FourFourTwo Preview Liga Primer Inggris 2015/16: Swansea

Bisakah the Swans melanjutkan kesuksesan musim lalu di musim penuh kedua Garry Monk dengan tambahan pemain baru dari Marseille, Andre Ayew?

Swansea memiliki tugas untuk melampaui pencapaian musim lalu. Peringkat tertinggi dalam sejarah mereka di Premier League meski kehilangan striker bintang mereka pada Januari pasti membuat kebanyakan fans merasa bahagia. Tetapi menurut salah satu jajak pendapat, 62% fans memimpikan bisa finis lebih tinggi daripada yang mereka lakukan musim lalu, yaitu posisi delapan besar. Manajer Garry Monk, yang mendapatkan kontrak baru pada musim panas lalu, langsung bergerak dengan menambah kekuatan di area-area yang tepat di skuatnya, sambil berusaha mengecilkan ekspektasi semua orang dengan mengatakan soal “musim terberat di Premier League karena adanya hak siar TV yang baru”. Hal yang sia-sia, karena semua orang tetap memasang ekspektasi atas mereka.

TRANSFER

MASUK

  • Eder (Braga)
  • Kristoffer Nordfeldt (Heerenveen)
  • Franck Tabanou (St Etienne)
  • Andre Ayew (Marseille)

KELUAR

  • Jazz Richards (Fulham)
  • Alan Tate (Dilepas)
  • Gerhard Tremmel (Dilepas)

Apa Yang Bisa Membuat Mereka Sukses

Swansea bergerak dengan cepat agar tak lama-lama merindukan Wilfried Bony, dengan merekrut Eder dari Braga sebagai pengganti. Dengan Bafetimbi Gomis mulai menemukan sentuhannya di akhir musim lalu – ia mencetak enam dalam 10 pertandingan – dan Gylfi Sigurdsson, Ki Sung-yueng, Jonjo Shelvey juga bisa memberikan sumbangsih dari lini tengah, mereka terlihat seperti bisa mendapatkan gol dari manapun. Tetapi jelas bahwa kisah terbesar mereka pada musim panas ini adalah perekrutan Andre Ayew. Bintang Ghana ini, yang hampir berada di puncak kariernya – dan bisa bermain sebagai pemain sayap maupun penyerang kedua – sebetulnya memiliki banyak pilihan klub setelah kontraknya bersama Marseille habis. Hal ini menunjukkan bagaimana tingginya Swansea telah menanjak dengan maunya sang pemain berpindah dari Cote d’Azur ke Wales Selatan. Belum lagi ancaman yang bisa diberikan dari kedua sisi lapangan oleh Jefferson Montero, Wayne Routledge, Marvin Emnes, dan Nathan Dyer.

Apa Yang Bisa Membuat Mereka Gagal

Monk does, indeed, have plenty of attacking talent at his disposal, but you don’t have to look far to find stats to suggest they need to be more clinical. For all their possession, no Premier League team spent less time in the opposition half of the pitch than Swansea last season (21%), while no one spent more time in the middle of it (48%). Further proof that they too often try to score the perfect goal comes in the form of their goals-from-set-pieces numbers; just eight last season, a Prem low (Newcastle apart). There’s also the question of whether Swansea can cope with increased expectations. While there are obviously areas in which they can improve, the same can be said of the teams around them. Stoke, Everton and West Ham, to name but three, will all expect to do better this season.

Pertanyaan Besar...

1) Apakah Mereka Terlalu Bergantung Kepada Ashley Williams?

Kapten Wales ini adalah salah satu pemain yang paling konsisten di Premier League, tetapi dengan Swansea lebih seperti tim yang sering menang 1-0 daripada kemenangan besar, apakah terlalu berlebihan untuk terus mengandalkan pemain yang hampir berusia 31 tahun ini – yang hanya absen dalam satu pertandingan liga musim lalu – untuk terus tampil habis-habisan? Kami rasa ya. Pemain-pemain yang lebih muda seperti Jordi Amat dan Kyle Bartley – yang mengalami masalah cedera musim lalu – perlu membuktikan bahwa mereka bisa mengisi posisi tersebut.

2) Bisakah Mereka Memanfaatkan Kesibukan Southampton di Eropa?

Faktanya, jarak Swansea dengan The Saints musim lalu cukup dekat, mereka hanya terpisah empat poin, tetapi dengan perbedaan selisih gol menccapai 24 gol. The Jacks akan berharap perjalanan Southampton di Europa League akan membantu mereka melampaui posisi tim asuhan Ronald Koeman ini di papan tengah liga.

3) Siapa Pemain Muda Berbakat Baru Dari Swansea?

Jika Monk ingin membawa timnya ke level yang selanjutnya, ia bisa melakukannya dengan salah satu pemain muda berbakat klub – baik itu yang dibeli saat mereka masih muda atau pemain yang mereka kembangkan sendiri – menjadi bintang besar yang bonafid. Gelandang Matt Grimes menjadi salah satu yang paling mungkin, setelah banyak dilibatkan di masa pra-musim.

Pemain Kunci: Lukasz Fabianski

Lukasz Fabianski

Diambil dari bangku cadangan Arsenal, pemain Polandia yang direkrut gratis ini menjadi bintang di musim pertamanya di Liberty Stadium, dengan membuat penyelamatan terbanyak dibanding kiper-kiper liga utama lainnya (137 penyelamatan) dan mendapatkan beberapa gelar pemain terbaik di pertandingan-pertandingan mereka, termasuk saat ia kembali ke Emirates. Michel Vorm, yang saat ini menjadi penghangat bangku cadangan di sisi lain London Utara, tak lagi dirindukan. Meski begitu, Fabianski tentu berharap ia tak terlalu sering diandalkan jasanya, dengan Swansea menjadi salah satu dari enam klub dengan jumlah menderita tendangan terbanyak (14,6 per pertandingan). Pemain timnas Swedia, Kristoffer Nordfeldt, telah diboyong dari Heerenveen sebagai cadangannya.

Apa Komentar Kami Tentang Mereka Pada Mei 2016

Musim ini selalu menjadi musim yang anti-klimaks bagi Swansea sejak jumlah pemain sayap di setiap skuat dibatasi hanya 10. Setelah dipaksa untuk memainkan bek kanan sejati – Kyle Naughton – di posisi denfensif mereka, filosofi penguasaan-bola-tak-peduli-apapun-yang-terjadi yang dianut Swansea berkurang setelah mereka menemukan bahwa peraturan melakukan umpan ke kiper diperkenalkan pada 1992. Perlu beberapa bulan untuk beradaptasi, mereka akhirnya finis di posisi ke-16.

Prediction

Untuk melihat prediksi FourFourTwo tentang Swansea City musim ini akan berakhir pada urutan berapa, bersama dengan dua halaman spesial preview, segera baca edisi terbaru spesial kami yang mengulas tuntas musim baru Liga Primer Inggris, yang akan terbit pada hari Sabtu, 1 Agustus.