Inggris Perlu Libur Musim Dingin, dan Bukan Hanya Demi Tim Nasionalnya

Sepakbola Inggris selama ini memang tak mengenal libur musim dingin, berkat tradisi yang telah berjalan bersama bertahun-tahun. Tapi libur musim dingin sejatinya sangat diperlukan Premier League, tulis Zakky BM...

Sudah tak terhitung jumlahnya para pemain dan pelatih yang mengeluhkan padatnya jadwal Premier League Inggris terutama pada masa libur Natal menuju pergantian tahun baru. Kebanyakan dari mereka adalah yang baru merumput di tanah Inggris. Louis van Gaal misalnya, saat sang meneer menangani Manchester United dua musim yang lalu, ia berujar bahwa ketiadaan jeda musim dingin di Inggris adalah hal yang kejam dan menurutnya merupakan hal yang tidak baik bagi Inggris itu sendiri.

Jika anda pernah melihat Van Gaal, tentu yang kita tahu adalah seorang sosok dingin yang lebih banyak duduk di bench ketimbang berteriak-teriak di samping lapangan. Pelatih yang tak banyak beraksi di lapangan saja sudah mengeluh, apalagi pemain yang berlari dan bermain di bawah guyuran hujan atau salju sepanjang 90 menit? Tentu saja pemain lebih lelah. Apalagi, seperti yang kita tahu, setiap kali masuk pekan-pekan di akhir tahun, rangkaian pertandingan yang dimulai dari Boxing Day (sehari setelah Natal) hingga tahun baru akan tersaji tiga sampai empat pertandingan untuk setiap klubnya dalam rentang satu pekan sampai sepuluh hari. Jadwal yang mengerikan, pastinya.

Jadwal musim dingin seringkali terlihat mengerikan

Lain bagi Van Gaal, maka lain pula Mourinho. Pelatih asal Portugal yang kini menangani Manchester United selepas Van Gaal itu sempat berujar beberapa tahun yang lalu bahwasanya ia memang tak membenci Boxing day dan pertandingan-pertandingan tanpa henti itu. Meski ia tahu bahwa kerja pemain lebih sulit daripada pelatih di masa-masa tersebut, namun bekerja di gemerlap Natal dan tahun baru menurutnya membuat ia bangga karena telah memberikan kesenangan kepada banyak orang. Alasan yang luar biasa dari seorang Mourinho, tentunya.

Jadwal yang padat ini, seharusnya bisa dimaklumi karena setiap klub di Inggris sendiri, minimal akan menjalani tiga kompetisi domestik. Belum lagi mereka yang lolos ke kompetisi Eropa

Jadwal yang padat ini, seharusnya bisa dimaklumi karena setiap klub di Inggris sendiri, minimal akan menjalani tiga kompetisi domestik yaitu kancah liga, Piala FA dan Piala Liga. Belum lagi mereka yang lolos ke kompetisi Eropa seperti Liga Champions Eropa dan Europa League, maka akan menjalani empat kompetisi dalam satu musimnya. Maka tak heran jika pada transfer musim panas di awal kompetisi, klub-klub yang lolos kompetisi Eropa, berlomba-lomba untuk ‘menimbun’ pemain berkualitas di skuatnya.

Boxing day, yang sudah menjadi tradisi turun-temurun sejak lama sebetulnya menjadi daya tarik tersendiri bagi para penggemar klub Premier League Inggris dan para penggemar sepakbola secara umum. Bayangkan saja, misalnya, ada seorang penggemar Bayern Munich, yang liganya memiliki jeda musim dingin yang mengakibatkan klubnya tak bertanding, maka bukan tak mungkin mencari tontonan seru sepakbola lainnya dan biasanya mengarah pada laga-laga Boxing Day sepanjang festival Natal dan tahun baru. Ini juga tentu berlaku untuk penggemar sepakbola di seluruh belahan dunia.

Hak siar TV menjadi alasan mengapa pemain sekaliber Eden Hazard datang ke Inggris

Kompetisi sepakbola Inggris yang terkenal dengan tingginya pendapatan dari hak siar tiap pertandingan, sudah barang tentu tak mau membuang-buang kesempatan sepanjang festival Natal dan tahun baru ini. Kerugian secara finansial mungkin saja terjadi jika saja Boxing day dihapuskan. Padahal seperti yang kita telah tahu, dengan besarnya pemasukan uang dari hak siar televisi, klub-klub akhirnya mampu membeli pemain-pemain yang bertalenta dari seluruh penjuru Eropa.

Tak mengherankan jika Premier League Inggris kerap dijuluki sebagai liga terkompetitif (bukan terbaik, ya) sejagad. Dengan pemain-pemain kelas dunia yang penyebarannya, bisa dibilang, lumayan merata di tiap klubnya, maka bukan tak mungkin bisa menghadirkan kompetisi yang ketat di sepanjang musimnya. Bahkan bisa dibilang, Boxing day bisa saja dijadikan tolak ukur konsistensi suatu tim kala menghadapai jadwal super padat. Kemampuan pemain, meski melelahkan, akan diuji di liga ini. Intinya, mereka (pelatih, staf, pemain sampai keluarganya) sudah mengetahui dan siap atas konsekuesi yang didapat saat meniti karir sepakbola di Inggris.