Hanif Sjahbandi: "Pemain-Pemain di Jepang Bisa Main Tempo Tinggi Selama 90 Menit Tanpa Capek!"

Hanif Sjahbandi berbincang dengan FourFourTwo tentang regulasi pemain muda yang baru diterapkan dan bagaimana ia terus tampil apik bersama Arema FC...

Regulasi Piala Presiden 2017 yang mewajibkan tiap tim memiliki minimal lima pemain U-23 dan memainkan minimal tiga pemain, membuat para pemain muda bak kejatuhan durian runtuh. Mereka kemudian berlomba-lomba menampilkan performa terbaik untuk membuktikan jika regulasi yang dicanangkan oleh PSSI bukanlah keputusan yang salah.

Hanif Sjahbandi, gelandang Arema FC, adalah salah satu pemain muda yang cukup mendapatkan jam terbang tinggi di bawah komando Aji Santoso. Berkat penampilan apiknya di Piala Presiden kali ini, pemuda Bandung tersebut mendapat panggilan untuk mengikuti seleksi tim nasional asuhan Luis Milla.

Menurut eks Persiba Balikpapan itu, regulasi turnamen membantu para pemain muda banyak mendapat kesempatan, “Bagus sih menurut saya, regenerasi membuat banyak pemain muda dapat pengalaman dan ilmu dari kompetisi (level) senior dan kualitasnya pun akan bagus,” katanya kepada FourFourTwo.

Hal tersebut memang cukup terbukti sejauh ini, dengan beberapa nama muda yang menghiasi ajang Piala Presiden 2017 sukses menampilkan performa menawan. Sebut saja, Febri Haryadi, Sadil Ramdani, Abdul Azis, dan Hanif sendiri. Pemain jebolan diklat Persib Bandung itu bahkan sejauh ini sukses menggantikan peran Raphael Maitimo di lini tengah Singo Edan.

Alhamdulillah sampai sekarang tidak ada masalah (menggantikan Maitimo), apalagi dari pelatih dan senior banyak sekali yang membantu saya dalam peran central (gelandang tengah),” sambungnya.

Di Arema, diakui Hanif jika ada pemain yang kesulitan, para senior langsung turun untuk membantu menyelesaikan masalah. Ini juga dirasakan sendiri oleh sang pemain, “Sebenarnya sedikit sulit untuk menyamakan kualitas latihan dan permainan ke tingkat senior, tapi Alhamdulillah masih bisa mengatasinya berkat bantuan dari senior-senior juga,” aku Hanif.

Di sisi lain, pengalaman menimba ilmu sepakbola di negeri orang sangat membantu sang pemain, baik di dalam maupun di luar lapangan. “Sangat membantu sekali. Tidak hanya pengalaman dan ilmu di dalam lapangan, tapi juga mental dan ilmu di luar lapangan sangat memengaruhi,” ungkap pemain 19 tahun tersebut.

Sebagaimana diketahui, Hanif pernah bertolak ke Inggris dan Jepang untuk memperoleh ilmu sepakbola yang lebih baik. Di negara Ratu Elisabeth, ia sempat tergabung dalam Manchester United Soccer Schools dan berhasil dinobatkan sebagai siswa terbaik. Selain itu, pada usia 15 tahun, dirinya pernah menjalani trial di Stoke City.

Di Jepang, Hanif bersama dengan rekannya di Arema FC, Bagas Adi Nugroho, pernah mengikuti trial di salah satu klub besar, FC Tokyo. “Disana, pemain latihan sudah seperti pertandingan. Benturan keras itu sudah biasa. Di Jepang, main dengan tempo tinggi selama 90 menit tidak capek, itu yang harus dibawa ke Indonesia.”

Baru-baru ini, ketika menjalani seleksi timnas U-22, Hanif sengaja ditempatkan oleh Milla di sektor bek sayap, sesuatu yang tentunya baru bagi sang pemain. Pasalnya sejauh ini, pemain terbaik timnas U-13 tersebut kerap bermain sebagai gelandang, bahkan bersama Singo Edan, ia menempati pos gelandang bertahan menggantikan peran Raphael Maitimo yang hengkang per Januari lalu.

Kendati demikian, hal tersebut ternyata tidak menjadi masalah besar untuknya. Hanif menyatakan siap bermain di posisi manapun. “Insha Allah selalu siap dengan kedua posisi tersebut. Tapi kalau ditanya soal mana yang lebih nyaman, buat saya mugkin lebih nyaman sebagai gelandang.”

Menanggapi tingginya jam terbang yang diberikan Aji, Hanif mengaku bersyukur dan selalu berusaha memberikan permainan terbaik. “Prinsip saya selalu memberikan yang terbaik dan bermain dengan hati. Alhamdulillah jika terlihat bagus.”

Terbaru, Hanif kini tengah mempersiapkan diri untuk menghadapi partai final Piala Presiden 2017, Minggu (12/03). Meski tengah menjalani seleksi bersama timnas U-22, namun ia mengatakan bahwa tidak ada kesulitan berarti untuk membagi konsentrasi, “Persiapan lebih ke mental saja, saya usahakan buat serileks mungkin sebelum menghadapi final. Program timnas tidak terlalu mengganggu, justru lebih menambah motivasi.”

Menyoal kontroversi yang mewarnai laga semifinal leg kedua melawan Semen Padang, eks diklat Persib Bandung itu mengatakan bahwa ia tidak terlalu memikirkan hal tersebut. “Saya tidak tahu menahu masalah itu, saya hanya fokus sama tim.”

Ia juga memberikan penilaian terhadap performa calon lawan, Pusamania Borneo FC (PBFC). Hanif mewanti-wanti agar seluruh pemain Pesut Etam dijadikan perhatian di laga nanti. “PBFC adalah tim yang bisa dibilang sangat kompak dan hampir semua pemain wajib diwaspadai. Bukan satu atau dua, tapi satu tim wajib diwaspadai.”

Temukan feature baru setiap harinya di FourFourTwo.com/ID