Heri Susanto: Anak Karateka yang Memilih Sepakbola Sebagai Jalan Hidup

Ia tak pernah disetujui menjadi pesepakbola, dan gagal seleksi di usia muda sempat nyaris membuat kariernya berakhir dini. Tapi keinginannya untuk berkarier di sepakbola begitu teguh, dan kerja kerasnya membuahkan hasil. Yudha Prastianto berbincang dengannya...

Cerita 60 detik

Nama Heri Susanto mungkin tidak sebeken nama pemain-pemain muda Indonesia lain. Terlebih jika membandingkannya dengan Evan Dimas, Yandi Sofyan, atau Andik Vermansyah yang sejak usia belasan telah mendapat sorotan dari berbagai pihak terkait performa mereka di atas lapangan.

Namun, aksi solo run yang ia peragakan ketika klubnya, Persiba Balikpapan, menjamu Persegres Gresik United pada pekan kesembilan Indonesia Soccer Championship (ISC) A, membuat namanya dielu-elukan oleh para Balistik, sebutan untuk pendukung Persiba. Aksinya tersebut berujung dengan gol pada menit ke-50 dan membuat Beruang Madu menang dengan skor meyakinkan, 5-3 atas Laskar Joko Samudro.

Sebagai pemain muda, ia patut berbangga karena pelatih Jaino Matos sedari awal memang terus mempercayainya untuk bermain secara reguler bagi klub.

Matos sendiri adalah orang di balik perkembangan karier seorang Heri selama ini. Sejak awal, sebelum gelaran ISC A dimulai, mantan asisten pelatih Pusamania Borneo tersebut percaya dan memanggil pemuda 22 tahun itu untuk mengikuti seleksi di klub kebanggaan warga Balikpapan.

Tak perlu waktu lama, sejak ia dinyatakan lolos seleksi, Heri dibuatnya menjadi pemain yang lebih berkembang dan bisa bermain di sejumlah posisi, termasuk penyerang. Laga pertama ISC A melawan Arema Cronus pun langsung membuat Heri menikmati debutnya saat itu.

Total 12 penampilan dari 14 pertandingan yang dijalani Persiba menjadi bukti bahwa pemain yang sudah mengoleksi dua gol itu memperlihatkan kemajuan signifikan di bawah komando Matos. Hanya masalah waktu bagi Heri untuk bisa benar-benar membuktikan bahwa dirinya memang pemain dengan kualitas menjanjikan.

Mengapa Anda harus mengenalnya

Umumnya, para pemain sepakbola profesional mengawali karier mereka dengan mendapat dukungan dari sejumlah pihak, termasuk yang berperan besar adalah peran dukungan dari kedua orang tua. Akan tetapi, hal tersebut tidak berlaku bagi Heri Susanto.

Sejak kecil, kecintaannya kepada si kulit bundar harus terbentur dengan kehendak orang tua yang melarangnya bermain sepakbola. “Awalnya waktu masih SD saya enggak dapat ijin untuk main bola. Pulang main bola selalu kena marah,” ujar Heri kepada FourFourTwo.

Ia mengaku jika sang ayah memintanya untuk menekuni bidang olahraga lainnya, seperti karate. Hal itu tak lepas karena ayahnya adalah pelatih seni bela diri asal Jepang itu. “Ayah Heri seorang pelatih karate, sehingga dulu saya diharuskan ikut karate, Mas,” imbuhnya.

Awalnya waktu masih SD saya enggak dapat ijin untuk main bola. Dulu saya diharuskan ikut karate

- Heri Susanto kepada FFT

Jalan terang kemudian menghampiri pemuda kelahiran Magelang itu. Bermula dari seorang RW di kampungnya yang menyarankan agar Heri dimasukkan ke sebuah sekolah sepakbola, akhirnya kedua orang tuanya pun menyetujui. Kendati demikian, sang ayah belum sepenuhnya menaruh kepercayaan kepadanya.

Setelah mendapatkan ijin untuk menimba ilmu melalui SSB, Heri kemudian meneruskan langkahnya dengan mencoba sejumlah peruntungan. Dirinya sempat mengikuti rangkaian seleksi yang digelar oleh Persib Bandung.

“Saya sempat ikut seleksi di Persib U-15 dan U-17, tapi semuanya gagal. Saya juga dipandang sebelah mata dulu,” curhat sang pemain. Ia mengaku apabila setelah kejadian tersebut, sang ayah marah besar dan kembali mempertanyakan keyakinannya pada sepakbola.

Namun, semangat dan kecintaan Heri akan sepakbola membuatnya terus bekerja keras dan berusaha demi membuktikan ambisinya tersebut kepada kedua orang tuanya. “Saya masih optimis meski ayah saya sempat marah gara-gara gagal tembus seleksi,”

Tepat setelah kejadian itu, ia kembali mengikuti seleksi tim Porda yang justru membuka jalan baginya untuk mendapatkan kontrak satu tahun di Persekap Pekalongan yang berlaga di Divisi Satu. Setahun berselang, Heri yang menunjukkan perkembangan berkat latihan keras, akhirnya masuk menjadi bagian tim Pelita Bandung Raya (PBR) U-21.

Di sana, ia terus berkembang menjadi pemain yang diperhitungkan, sampai akhirnya Dejan Antonic yang saat itu masih melatih PBR melihat bakat dan menginginkannya untuk naik ke tim senior. Namun belum sempat menikmati perjalanan panjang bersama PBR, ia terpaksa harus meninggalkan klub tersebut akibat jatuhnya sanksi FIFA kepada Indonesia pada pertengahan tahun 2015 lalu.

Libur kompetisi membuatnya tak ambil pusing untuk menerima pinangan dari klub-klub kecil. “Setelah Indonesia disanksi saya sempat nganggur satu setengah tahun, Mas. Terus klub Citramas Batam nawarin buat main di Liga Nusantara. Ya daripada gak ada penghasilan saya terima pinangan itu, selain itu juga jaga kondisi kalau seandainya ada seleksi-seleksi lagi saya sudah siap,” terangnya.

Usaha ekstra keras dibarengi dengan doa memang tidak pernah mendustakan hasil yang akan diperoleh. Jelang bergulirnya ISC A, pihak Persiba Balikpapan yang tertarik dengan permainannya menghubungi Heri dan segera mengontraknya.

Kini, setelah beberapa kali menghadapi ketidakjelasan nasibnya, Heri menikmati buah dari usaha ekstra keras serta doa yang terus menerus ia panjatkan. Bermain secara reguler di kompetisi tertinggi Indonesia adalah hal manis yang sudah seharusnya membuat kedua orang tua bangga.