Hendra Adi Bayauw: Bakat Meyakinkan dari “Kampung Sepakbola”

Satu lagi bakat besar dari kampung sepakbola paling terkenal di Indonesia menghiasi sepakbola nasional. Renalto Setiawan menceritakan bagaimana ia berkembang dan mengapa ia belum menjadi seorang superstar...

Cerita 60 Detik

Di sini (di Tulehu) sepakbola sudah menjadi agama kedua bagi kami

- Muhtadi Lestaluhu

Sudah jadi rahasia umum jika nasib bisa menjadi sebuah penentu dalam pertandingan sepakbola. Tim yang tampil apik sepanjang pertandingan kadang harus kalah karena nasib yang kurang baik. Sedangkan tim yang tampil buruk, karena nasib baik, bukan tidak mungkin mereka bisa memenangkan sebuah pertandingan yang sulit. Namun di Tulehu, Maluku, dan ini bukan merupakan sebuah anomali, tak sedikit orang yang beranggapan bahwa nasib bisa diatasi dengan sepakbola.

“Di sini (di Tulehu) sepakbola sudah menjadi agama kedua bagi kami,” kata Muhtadi Lestaluhu, legenda hidup sepakbola Tulehu yang juga pemain timnas Indonesia pada era 80-an.

Di desa yang berjarak sekitar 24 kilometer dari kota Ambon tersebut sepakbola memang sudah mendarah daging. Konon, ada sebuah adat di Tulehu di mana bayi laki-laki yang berusia tujuh bulan kakinya akan diolesi rumput yang berasal dari lapangan Matawaru, lapangan sepakbola penghasil bakat-bakat hebat di Tulehu, dengan harapan bayi tersebut kelak bisa menjadi pemain sepakbola yang hebat. Selain itu, dengan harapan yang sama, tak sedikit bayi laki-laki di Tulehu yang tidur ditemani oleh bola.

Warga Tulehu memang melakukan apa saja agar lapangan Matawaru tak sepi bakat-bakat hebat, yang kemudian mampu menjadi langganan timnas Indonesia. Tukang ojek, kuli pelabuhan, atau pekerja kantoran di daerah Tulehu bahkan baru bisa merasa bangga jika mereka sudah mampu membelikan anak laki-laki mereka sepasang sepatu bola.

Saat Februari 2015 lalu Tulehu dinobatkan sebagai kampung Sepakbola, sudah banyak bocah-bocah Tulehu yang mampu mengabulkan harapan para orang tuanya sekaligus mengatasi nasib yang kurang baik dalam kehidupan dengan sepakbola. Dan Hendra Adi Bayauw adalah salah satunya. Mantan anak didik Sani Tawainella di SSB Tulehu Putera tersebut kini menjadi buah bibir sepakbola Indonesia.

“Dengan sepakbola, saya ingin menyekolahkan adik-adik saya hingga ke jenjang Universitas,” begitu kata Bayauw.

Foto: Sidomi.com

Mengapa Anda Harus Mengenalnya

Menjadi bagian dari skuat Maluku U-15 dalam gelaran Piala Medco 2008 lalu, Bayauw langsung mencuri perhatian. Di partai puncak Maluku U-15 memang kalah, 0-1, dari Jawa Timur U-15, tetapi Bayauw berhasil menjadi top skorer dalam kejuaraan tersebut. Dia berhasil mencetak enam gol di sepanjang turnamen. Bakatnya kemudian dilirik oleh banyak klub profesional di Indonesia.

Setelah sempat bermain di Jakarta bersama Jakarta FC dan Persija (IPL), Hendra Bayauw memilih untuk melanjutkan keriernya bersama Semen Padang, juara IPL 2011/2012. Dan bersama klub asal Sumatra Barat inilah karier Bayauw semakin meroket. Dia sepertinya memang berjodoh dengan kota yang terkenal dengan Nasi Padang-nya, yang mewabah di seantero negeri tersebut.

Di Semen Padang, Bayauw langsung menjadi andalan. Kecepatannya dalam menyisir wilayah kiri pertahanan lawan sering menjadi kunci permainan Kabau Sirah

Di Semen Padang, Bayauw langsung menjadi andalan. Kecepatannya dalam menyisir wilayah kiri pertahanan lawan sering menjadi kunci permainan Kabau Sirah. Meski dia tidak mencetak gol, performa Bayauw dalam gelaran IPL 2012/2013 membuat Kabau Sirah tampil trengginas. Dari delapan belas pertandingan, Semen Padang menang lima belas kali, bermain imbang dua kali, dan hanya sekali menuai kekalahan. Sayang, karena adanya konflik, kompetisi tersebut harus berhenti di tengah jalan. Jika tidak, Semen Padang berpeluang besar untuk mempertahankan gelar IPL pada musim tersebut.

Selain hebat di IPL, Semen Padang juga tampil ciamik di Piala AFC 2013. Bahkan, Kabau Sirah berhasil melaju hingga babak perempat-final. Dalam gelaran tersebut, Bayauw berhasil mencetak satu gol ke dalam gawang Churchill Brother, wakil dari India, pada babak penyisihan.

Penampilan hebatnya bersama Semen Padang membuat Bayauw dilirik timnas. Tidak tanggung-tanggung, tenaga pemain yang sewaktu kecil hampir selalu bermain bola di lapangan Matawaru tersebut dibutuhkan timnas U-22 sekaligus timnas senior. Bersama timans U-22, dalam penyisihan Piala Asia U-23 2013 yang diselanggarakan di Stadion Utama Riau, Pekanbaru, Bayauw tampil mumpuni, menenggelamkan Andik Vermansyah, bintang utama timnas U-22 pada saat itu. Meski Indonesia gagal lolos, Bayau berhasil mencetak tiga gol yang semuanya bersarang ke dalam gawang timnas Macau U-23.

Di timnas Senior, meski tampil relatif bagus selama uji coba dengan torehan dua gol, Bayauw gagal berangkat ke Piala AFF 2012. Bersama Nur Iskandar dan Jajang Paliama, dua rekannya di Semen Padang, Bayauw dipulangkan. Nil Maizar, pelatih Timnas Indonesia pada saat itu, seperti mempunyai rencana tersendiri buat Bayauw. Timnas kemudian gagal total di Piala AFF; mereka gagal melewati penyisihan grup.

Pasca kejadian tersebut, karier Bayauw justru semakin mengilap.  Bayauw selalu menjadi andalan Semen Padang baik di tim senior maupun di tim U-21. Dalam gelaran ISL U-21 musim 2013/214, Semen Padang berhasil keluar sebagai juara setelah mengalahkan Sriwijaya FC U-21, 4-0. Bayauw memang tidak tampil di partai puncak karena jasanya dibutuhkan Semen Padang senior. Namun tanpa performa apiknya pada babak semifinal, saat Semen Padang U-21 mengalahkan Mitra Kukar U-21, Kabau Sirah muda bisa saja gagal menjadi juara.  Saat itu, dua gol kemenangan anak asuh Delfi Adri tersebut dicetak oleh pemain yang berasal dari Tulehu tersebut.

Foto: Bola.com

Semen Padang senior sendiri juga berhasil menorehkan prestasi yang tak kalah apik. Berstatus sebagai tim debutan di ISL karena pada musim sebelumnya menjadi kontestan IPL, Semen Padang berhasil lolos hingga babak delapan besar dengan Hendra Bayauw menjadi salah satu bagian penting di dalamnya.

Hingga kini, kiprah Hendra Bayauw terus-terusan menarik perhatian publik sepakbola Indonesia. Meski demikian, Bayauw seperti belum ditakdirkan untuk menonjolkan diri. Beberapa kali dia gagal tampil di partai puncak sebuah kejuaraan. Jasanya yang dibutukan oleh tim senior Semen Padang  membuatnya gagal bermain di partai final ISL U-21 musim 2013/2014. Pada ajang Piala Presiden 2015 lalu, meski dia tampil apik sepanjang turnamen, Mitra Kukar yang dibelanya kandas di babak semifinal. Dan yang terakhir, kartu merah yang diterimanya pada semifinal Piala Jenderal Sudirman 2015, membuatnya gagal bermain di partai puncak di mana Semen Padang harus menyerah dari Mitra Kukar, 1-2.

Namun, Bayauw sepertinya tak perlu khawatir. Saat ini usianya masih 22 tahun. Dia masih muda dan masih bisa terus berkembang. Jika dia mampu terus bermain apik seperti dalam Piala Presiden dan Piala Jenderal Sudirman 2015 lalu, final-final lainnya akan menantikan kehadirannya. Ya, Tulehu, tanah kelahirannya, juga akan terus bersabar menantikan kehebatannya dalam menyihir partai final sebuah kejuaraan.

Yang kemudian menjadi pertanyaan: Bersama tim mana Hendra Bayauw akan melakukannya? Terakhir, Hendra Bayauw dikabarkan berpisah dengan Semen Padang.