Sorot Bakat

Hamsa Lestaluhu: Andalan Utama Timnas U-16 yang Bisa Mengikuti Jejak Evan Dimas & Egy Maulana Vikri

Zakky BM membahas tentang seorang pemuda yang paling berpengaruh di tim nasional U-16 Indonesia saat ini, dan tantangan yang ia hadapi di masa depan...

We are part of The Trust Project What is it?

Cerita 60 Detik

Kita tak pernah tau apa yang ada di benak Marco Reus saat dirinya harus ditinggalkan skuat tim nasional Jerman pada Piala Dunia 2014 lalu. Pada pagelaran akbar tersebut, Jerman mengukuhkan statusnya sebagai juara dunia setelah mengandaskan perlawanan Argentina di partai final. Hanya ada jersey Marco Reus yang dibawa oleh Mario Gotze, saat perayaan juara berlangsung. Jiwa dan raganya? Mungkin sedang merutuki nasib karena tak mampu menjadi bagain saat negaranya mengangkat trofi sakral tersebut.

Berselang dua tahun kemudian, Reus kembali tak dipanggil Jerman ke Piala Eropa 2016. Penyebabnya masih sama; karena cedera. Dua turnamen besar dilewatkan begitu saja, entah bagaimana perasaannya. Atau, tak perlu jauh-jauh ke negeri seberang untuk mencari contoh yang sama persis. Pemain andalan tim nasional Indonesia era Alfred Riedl, Irfan Haarys Bachdim, harus rela memupus impiannya memperkuat timnas pada Piala AFF 2016, juga karena cedera.

Perkara cedera memang menjadi momok menakutkan bagi pesepakbola. Hamsa Medari Lestaluhu tahu betul bagaimana rasa takut dan kecewa bersatu-padu ketika ia divonis cedera ACL (Anterior Cruciate Ligament) sebelum pagelaran Piala AFF U-15 di Thailand tahun 2017 lalu. Hamsa terpukul, rekan-rekannya ikut terpukul, tak terkecuali pelatihnya, Fachry Husyaini. Walhasil, jangankan menjadi juara layaknya di turnamen Tien Phong Plastic Cup 2017, Garuda Muda bahkan tak mampu bermain maksimal di Thailand yang berujung tak lolosnya mereka dari fase grup saat itu.

"Menurut saya karena saat itu tidak ada Hamsa Lestaluhu. Pemain itu sangat berpengaruh sekali. Saat anak-anak mengetahui Hamsa tidak bisa berangkat setelah saya umumkan hasil MRI, semua pemain terpukul, semua pemain terdiam dan menunduk," kisah Fachry Husaini dilansir laman Bolacom. "Saat itu saya melihat sebuah masalah. Saya pun melihat jatuhnya anak-anak di Piala AFF karena ketidakhadiran Hamsa dan bisa juga karena mental pemain yang mengisi posisi Hamsa terbebani." lanjutnya

Hamsa mampu menembus tim nasional junior U-15 berkat seleksi, mewakili Sekolah Sepakbola (SSB) ASAD 313 Jaya Perkasa Purwakarta. Meski menimba ilmu di Jawa Barat, ia sejatinya asli kelahiran Tulehu, provinsi Maluku. Bukan rahasia lagi jika ‘Brasil-nya Indonesia’ tersebut mempunyai segudang bakat pesepakbola yang ciamik dari generasi ke generasi. Bahkan entah sudah berapa Lestaluhu yang berhasil mentas di sepakbola Indonesia, sebelum Hamsa menjadi tumpuan tim nasional junior Indonesia saat ini.

Kehidupan Hamsa di Tulehu bisa dibilang cukup sulit, namun ia tak patah arang. Anak dari seorang supir truk pengangkut kayu ini mengawali kariernya di SSB Persenal Hurnala sebelum akhirnya pindah ke Purwakarta. Bagi yang kebingungan, SSB ASAD 313 Jaya Perkasa Purwakarta ini memiliki kurikulum khusus yang terintegrasi dengan sekolah umum lainnya. Para calon pesepakbola di SSB ASAD hanya mempelajari Bahasa Inggris, Agama, dan Bahasa Indonesia. Meski terhitung sedikit, namun metode ini diharapkan bisa memaksimalkan potensi dari anak-anak muda berbakat ini.

"Makan bagus tapi hidup tidak teratur, bakal rusak. Hidup teratur tapi keluarga berantakan, bakal rusak. Itulah mengapa saya siapkan lingkungan yang kondusif, gizi yang baik, agar mereka bisa fokus dan bagus bermain sepakbolanya," ungkap konseptor program SSB ASAD yang juga mantan bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi.  

"Kami tinggal bareng, latihan bareng, dan sekolah juga bareng. Anak ASAD di satu kelas kan di SMPN 6 Purwakarta karena mata pelajaran (yang diterima) lebih sedikit," tutur Ahludz, salah satu siswa sekaligus rekan Hamsa di SSB ASAD 313 tersebut.