Analisa

Hebohnya Bursa Transfer Pemain Asia Tenggara di Musim 2018 Ini

Tingginya intensitas transfer pemain antar klub Asia Tenggara merupakan sebuah tanda positif bagi perkembangan sepakbola di kawasan ini. Angga SP mengulasnya lebih dalam...

We are part of The Trust Project What is it?

Dalam sepuluh tahun terakhir, bursa transfer di kawasan Asia Tenggara tahun ini bisa dibilang adalah yang paling heboh. Gara-garanya, intensitas perpindahan pemain dari negara Asia Tenggara ke negara Asia Tenggara lainnya terbilang sangat tinggi. Uniknya, perpindahan ini tak cuma melibatkan negara-negara Asia Tenggara yang dalam beberapa tahun terakhir memang biasa mengespor pemain. Negara-negara yang sebelumnya tak terlalu populer macam Myanmar, Kamboja, dan Filipina pun turut terlibat dalam kehebohan ini.

Selain perpindahan pemain dalam lingkup Asia Tenggara, sejumlah perpindahan pemain ke luar kawasan ini juga menjadi sesuatu yang cukup menghebohkan. Sayangnya hingga sekarang, di musim ini hanya Thailand yang terlibat cukup aktif. Tercatat mereka sudah mengirimkan lima nama terbaru –menyusul Chanathip Songkrasin yang sudah lebih dulu— untuk berlaga di luar Asia Tenggara.

Regulasi Khusus Pemain Asia Tenggara

Penyebab utama tingginya intensitas perpindahan pemain dalam lingkup Asia Tenggara tahun ini adalah regulasi pemain asing Asia Tenggara yang diterapkan oleh dua negara besar di kawasan ini, yaitu Thailand dan Malaysia. Kedua negara tersebut menerapkan regulasi ini dengan alasan utama yang terbilang sama: untuk meningkatkan nilai jual sepakbola mereka di kawasan Asia Tenggara.

Chanatip Songkrasin, penggawa tim nasional Thailand yang kini berseragam Sapporo

“Ini adalah keputusan komersial seputar penyiaran pertandingan liga super di negara lain," ujar CEO Football Malaysia Limited Liability Partnership (FMLLP), Kevin Ramalingam, seperti dikutip dari Bolasport yang melansir nst.com.my. “Kami ingin menciptakan lebih banyak minat di luar negeri untuk liga,” lanjutnya.

“Hari ini kami mendeklarasikan perubahan pada struktur liga sebagaimana kami ingin menjadi pusat sepakbola ASEAN. Kami percaya bahwa dengan adanya kehadiran para pemain ASEAN maka bisa meningkatkan sepakbola Thailand menjadi yang terdepan di Asia Tenggara serta menambah nilai jual. Dengan cara ini, suporter dan sponsor akan berdatangan dari mancanegara,” ungkap Somyot Poompanmoung, presiden Federasi Sepakbola Thailand (FAT).

Terens Puhiri (Indonesia/Thai Port FC), Kyaw Ko Ko (Myanmar/Chiangrai United), Aung Thu (Myanmar/Police Tero FC), Hoàng Vũ Samson (Vietnam/Buriram United), dan Zulfahmi Arifin (Singapura/Chonburi FC), adalah sejumlah nama yang akan bermain di liga utama Thailand mulai tahun ini.

Adapun yang bermain di Malaysia, di antaranya adalah Andik Vermansyah (Indonesia/Kedah FA), Chan Vathanaka (Kamboja/Pahang FA), Hariss Harun (Singapura/Johor DT), Evan Dimas (Indonesia/Selangor FA), Ilham Udin (Indonesia/Selangor FA), Ferdinan Sinaga (Indonesia/Kelantan), Ahmad Jufriyanto (Indonesia/Kuala Lumpur FA), Keo Sokpheng (Kamboja/PKNP), dan Misagh Bahadoran (Filipina/Perak FC). 

Terens Puhiri sudah bergabung dengan klub Thailand, Port FC

Sejauh ini, usaha kedua negara tersebut menerapkan regulasi ini untuk memperluas pasar tampaknya berbuah positif. Para pencinta sepakbola yang pemainnya bermain di Thailand dan Malaysia mulai menunjukkan ketertarikan tersendiri, terutama negara-negara yang memang punya minat yang besar terhadap sepakbola seperti Indonesia --masyarakat Indonesia bahkan mulai mengikuti dan memenuhi kolom komentar sejumlah akun media sosial klub yang berisikan pemain Indonesia serta juga cukup banyak yang menonton pertandingan Liga Malaysia secara streaming.

Selain sebagai usaha untuk memperluas pasar, barangkali yang menjadi alasan berikutnya, khususnya bagi para klub, adalah resiko yang didapat menjadi lebih rendah. Sebabnya, para pemain Asia Tenggara sebagian besar memiliki kesamaan kultur hingga gaya atau pola bermain yang relatif sama sehingga tak memerlukan waktu lama untuk beradaptasi. Dan lebih dari itu, harga jual pemain Asia Tenggara tak semahal pemain-pemain dari Amerika Selatan, Eropa, atau Afrika, misalnya.