Inilah Nasib Para Pemain Indonesia yang Menang atas Qatar di Piala Asia 2004 Sekarang

Kemenangan atas Qatar di Piala Asia 2004 adalah kemenangan yang bersejarah bagi tim nasional Indonesia. Tapi bagaimana dengan nasib para pemain yang tampil di laga itu saat ini? Renalto Setiawan dan Yudha Prastianto mencari tahu...

Sebelum bergabung bersama Qatar, Philippe Troussier adalah pelatih yang mempunyai reputasi besar di kawasan Asia. Dua tahun sebelum pelatih asal Prancis tersebut membuat Jepang tampil menjajikan dalam galaran Piala Dunia 2002, dirinya berhasil membawa Jepang menjadi yang terbaik dalam gelaran Piala Asia 2000. Karena prestasinya tersebut, Troussier kemudian dinobatkan sebagai Pelatih terbaik Asia pada tahun yang sama.

Berangkat dari prestasi tersebut, Qatar mengontrak Troussier pada tahun 2003. Mereka berharap mantan pelatih Marseille tersebut mampu mengulangi prestasi yang sama. Sayangnya, mimpi itu kemudian buyar dalam pertandingan pertama Qatar di Piala Asia 2004, saat secara mengejutkan mereka dipermalukan oleh Indonesia, 1-2.

"Kami mempunyai masalah dengan penyelesaian akhir. Itu adalah kekalahan yang kejam bagi kami, " kata Troussier setelah timnya kalah dari Indonesia. Bagaimanapun itu adalah sebuah kekalahan yang memalukan. Dan dua hari setelah kekalahan memalukan tersebut, Troussier mengundurkan diri. Dirinya akan angkat kaki setelah kiprah Qatar di Piala Asia 2004 berakhir.

Bagi timnas Indonesia sendiri, mereka tidak peduli dengan apa yang terjadi di dalam kubu timnas Qatar. Bagaimanapun, sejak melakukan debut delapan tahun sebelumnya, itu adalah kemenangan perdana timnas Indonesia di ajang Piala Asia – sebuah kemenangan bersejarah yang mungkin cukup pantas untuk dijadikan dongeng sebelum tidur. Saat mendung menyelimuti sepakbola Qatar, publik sepakbola Indonesia terlihat lebih optimis dari biasanya.

"Semua pemain saya melakukan pekerjaannya dan menjalankan taktik kami di lapangan. Qatar adalah tim yang kuat dan ini adalah pertandingan yang sulit," kata Ivan Kolev, pelatih Indonesia pada saat itu. "Untungnya kami berhasil memenangkan pertandingan."

Sayangnya, Indonesia tak mampu mempertahankan performa apiknya di pertandingan pembuka. Pada pertandingan kedua dan ketiga yang menentukan, Indonesia kalah dari tuan rumah Tiongkok (5-0) dan juga kalah Bahrain (3-1). Bersamaan dengan akhir karier Phillipe Troussier di timnas Qatar, Indonesia juga harus angkat koper dari Piala Asia 2004.

Meski demikian, Indonesia layak pulang dengan kepala tegak, karena kemenangan atas Qatar di Piala Asia 2004 tersebut akan selalu menjadi nosalgia penting bagi sepakbola Indonesia, bukan?

Yang kemudian menjadi pertanyaan: siapa saja pemain-pemain Indonesia yang terlibat dalam pertandingan tersebut? Lalu, bagaimana nasib mereka pada saat ini?

Bambang Pamungkas

Bambang Pamungkas memang tidak mencetak gol dalam kemenangan bersejarah Indonesia atas Qatar di putaran final Piala Asia 2004 tersebut, tetapi dirinya mempunyai kontribusi yang cukup signifikan dalam pertandingan tersebut. Gol pertama Indonesia, yang dicetak oleh Budi Sudarsono, tercipta karena assist yang dilakukan Bepe. Sedangkan gol kedua, yang diciptakan oleh Ponaryo Astaman, terjadi setelah Bepe memenangkan duel udara dengan salah satu pemain belakang Qatar.

Saat ini, meski sudah berusia 36 tahun, Bambang Pamungkas masih menjadi andalan lini depan Persija Jakarta dalam gelaran ISC A. Sayang, top skorer sepanjang masa timnas Indonesia tersebut belum mampu mencetak satu gol pun sejauh ini. Saatnya pensiun, Bepe?

Bambang Pamungkas, Indonesia

Syamsul Chaeruddin

Ivan Kolev membutuhkan duet gelandang tengah yang sama baiknya saat bertahan dan menyerang dalam skema 3-4-3 andalannya. Dan dirinya kemudian menemukannya di dalam diri Syamsul Chaeruddin dan Ponaryo Astaman. Jika Ponaryo lebih menonjol saat menyerang, Syamsul tangguh dalam melindungi garis pertahanan.

Dalam pertandingan menghadapi Qatar, keberadaan Syamsul membuat pemain-pemain tengah Qatar tak berkembang. Dirinya mampu membaca bola dengan baik, melakukan tekel jika diperlukan, dan sering menjadi pusat transisi serangan balik yang dilakukan timnas Indonesia. Singkatnya, Syamsul mampu membuat taktik yang diterapkan Kolev berjalan dengan lancar.

Saat ini, meski tak lagi muda, sudah berusia 33 tahun, Syamsul masih mempunyai stamina yang luar biasa untuk terus menjelajah di atas lapangan. Dirinya masih terus diandalkan PSM Makassar, salah satu kontestan ISC A, untuk menjadi jenderal lapangan tengah. Robert Rene Alberts, pelatih PSM, sepertinya tak pernah ragu untuk terus mempercayai kemampuan kapten timnya tersebut.

Syamsul Chaerudin, Indonesia

Firmansyah

Firmansyah adalah salah satu dari tiga bek yang dipercaya Ivan Kolev untuk melindungi Hendro Kartiko, penjaga gawang Indonesia, dalam pertandingan menghadapi Qatar. Pemain yang saat itu masih berseragam Persikota Tangerang tersebut sukses membuat penyerang-penyerang Qatar, terutama Magid Mohammed, tak mampu berbuat banyak. Kedisiplinannya di lini pertahanan bersama Harry Syahputra dan Warsidi menjadi salah satu kunci kemenangan Indonesia.

Sepanjang kariernya bersama timnas Indonesia, Firmansyah bermain sebanyak 21 kali. Saat ini Firmansyah sudah gantung sepatu. Dirinya terdaftar sebagai salah satu karyawan di kantor PDAM kota Bekasi.

Pages