Haruskah Sepakbola Tetap Menerapkan Teknologi VAR?

Teknologi video tayangan ulang atau VAR akhirnya digunakan secara masif untuk pertama kalinya di Piala Konfederasi 2017. Bukan sambutan hangat yang didapat, malah kebingungan dan kecaman. Lalu, apakah teknologi ini harus tetap diterapkan di sepakbola ke depannya?

Seorang pemain berlari kegirangan, berkat golnya ke gawang lawan, tim yang ia bela mampu memecah kebuntuan saat itu. Ia berteriak dan kawannya yang lain menghampiri untuk memberi pelukan padanya. Pada akhir adegan ini, sang pencetak gol malahan sempat melakukan joged khasnya di dekat tiang sepak pojok.

Hakim garis memang tak mengangkat bendera apapun, sinyal gol seperti sudah mereka terima. Namun wasit utama yang berada di lapangan akhirnya mengontak asisten lainnya yang berada dalam ruangan pemantauan. Melalui tayangan ulang khusus, pencetak gol tersebut ternyata tertangkap offside meski sangat tipis. Sekali lagi; offside sangat tipis.  

Namun, offside tetaplah offside. Singkat cerita, gol ternyata tidak sah. Mereka yang sudah merayakan – baik pemain maupun pendukungnya – malah menjadi menggerutu sendiri. Mungkin sedikit tips dari kami; yuk mari lebih baik kita tak berselebrasi daripada mendapatkan harapan palsu! Ini penting.

BACA JUGA Mengapa Sepakbola Memang Membutuhkan Teknologi Video Replay

Bos tim nasional Cile, Juan Antonio Pizzi, sempat berkomentar begini, “Bola telah masuk ke gawang, kau melihat hakim garis namun bendera tak ia angkat dan kau bisa bersuka cita setelah itu. Sekarang, kau tak akan yakin itu akan gol atau tidak. Kapan kau akan merayakan gol tersebut?”

Sekarang, kau tak akan yakin itu akan gol atau tidak. Kapan kau akan merayakan gol tersebut?

- Bos tim nasional Cile, Juan Antonio Pizzi

Ajang Piala Dunia mini alias Piala Konfederasi 2017 yang diselenggarakan musim panas ini di Rusia menjadi panggung pertunjukan Video Assistant Referees (VAR) di kancah sepakbola Internasional. Meski teknologi ini sudah sempat diujicobakan di level pertandingan persahabatan beberapa waktu yang lalu, namun VARs bisa dibilang baru mulai benar-benar diujicobakan secara massal pada ajang Konfederasi ini.

Massimo Bussaca, pimpinan wasit FIFA, menyatakan, "Dalam 12 pertandingan (Piala Konfederasi), kami mendapatkan 29 insiden besar berdasarkan keputusan benar dari ofisial dan dibenarkan oleh VAR; tujuh keputusan ditinjau ulang oleh VAR dan enam keputusan yang mampu mengubah jalannya laga dibenarkan. Empat di antaranya merupakan offside.”

Tujuaan penggunaan teknologi dalam sepakbola terutama dalam penggunaan VAR memang masih banyak menuai banyak kritikan terutama dari penonton karena menjadi membingungkan. Empat tinjauan utama yang menjadi fokus utama penggunaan VAR adalah kejadian gol, keputusan penalti, keputusan kartu merah, dan kesalahan identitas.