Francesco Totti – Legenda Terhebat Roma yang Kurang Dihargai

Luis Enrique dan Montella memainkannya sebagai seorang trequartista, Garcia meminjam gaya Spalletti dan memainkannya sebagai false nine yang bergerak bebas, sementara Zeman, di era kepemimpinan keduanya di Giallorossi pada musim 2012/13, memainkan Totti yang saat itu berusia 36 tahun sebagai pemain sayap kiri. “Saya melihat pemain yang sama (seperti yang dulu),” kata perokok berat asal Ceska ini kepada FFT. “Hanya saja seperti ada beberapa paku di anklenya! Ia biasanya lebih suka melakukan assist, tetapi pelatih-pelatihnya telah memberitahunya bahwa untuk menjadi hebat, ia harus mencetak lebih banyak gol.”

“Ia menjadi lebih individualistis dan egois. Pelatih-pelatih lainnya telah meyakinkannya bahwa untuk membuat media lebih menghargainya, ia harus mencetak lebih banyak gol.”

Zeman benar. Media-media sekarang mengaguminya. Ketika harian olahraga berbasis di Milan, La Gazzetta dello Sport, melihat kembali penilaian-penilaian mereka untuk para pemain Serie A selama 20 tahun terakhir, tebak siapa yang memiliki rata-rata nilai tertinggi? Totti, tentu. Bahwa orang-orang Milan mengakui seorang Roma yang sebelumnya kurang dihargai menunjukkan statusnya di mata orang-orang seluruh Italia, meski hanya membela tim nasional Italia 58 kali.

Totti adalah Simbol Kami, Tetapi Ada Kalanya Dia Menghilang

Anda melakukan ciuman pertama Anda karena Anda melihat orang lain berciuman. Tapi gol itu… Anda pasti telah memimpikannya begitu lama

- Francesco Totti

Apresiasi seperti itu tak mudah untuk didapatkannya. Sebelumnya, Totti terlihat bukan apa-apa dan tak pantas menjadi perhatian dua kota sepakbola Italia yang lebih kaya dan lebih berkuasa di utara, Milan dan Turin. Terlalu emosional, terlalu kasar, terlalu… yah, terlalu Roma.

Emosi yang menggebu-gebu  itu masih bertahan di dalam dirinya. Ya, dia memang sering ditendang oleh lawan-lawannya, tetapi seringkali aksi balasannya menghasilkan kartu merah. Ia menyikut Martin Keown di Liga Champions 2002/03. Menendang Mario Balotelli di final Coppa Italia 2010. Meludahi Christian Poulsen dalam laga pembuka Italia di Euro 2004 melawan Denmark. Untuk insiden yang terakhir, Gazzetta bahkan sampai membicarakan hal itu dalam delapan halaman penuh, dengan penuh detail pula. Totti menjadi kambing hitam atas hasil imbang 0-0 yang diraih Azzurri saat itu.

Keyakinan dan aksennya yang kental – bahasa orang-orang Roma berbeda dengan standar Italia, layaknya bahasa slang kasar ala Cockney – terus muncul dalam wawancara Totti selama seperempat abad terakhir. Awalnya, sikapnya ini digunakan oleh media untuk menyerangnya.

Aksen bicaranya jelas tidak membantunya mendapatkan apresiasi yang lebih baik, tetapi Totti – yang memang tidak dikenal sebagai seorang tercerdas di sepakbola – tidak membantu dirinya sendiri memperbaiki reputasinya. Dalam satu kesempatan konferensi pers, seorang jurnalis bertanya sebuah pertanyaan dengan frase ‘carpe diem’ di dalamnya. Dan Totti menjawab, “Maaf, saya tidak bisa bahasa Inggris.” Ia juga mengakui bahwa The Little Prince adalah satu-satunya buku yang pernah ia selesaikan karena “saya duduk, membaca beberapa halaman pertama, lalu merasa lelah”.

“Saya harus membayar (mendapatkan ganjaran) karena menjadi seorang Roma,” katanya pada tahun 2002. “Mereka mengejek aksen saya, sikap saya, karena saya mengumpat. Mungkin mereka tidak suka ada pemain hebat di Roma. Kekuatan sepakbola tidak lagi hanya di utara, tetapi itulah yang selalu mereka bicarakan. Kami orang-orang Roma disebut kurang ajar, pemalas, blak-blakan, sensitif, gemuk. Rasisme adalah kata yang kuat – mungkin diskriminasi lebih tepat (untuk menyebut fenomena ini). Mereka bisa berpikir sesuka mereka. Saya terlahir sebagai seorang Roma dan saya akan mati sebagai seorang Roma. Saya tidak akan pernah meninggalkan tim ini atau kota saya. Saya tidak akan pernah memberikan mereka rasa puas (karena saya melakukannya) itu.”

Muak dengan berbagai ejekan terhadapnya, ia akhirnya melakukan sesuatu. Pada tahun itu, ia merilis sebuah buku lelucon yang berisi guyonan atau ejekan yang pernah ia dengan tentang dirinya sendiri. All the Jokes About Totti, Collected by Me (“Semua Lelucon Tentang Totti, Dikumpulkan oleh Saya”) terjual habis dalam satu bulan. Buku berikutnya setahun kemudian menjadi buku laris (bestseller), dan semua keuntungan yang ia dapatkan diberikan kepada UNICEF, di mana Totti menjadi dutanya. Ia juga tampil di sebuah acara kamera tersembunyi sebagai seorang pegawai pom bensin (pekerjaan yang, menurutnya sendiri, mungkin akan ia lakoni jika bukan karena sepakbola), bertanya pada siapapun yang mengenalinya, “Apakah kamu benar-benar berpikir saya akan melakukan ini jika saya Francesco Totti?”

“Memiliki sedikit ‘ironi diri’ (self-irony, kemampuan menertawakan diri sendiri) adalah hal penting,” kata Totti dalam wawancara pada tahun 2013 untuk menandai 20 tahun sejak debutnya di Roma. Apa yang keluar dari mulutnya berikutnya, ketika ditanya mana yang lebih menggetarkan hatinya: gol pertamanya di Serie A atau ciuman pertamanya, adalah jawaban yang benar-benar bebas dari normalitas yang biasa Anda dengar dari kebanyakan pesepakbola. “Anda melakukan ciuman pertama Anda karena Anda melihat orang lain berciuman – Anda tidak memberikan gairah atau cinta (pada ciuman itu),” ujarnya. “Tapi gol itu… Anda pasti telah memimpikannya begitu lama.”

2004: Selfie-nya saat melawan Lazio bukan selebrasi menggunakan kamera pertamanya

Pada akhirnya, kemampuannya untuk membuat kamera melihat ke arahnya dan juga penolakannya atas berbagai usaha untuk membawanya keluar dari Roma (pada tahun 2004, ia nyaris bergabung dengan Real Madrid, satu-satunya klub lain yang ia cintai di sepakbola, tetapi tidak sanggup melakukannya) lah yang membuatnya tidak hanya dicintai di ibukota saja, tetapi juga di Italia secara keseluruhan. Transformasinya dari lelucon nasional menjadi pusaka nasional seakan mirip dengan kisah David Beckham di Inggris.

Sementara dulu fokus besarnya terhadap derby Roma menjadi bukti kuat mentalitas kecil Totti – ingat, tidak ada pemain lain yang mencetak lebih banyak gol daripada dirinya di laga ini – sekarang seluruh negara malah memuja sikap antik Totti di Derby della Capitale.

Dimulai dengan kaus bertuliskan ‘Vi ho purgato ancora’ (‘Saya menghancurkanmu lagi’) yang terkenal yang ia tunjukkan setelah mencetak gol dalam kemenangan 3-1 di tahun 1999, selebrasi Totti telah menjadi legenda tersendiri. Pada tahun 2004, ia menggunakan kamera TV untuk melihat seluruh Stadio Olimpico. Pada Januari 2015, ia mengambil foto selfie di depan Curva Sud setelah mencetak dua gol dalam hasil imbang 2-2. Tidak ada tim lain yang membuatnya bisa lebih bahagia ketika mencetak gol ke gawang mereka.

“Di hari ketika ia berhenti bermain, kami akan mengirimnya sekotak sampanye!” kata Paolo, seorang fan Lazio selama 20 tahun terakhir. “Ada kebencian atas dirinya, tetapi juga kekaguman – semua orang pasti bermimpi mempunyai pemain yang lahir di kota Anda. Ia telah memberikan harapan kepada setiap fan Roma dan membangun hubungan yang besar antara kota, tim, dan para suporternya.”

Sayangnya, di kalangan ultras Roma, sikapnya dianggap telah sedikit berubah sejak ia menjadi seorang legenda di sepakbola Italia.