Il Sette Magnifico: Ketika Tujuh Tim Serie A Menguasai Italia dan Eropa

Menyedihkan melihat Milan dan Inter kesulitan bahkan untuk menembus zona Eropa saja. Zakky BM pun mengenang kembali ketika kedua tim itu berjaya - begitu juga dengan Parma, Fiorentina, Lazio dan lainnya yang tergabung dalam 'Il Sette Magnifico'...

Sebagai bocah yang tumbuh besar di tahun 90an, saya membaca, menonton dan menyimak kiprah klub-klub Serie A Italia saat itu. Saya ingat betul bagaimana kostum bola pertama saya adalah bernama punggung Oliver Bierhoff (AC Milan), kemudian Gabriel Batistuta (Fiorentina) dan Enrico Chiesa (Parma). Saya juga sempat mempunyai kostum AS Roma dan Juventus meski tak ada nama dan nomor punggungnya. Sangat lazim sekali jika kostum klub-klub besar Italia tersebut tergantung di pasar-pasar saat saya kecil dulu. Mungkin saja, anda sependapat dan sepengalaman dengan saya.

Saat itu, Serie A memang begitu populer, terutama tujuh klub yang hampir selalu bersaing di papan atas klasemen demi gelar scudetto ataupun tiket ke Eropa. Persis seperti ‘Big Six' di Premier League Inggris saat ini. Kepopuleran klub-klub Italia tersebut akhirnya saya ketahui dijuluki The Magnificent Seven oleh media dan fans pada beberapa tahun kemudian. Tujuh klub besar tersebut adalah AC Milan, Juventus, Inter Milan, AS Roma, Lazio, Parma dan Fiorentina. Jika dihitung-hitung, nyaris hanya kostum Lazio dan Inter Milan saja yang saya tak miliki sendiri, meski seingat saya, kostum Christian Vieri (Inter Milan) pernah dimiliki oleh adik saya. Ah, ini hanya paragraf pembuka penuh nostalgia saja. Mari kita lanjut ulasannya.

Oliver Bierhoff, salah satu bintang Milan di akhir 90an

Il Sette Magnifico atau The Magnificent Seven ini kerap kali juga disebut dengan nama Le Sette Sorelle atau The Seven Sister. Gaung dari kebesaran sekaligus prestasi ketujuh klub Serie A Italia tersebut memang terkenal di hampir seluruh Eropa dan dunia. Persingan di kompetisi domestik mereka saja dipenuhi dengan saling sikut. Belum lagi pemain-pemain top dunia banyak yang menjadikan Serie A sebagai destinasi karier mereka selanjutnya.

Persis seperti ‘Big Six' di Premier League Inggris saat ini. Kepopuleran klub-klub Italia tersebut akhirnya saya ketahui dijuluki The Magnificent Seven oleh media dan fans

Salah satu bukti kecil bahwa Serie A Italia selalu kedatangan pemain bintang besar adalah; semua peraih Ballon d’Or dari tahun 1990 hingga 2007 (dibatasi karena Italia terguncang Calciopoli), kecuali Michael Owen, pernah mencicipi bermain untuk tim Serie A. Tak percaya? Anda bisa gunakan gawai serta koneksi internet untuk memastikan fakta ini. Singkatnya, di masa lampau, Serie A Italia adalah destinasi eksotis bagi pemain top dunia.

Dominasi di Eropa tersebut bukan hanya terbantu oleh satu atau dua individu saja. Tim-tim flamboyan dari Italia pun kerap menguasai Eropa, baik di Liga Champions Eropa, Piala UEFA, Piala Winners atau bahkan Piala Intertoto sekalipun.

Jika harus dijabarkan lebih detail lagi, raihan trofi klub-klub Itali di Eropa di tahun 90an hingga 2000an awal maka akan lebih banyak lagi. Berikut daftar singkatnya;

Piala/Liga Champions Eropa
1990 : Juara (AC Milan)
1992 : Runner Up (Sampdoria)
1993 : Runner Up (AC Milan)
1994 : Juara (AC Milan)
1995 : Runner Up (AC Milan)
1996 : Juara (Juventus)
1997 : Runner Up (Juventus)
1998 : Runner Up (Juventus)
2002 : Juara + Runner Up (AC Milan dan Juventus)

Piala UEFA
1990 : Juara + Runner Up (Juventus dan Fiorentina)
1991 : juara + Runner Up (Inter Milan dan AS Roma)
1992 : Runner Up (Torino)
1993 : Juara (Juventus)
1994 : Juara (Inter Milan)
1995 : Juara + Runner Up (Parma dan Juventus)
1997 : Runner Up (Inter Milan)
1998 : Juara + Runner Up (Inter Milan dan Parma)
1999 : Juara (Parma)

Parma bukan hanya sukses mengorbitkan banyak pemain bintang, tapi juga sukses di Eropa

Piala Winners
1990 : Juara (Sampdoria)
1993 : Juara (Parma)
1994 : Runner Up (Parma)
1999 : Juara (Lazio)

Dominasi luar biasa klub-klub Italia ini sedikit banyak ada andil dari ditunjuknya Italia sebagai tuan rumah Piala Dunia tahun 1990 lalu. Fasilitas-fasilitas publik dan tentunya fasilitas sepakbola hampir seluruhnya dibenahi. Belum lagi klub-klub Italia bisa dibilang masih dalam keadaan yang cukup sehat secara finansial untuk mengarungi kompetisi sekaligus mengontrak pemain kelas dunia.