Gianfranco Zola: Bisnis Es Krim Saya Sebagus Gol yang Saya Cetak ke Gawang Norwich

Kepada FourFourTwo, Gianfranco Zola berbicara tentang karier manajerialnya yang tidak berjalan bagus, Eden Hazard vs Lorenzo Insigne, dan bisnis gelato-nya di London...

Apa yang membuat Gianfranco Zola kehilangan pekerjannya di West Ham? Dennis Wise, salah satu sahabatnya, mengatakan, "Ada anggapan Zola terlalu lembek (terhadap pemainnya). Ia tidak lembek. Ia hanya sangat jujur."

Wise benar. Zola adalah orang yang, mungkin, lebih mau terbuka mengungkapkan pendapatnya secara jujur ketimbang rata-rata orang sepakbola umumnya. Bahkan ketika di hadapan wartawan sekalipun.

Ia adalah tipe orang yang tak ragu untuk mengakui bahwa karier manajerialnya memang tak berjalan baik dalam beberapa tahun terakhir. Bahkan ketika mengundurkan diri dari Birmingham di awal tahun ini, ia secara terbuka mengatakan bahwa 'jika saya tidak bisa membantu para pemain, mengapa saya harus terus bertahan?'.

"Saya tidak tahu apa yang salah (dalam karier manajerialnya setelah Watford). Terkadang segalanya tidak berjalan dengan benar meski Anda melakukan hal yang sama," katanya kepada FourFourTwo, di tengah acara peluncuran program baru SuperSoccer TV di Jakarta.

Gianfranco Zola hadir di Jakarta untuk meluncurkan acara baru SuperSoccer TV

Setelah Birmingham, saya ingin beristirahat dulu. Saya ingin menonton sepakbola, dan memikirkan kembali apa yang kurang dari kemampuan saya. Saya ingin belajar lagi

"Saya belum tahu apa yang akan saya lakukan selanjutnya. Jika ada tawaran yang datang, kita akan lihat. Tapi saya memang sudah memutuskan setelah Birmingham, saya ingin beristirahat dulu. Saya ingin menonton sepakbola, dan memikirkan kembali apa yang kurang dari kemampuan saya. Saya ingin belajar lagi."

Keinginan kuat untuk terus memperbaiki diri, untuk terus belajar, bukanlah sesuatu yang baru bagi Zola. Baginya, inilah sifatnya yang begitu penting untuk dirinya, yang membuatnya bisa beradaptasi dengan begitu cepat di Chelsea ketika ia tiba pertama kalinya di London.

Zola datang ke London barat ketika usianya sudah tak muda lagi, 30 tahun. Ini merupakan kepindahan pertamanya ke luar Italia – dan satu-satunya di sepanjang kariernya sebagai pemain – dan karena itulah, semuanya tidak mudah pada awalnya.

Zola pindah ke Chelsea di usia yang sudah cukup tua

“Saya tidak pernah mengatakan ini sebelumnya, tetapi di hari pertama kami ke Inggris, kami diajak berkeliling fasilitas latihan dan tempat-tempat lainnya di London, dan kemudian istri saya menangis,” akunya.

“Ada perasaan terkejut yang muncul – semuanya begitu berbeda. Ini adalah pertama kalinya kami ke luar negeri, jadi jelas ini tidak mudah.”

“Adaptasi saya memang berjalan cepat. Adanya [Ruud] Gullit, [Gianluca] Vialli, dan [Roberto] Di Matteo membantu saya, tapi saya rasa hal terpenting adalah sikap saya untuk bisa memahami segalanya lebih cepat. Saya berusaha keras untuk bisa cepat beradaptasi karena saya tak muda lagi.”