Hanif Sjahbandi: Kolektor Trofi yang Kini Mengejar Juara Bersama Arema

Sejak kecil, ia sudah merebut berbagai jenis trofi di sepakbola. Perjalanan kariernya pun berwarna, membawanya terbang ke Inggris dan Jepang. Yudha Prastianto mengupas karier Hanif Sjahbandi...

Cerita 60 Detik

Sejak kepergiannya ke Jepang dan penampilan ciamik yang ia tunjukkan bersama Persiba Balikpapan di Indonesia Soccer Championship (ISC) A 2016 lalu, nama Hanif Abdurrauf Sjahbandi mulai dikenal masyarakat Indonesia. Bersama dengan kompatriotnya, Bagas Adi Nugroho, Hanif kini berada di salah satu klub terbesar di tanah air, Arema FC.

Bermain untuk sebuah klub besar kemudian membuat namanya kian meninggi seiring dengan jam terbang yang didapatkan. Puncaknya pun terjadi pada partai final Piala Presiden 2017, di mana seorang Hanif sukses mencetak gol perdananya bagi Singo Edan.

Lewat tendangan placing memanfaatkan rebound dari sepakan Esteban Vizcarra, ia berhasil merobek gawang Borneo FC yang dikawal Wawan Hendrawan pada menit ke-30. Raihan tersebut seolah menegaskan bahwa Hanif Sjahbandi terlahir memang untuk menjadi seorang pemain yang luar biasa.

Kini, di Liga 1, Hanif terlihat lebih siap membela Arema FC. Kepercayaan sang pelatih, Aji Santoso terhadap pemain muda menambah peluang pemain yang pernah mengikuti diklat Persib Bandung ini untuk menjadi salah satu pemain utama di lini tengah tim.

Mengapa anda harus mengenalnya

Hanif mulanya hanya bocah biasa, ia memiliki hobi yang sama dengan anak laki-laki pada umumnya, bermain sepakbola. Diceritakan bahwa dirinya cukup sering bermain sepakbola di depan rumah dan sekolah bersama teman-teman sebaya.

Hanif kecil lebih dulu akrab dengan olahraga futsal, sebuah sepakbola mini yang dimainkan di lapangan berukuran 20x40 meter. Ia kemudian cukup sering mewakili sekolah dasar (SD) tempat ia menimba ilmu dulu, SD Al-Azhar, dan mulai menuai hasil pada tahun 2008, yakni menjadi juara pertama dalam gelaran turnamen futsal antar SD se-Jakarta, di mana Hanif juga terpilih sebagai pencetak gol terbanyak. Sebelumnya, di ajang yang sama, Hanif dan SD Al-Azhar hanya mampu tampil sebagai juara kedua (2007).

Melihat sang anak punya potensi besar di bidang sepakbola, kedua orang tua Hanif mendaftarkannya ke sebuah sekolah sepakbola di Jakarta, Asian Soccer Academy (ASA) Jakarta. Hanif pun mulai bergabung dengan akademi tersebut dan kembali memperoleh hasil yang cukup memuaskan.

Bersama ASA U-12, dirinya sukses menggondol gelar juara pada gelaran Asian Soccer Academy Tournament (2007). Beberapa bulan setelahnya, Hanif, bersama tim yang sama, kembali mengangkat trofi juara di tingkat junior, kali ini pada ajang Can U Kick It Tournament yang dilaksanakan di Bangkok, Thailand.

Koleksi trofi dan pengalaman Hanif ketika masih kecil bisa dibilang cukup banyak. Pemain yang kini berusia 20 tahun tersebut dulunya memang rajin ikut dalam setiap turnamen dan program sepakbola baik di dalam maupun luar negeri. Itu juga menjadi salah satu faktor mengapa ia kemudian memutuskan untuk serius membangun kariernya sebagai pesepakbola profesional saat ini.

“Berkat dukungan orangtua dan juga kemampuan yang dapat bersaing menjadi pemain bola, akhirnya saya putuskan untuk serius berkarier,” ujar Hanif saat diwawancarai FourFourTwo Indonesia.

Yang paling menarik perhatian pecinta sepakbola Indonesia adalah saat di mana Hanif berpartisipasi dalam Manchester United Soccer School (MUSS) pada 2009 silam. Ia kemudian terpilih dalam World Skill Final Manchester United dan unjuk kebolehan serta merasakan latihan langsung di Carrington bersama 17 anak lainnya.

Sontak kabar itu menjadi pemberitaan media nasional, bahkan buku soal Hanif yang berjudul Merah Putih di Old Trafford diterbitkan.

Seiring dengan berjalannya waktu, Hanif dengan segala pengalaman yang sudah ia peroleh, memutuskan untuk ikut dalam trial FC Tokyo di Jepang, bersama Bagas Adi Nugroho. Sayang, pengalaman yang ia dapat sejak kecil hingga remaja belum cukup melabuhkannya ke salah satu klub terbesar Jepang itu.

Ia kemudian kembali ke Indonesia dan berkarier di negeri ini hingga saat ini. Bukan sesuatu yang mengecewakan, karena berkat semua pengalaman yang sudah ia dapat, menjadikannya sebagai salah satu pemuda terbaik tanah air yang membela timnas Indonesia U-22 asuhan Luis Milla.

Kelebihan

Sebagai gelandang, Hanif dibekali kemampuan yang baik dalam mengontrol lini tengah, meski untuk saat ini tak jarang orang-orang menganggapnya masih kurang baik (wajar, karena masih muda). Berkat peran yang pernah ia emban, seperti stoper, striker dan kini gelandang, Hanif hampir memiliki kelebihan yang mendukung perannya sebagai gelandang.

Selain itu, penempatan posisi yang tak jarang membahayakan gawang lawan jadi poin plus bagi pemain kelahiran Bekasi tersebut.

Kekurangan

Seperti yang sudah ditulis sebelumnya, di usianya yang masih 20 tahun, Hanif tentu membutuhkan pengalaman yang lebih banyak untuk bermain di kompetisi dengan tekanan yang tinggi. Dari apa yang sudah kami saksikan, transisi seorang Hanif dari menyerang ke bertahan masih kurang, persoalan stamina tentunya harus terus ditingkatkan oleh eks Persiba Balikpapan ini.

Untuk itu, ia mesti terus mempertajam kemampuannya agar bisa menjadi pemain yang lebih baik ke depan.

Tahukah Anda

Hanif pernah mendapatkan pesan dari mantan pelatihnya dulu yang menjadi prinsipnya hingga saat ini. “Mungkin pengalaman menarik ya pernah ada seorang pelatih yang pernah menasehati saya, dan nasehat itu yang selalu menjadi prinsip saya: ‘sebelum menjadi pemian bola yang terbaik, jadi manusia yang terbaik’.” 

Temukan feature baru setiap harinya di FourFourTwo.com/ID