Ganjar Mukti: Pendidikan Lebih Penting Daripada Kontrak Panjang di Klub Besar

Ia pernah menolak kontrak jangka panjang dari Sriwijaya FC demi pendidikan. Kepindahannya ke PS TNI pun untuk mengejar impiannya. Ganjar Mukti berkisah kepada FourFourTwo tentang pilihan-pilihan kariernya dan mengapa ia sangat mengagumi Indra Sjafri...

Nama Ganjar Mukti Muhardiyana mulai dikenal publik pasca tampil kokoh menjaga pertahanan Bali United di ajang Bali Island Cup tahun 2016 kemarin. Bukan hanya itu, tekel kerasnya kepada Yandi Sofyan dan sapuan bersih terhadap peluang David Laly juga ikut andil dalam memperkenalkan nama Ganjar kepada penikmat sepakbola nasional.

Ganjar sebenarnya bukan nama baru di dunia sepakbola Indonesia. Dua tahun sebelumnya, ia sudah menjadi bagian dari klub PS Bengkulu dan Persita Tangerang.

Dia juga merupakan bagian dari tim Sriwijaya U-21 ketika berhasil memenangkan Indonesia Super League U-21 tahun 2013 lalu. Pemain berdarah Sunda tersebut bahkan sempat mendapatkan tawaran kontrak jangka panjang bersama Laskar Wong Kito akibat dari penampilan apiknya tersebut, namun itu ditolak dengan alasan ingin mengejar gelar di bidang akademik di tempat tinggalnya, Tangerang.

“Saya memilih untuk melanjutkan kuliah, mengingat beasiswa yang saya dapatkan bukanlah kesempatan yang mudah didapatkan,” aku Ganjar dalam wawancara bersama FourFourTwo Indonesia.

“Selain itu, saya juga mengingat pesan dari orang tua saya untuk terus menimba ilmu, karena ilmu adalah harta karun yang tidak dapat dinilai dengan uang ataupun emas. Ilmu lah yang mengajarkan kita untuk menjadi orang yang lebih baik dalam bersikap dan bertutur kata.”

Saya memilih untuk melanjutkan kuliah, mengingat beasiswa yang saya dapatkan bukanlah kesempatan yang mudah didapatkan. Selain itu, saya juga mengingat pesan dari orang tua saya untuk terus menimba ilmu

- Ganjar Mukti

Kepulangan Ganjar ke Tangerang kemudian membawa pemuda 22 tahun itu singgah ke Persita Tangerang, klub yang juga pernah dibela sang ayah, Sony Karsan. Praktis Pendekar Cisadane merupakan klub pertamanya di kompetisi tertinggi Indonesia ketika itu, ISL 2014.

Sialnya, Ganjar malah harus merasakan degradasi di musim perdananya di kasta tertinggi sepakbola nasional itu. Di tahun selanjutnya, ia memutuskan untuk mencari klub baru dan berlabuh di Bali United setelah lolos dari seleksi pemain yang diadakan oleh klub hasil merger itu.

“Saya kembali mendapat panggilan dari Bali United, dan secara kebetulan pelatih fisik dari Bali United yaitu Bapak Nur Saelan sudah mengetahui kemampuan saya, dan saya ditempatkan untuk menjadi center back dan wing-back kanan.”

“Pada saat yang sama, saya juga menerima tawaran kontrak satu tahun untuk bermain di QNB (Indonesia Super League 2015, red.), namun karena situasi yang tidak mendukung, kompetisi tersebut hanya berjalan setengah jalan dan saya tetap singgah di Bali, mengikuti latihan kejuaraan.”

Selama berada di Bali, Ganjar mengaku ia menaruh hormat yang begitu besar kepada Indra Sjafri. Ia menilai bahwa pelatih timnas U-19 tersebut adalah salah satu pelatih terbaik di Indonesia.

"Menurut pandangan saya, beliau adalah salah satu pelatih terbaik yang dimiliki Indonesia," kata Ganjar

“Mendapatkan pelatihan dari Coach Indra dapat merubah karakter seorang pemain menjadi lebih baik tanpa merubah karakter basic dengan cepat. Beliau sangat profesional dan selalu bekerja dengan hati yang tulus dan ikhlas,” katanya.

“Menurut pandangan saya, beliau adalah salah satu pelatih terbaik yang dimiliki Indonesia. Karakter yang ia keluarkan saat melatih yang membuat saya memiliki respect yang sangat besar terhadap beliau.”

Sayangnya, kebersamaan Ganjar bersama sang pelatih tak berlangsung lama. Pasalnya ia harus hijrah ke PS TNI pada pertengahan 2016. Faktor kepindahan sang pemain ke klub yang dinaungi oleh TNI tersebut tak lain karena hal tersebut membuat Ganjar bisa menjadi seorang anggota TNI, sebuah mimpi yang sudah diimpikan oleh Ganjar sejak kecil.

Mimpi masa kecil membawa Ganjar Mukti (berdiri, dua dari kanan) ke PS TNI

“Saya mendapatkan kesempatan untuk menjadi anggota TNI, yang telah menjadi cita-cita saya sejak kecil. Menurut saya, adalah suatu kebanggaan tersendiri dimana seorang atlet bisa meraih prestasi di sepakbola dan dunia militer. Saya memiliki misi untuk mengembangkan karir di dunia militer dan sepakbola secara bersamaan,” akunya.

Menanggapi target yang dicanangkan oleh PS TNI sendiri di musim ini, yaitu menjadi juara Liga 1, Ganjar mengaku dirinya hanya bisa berjuang dan pasrah kepada Tuhan. Dirinya juga mengakui jika ia banyak mengambil pelajaran berharga dari musim lalu, di mana PS TNI menjadi juru kunci pada gelaran ISC A 2016.

“Saya selalu yakin dengan apa yang sudah menjadi target, bagi saya yang penting adalah berusaha dengan semaksimal mungkin dan berpasrah kepada Allah. Tantangan yang saya hadapi pada tahun sebelumnya kerap saya jadikan pelajaran dan cambuk untuk dapat lebih baik kedepannya,” ujarnya.

 

God protect me . . . .thanks for your picture @ucie_mickey

A post shared by ganjarmukti (@ganjarmukti) on

“Saya berharap musim ini semuanya bisa berjalan dengan lebih baik, terlebih lagi dengan kondisi tim yang sudah jauh berbeda. Saya melihat, tahun keadaan tim sudah jauh lebih kondusif dengan PLTH dan manajemen yang lebih baik.”

Mengakhiri wawancara, kami kemudian bertanya kepadanya siapa pemain muda saat ini yang memiliki kualitas dan bisa menjadi contoh bagi anak-anak yang ingin berkarir di dunia sepakbola Indonesia. “Saya melihat Sutanto Tan dan Ricky Fajrin memiliki kualitas dalam bermain sepakbola. Keduanya juga mampu untuk dijadikan contoh untuk anak muda lainnya baik di lapangan maupun di luar lapangan.”

Temukan feature baru setiap harinya di FourFourTwo.com/ID