Wawancara

Gianluigi Buffon: "Untuk Menjadi Seorang Kiper, Anda Harus Menjadi Masokis"

Gigi Buffon FFT

Bagaimana pendapatnya soal transfernya yang super mahal? Bagaimana dia mengatasi depresinya? Dan apa yang membuatnya sanggup bertahan di Serie B? Pertanyaan Anda dijawabnya pada Juli 2014...

We are part of The Trust Project What is it?

Penjaga gawang legendaris itu mengumumkan bahwa ia akan meninggalkan Juventus musim panas ini setelah pengabdian selama 17 tahun yang luar biasa bersama klub raksasa Turin tersebut.

Dengan lebih dari 1.000 pertandingan sudah dijalaninya di level klub dan tim nasional - belum lagi sembilan gelar liga, lima piala domestik, Piala UEFA, dan Piala Dunia - Buffon akan diingat sebagai salah satu legenda sepakbola sepanjang masa.

FourFourTwo berbincang dengan pria Tuscany di musim panas 2014 untuk membahas kariernya yang hebat, yang bisa Anda nikmati melalui serangkaian tanya jawab di bawah ini...

Apakah benar kamu memulai karier sebagai gelandang? Bagaimana akhirnya kamu bisa mengawal mistar?
Ryan Stone, melalui email
Ya itu benar. Saya kira setiap anak mulai bermain sepakbola dengan keinginan mencetak gol daripada menjadi kiper. Apakah saya (dulunya) juga seorang striker? Ya, untuk sementara waktu. Saya baik-baik saja. Saya menikmatinya. Saya akhirnya menjadi kiper secara kebetulan, sungguh. Ayah saya agak berperan dalam hal ini, tetapi kemudian saya juga sangat ingin menjadi seperti Thomas N'Kono, penjaga gawang Kamerun. Awalnya saya agak enggan, tetapi Piala Dunia (1990) telah dimulai dan saya menyaksikan tim Kamerun yang hebat kala itu. N'Kono adalah anggota tim yang penting.

Ayahmu adalah runner-up Kejuaraan Atletik Eropa dan ibumu adalah seorang juara cabang olahraga tolak peluru. Apakah ibumu mengajari cara melempar bola?
Ben Driver, melalui email

Ayah saya, ibu saya, saudara perempuan saya - semuanya. Tolak peluru? Tidak, tidak. Dia adalah pemegang rekor Italia di cabang tersebut. Tapi, ayah saya juga seorang atlet yang sangat bagus - kami adalah keluarga pecinta olahraga. Apakah itu membantu saya tumbuh dewasa? Saya pikir begitu. Anda menjalani olahraga dengan lebih serius, mungkin. Anda tentu mendapat dukungan dari keluarga Anda, yang mana itu penting.

Siapa idolamu saat masih kecil - dan menurutmu siapa kiper terbaik sepanjang masa?
Fiona Makepeace, melalui email

Oh, saya punya banyak idola, tetapi tidak ada yang sangat biasa saja. Ada N’Kono, tetapi juga rekan satu timnya, Roger Milla. Saya sangat suka menonton Kamerun - mereka adalah tim kedua saya setelah Italia. Saya juga  penggemar tenis dan saya selalu menyukai (Ivan) Lendl, (Stefan) Edberg, dan (Pat) Rafter.

Saya mendengar bahwa debut profesionalmu untuk Parma membuatmu berkesempatan menghadapi Milan - dan Weah, Baggio, dan Savicevic. Apakah itu benar? Apakah kamu (dari dulu sudah) percaya diri dan vokal seperti sekarang?
Massimo Robinson, melalui email

Itu adalah hari yang indah, pengalaman yang indah -terwujudnya mimpi saya selama bertahun-tahun. Dan saya memiliki permainan yang bagus. Saya tidak kebobolan (laga berakhir 0-0). Saya yakin, dan saya berada di posisi yang saya inginkan. Apakah saya meneriaki para bek? Saya pikir begitu. Saya berharap begitu. Itu yang dilakukan kiper.

Banyak yang terjadi dengan transfermu senilai 45 juta euro saat bergabung dengan Juventus pada tahun 2001. Seberapa terkejutnya kamu dengan ketika mendengar harga transfer tersebut? Apa yang akan kamu katakan kepada seseorang yang berpikir bahwa tidak ada kiper yang seharusnya dihargai sebegitu mahalnya?
Leon Adams, melalui email

Itu adalah kepuasan besar bagi saya. Saya benar-benar tidak punya masalah sama sekali. Di pasar transfer semacam itu, saya dilihat sebagai ... kita bisa mengatakannya semacam fenomena, tapi itu leboh mengenai harga ketmbang yang lainnya. (Perwakilan) Juventus pergi untuk melihat saya bermain, dan berpikir "Sialan, si Buffon ini benar-benar sebuah fenomena," dan mereka akhirny mengeluarkan banyak uang untuk mendatangkan saya. Jika mereka membayar lima juta euro dan bukannya 45 juta euro, itu tidak akan menciptakan kehebohan besar. Tetapi pasar menentukan harga. Penjaga gawang yang baik sangat penting untuk tim yang bagus, sama berharganya dengan striker yang bagus. Dan terkadang sama mahalnya. Apakah saya akan menandatangani kontrak untuk Juve dengan harga lima juta? Ya, saya mau. Tapi saya tidak yakin Parma akan terlalu senang...

Kamu menderita depresi 10 tahun lalu dan bahkan mencapai titik di mana kamu takut berjalan ke lapangan. Siapa yang tahu mengenai hal itu, dan mengapa kamu memilij tidak beristirahat?
Graham Dowling, melalui email

Siapa yang tahu mengenai itu? Saya tahu tentang itu. Dan saya harus menyimpannya sendiri karena, setidaknya pada awalnya, saya tidak benar-benar memiliki kesempatan untuk terbuka tentang hal itu. Saya tidak tahu apakah saya bisa membicarakannya kepada siapa pun. Tapi kemudian, secara bertahap, saya membicarakan hal itu kepada teman-teman, kepada rekan satu tim, orang-orang terdekat saya, dan saya mulai mengerti bahwa saya memiliki masalah dan itu adalah sesuatu yang dapat ditangani dan disembuhkan.

Saya tidak mengambil jeda karena saya merasakan tanggung jawab besar kepada rekan satu tim saya dan orang-orang yang mengandalkan saya. Saya tidak ingin mengecewakan mereka. Dan saya merasa tidak dapat berhenti bermain: Saya tidak berpikir itu (mengambil masa istirahat) akan dilihat sebagai cara yang dapat diterima, tidak dengan tanggung jawab besar itu. Saya akan menghadapi Piala Eropa. (FFT: Apakah sikap itu dalam pertandingan bisa berbuah menjadi depresi?) Saya pikir begitu. Saya berharap begitu. Itu membantu untuk menemui seorang psikolog, tetapi seperti yang saya katakan, dukungan teman-teman dan rekan satu tim adalah hal yang besar bagi saya.

Sungguh menyedihkan melihat gelar juara liga Juventus dicabut karena skandal Calciopoli tahun 2006? Tampaknya itu menginspirasi Italia untuk menjuarai Piala Dunia. Apakah menurutmu kamu masih bisa memenangi turnamen itu jika skandal itu tak pernah ada?
John Kerridge, Kent

Pada tingkat profesional, sebagai pemain,  melihat semua kesuksesan yang diambil dari Anda seperti itu terasa menyedihkan, ya. Ini merampas keberhasilan masa depan saya dan itu membuat saya kehilangan dua gelar juara dari masa lalu. Kami (timnas Italia) tentu saja tiba di Piala Dunia di Jerman sebagai pusat perhatian dan dengan keyakinan bahwa - pada momen yang sulit - kami harus melakukan sesuatu yang besar di lapangan untuk menanggapi semua yang telah terjadi. Kami berada dalam suasana hati yang  penuh tekad, tetapi kemudian saya tidak pernah benar-benar berpikir kami akan menjuarai turnamen, jadi saya tidak yakin apakah itu (Calciopoli) ada kaitannya dengan itu.