Anfield pada tahun 2012. Rencana itu tidak terwujud, dan sebagai gantinya, beberapa bulan kemudian dia mengambil alih jabatan manajer Tim Nasional Belanda untuk kedua kalinya.

Pria berusia 63 tahun ini memimpin mereka ke final Piala Dunia dengan permainan meyakinkan dan mengutarakan bahwa ini mungkin menjadi pekerjaan terakhirnya sebagai pelatih kepala. Tapi, dia mengatakan, bahwa jika ada klub Premier League yang datang menawarkan sesuatu, ia akan mempertimbangkan kembali keputusannya itu. Setelah diminati oleh Tottenham, pelatih berpengalaman Belanda ini akhirnya didekati oleh United; prospek yang menarik bagi Van Gaal, yang tidak pernah bekerja di Inggris sebelumnya.

Setelah memimpin Belanda ke posisi tiga di Piala Dunia 2014, ia segera memulai pekerjaan barunya di Old Trafford, di mana ia memberikan hasil yang mengesankan selama masa pra musim. Tapi begitu musim Premier League dimulai, timnya menghadapi kesulitan meskipun sudah mengeluarkan uang sebesar 150 juta pound selama jendela transfer.

Tapi, timnya berhasil bangkit  pada paruh kedua musim ini, mengamankan posisi keempat dan mungkin bisa kembali berlaga di Liga Champions musim depan. Meskipun ekspektasi akan lebih tinggi lagi di musim baru, Van Gaal setidaknya disukai suporter United karena ia begitu terbuka menyatakan rasa cintanya untuk klub ini, terutama pidatonya dalam sebuah acara penghargaan klub yang terkenal itu. AR

#FFT50MANAGERS