Bagaimana Nasib Para Pemain yang Merebut Gelar Golden Boy Sekarang?

Nama-nama nominasi Golden Boy 2017 sudah dimumkan, dan Joe Brewin serta Greg Lea pun melihat kembali bagaimana nasib para pemenang edisi sebelumnya sekarang.

BACA JUGA: Mbappe dan Dembele Masuk Nominasi Gelar Golden Boy 2017

2003: Rafael van der Vaart (Ajax)

Di tahun 2008 ia diambil Real Madrid dengan harga 13 Juta Euro, menghabiskan dua musim tanpa trofi di ibukota Spanyol tersebut dan kemudian pindah ke Tottenham, di mana ia menjadi sosok yang populer selama dua musim sebelum kembali bergabung dengan Hamburg.

Van der Vaart sudah disebut-sebut akan menjadi pemain hebat sejak awal karirnya. Mengasah kemampuannya di jalanan Amsterdam, tak jauh dari trailer di mana ia tinggal, ia direkrut Ajax pada usia 10 tahun dan dicetak menjadi pemain dengan teknik yang sangat bagus, yang meninggalkan mereka 12 tahun kemudian untuk bergabung dengan Hamburg.

Pemain tim nasional Belanda ini menjadi salah satu langganan tim utama Ajax pada usia 17 tahun dan memenangi gelar Eredivisie dua kali, di tahun 2002 dan 2004. Ia juga sukses menjadi pemain tengah dengan kemampuan mencetak gol yang luar biasa, dengan catatan 14 gol di liga pada musim 2001/02 dan 18 gol di musim selanjutnya (di musim yang dipenuhi dengan cedera sehingga membuatnya hanya tampil 41 kali secara keseluruhan).

Rafael van der Vaart

Van der Vaart melepaskan tembakan sebelum di tahan oleh pemain Skotlandia, Barry Ferguson tahun 2003

Cedera ini akhirnya harus dibayar mahal. Kemampuan Van der Vaart menurun sebelum ia pindah secara mengejutkan ke Hamburg di tahun 2005 – yang disambut dengan rasa jijik seorang Johan Cruyff, selain juga banyak yang lainnya - tapi kepindahannya ke Jerman ternyata merupakan sebuah keputusan yang bijak.

Pada tahun 2008, ia direkrut Real Madrid dengan harga 13 juta, menghabiskan dua musim tanpa trofi di ibukota Spanyol tersebut dan kemudian pindah ke Tottenham, di mana ia menjadi sosok yang populer selama dua musim sebelum kembali bergabung dengan Hamburg.

Itu adalah awal dari sebuah akhir: penurunan Van der Vaart berbanding lurus dengan klubnya, dan setelah finis di posisi ketujuh, mereka dua kali nyaris terdegradasi. Kepindahannya ke Real Betis bahkan lebih buruk lagi – ia jarang tampil dan meninggalkan klub La Liga yang penuh masalah itu setelah satu tahun berjuang.

Ia sekarang berada di Denmark bersama FC Midtjylland dan menjalani musim keduanya di sana.

2004: Wayne Rooney (Man United)

Setiap bermain di turnamen besar bersama Inggris, Rooney selalu gagal total, walaupun dirinya berhasil memecahkan rekor sebagai pencetak gol terbanyak di tahun 2015 dan menjadi pemain selain penjaga gawang yang mencatat penampilan terbanyak untuk Negara-nya di bulan September 2016.

Setelah dua musim yang hebat bersama tim utama Everton dan tampil luar biasa di Piala Eropa bersama Inggris, saat itu rasanya memang hanya tinggal menunggu waktu saja sampai anak emas Inggris ini pindah ke klub yang lebih besar.

Newcastle menginginkannya; tapi Manchester United mendapatkannya dengan harga nyaris £25 juta – yang saat itu menjadi rekor tersendiri untuk seorang pemain di bawah usia 20 tahun.

Di bawah arahan Sir Alex Ferguson ia mencatatkan rekor terbaiknya di Liga Premier dengan 11 gol di musim debutnya, kemudian meneruskannya dengan 10 musim di mana ia mencetak dua digit gol (termasuk dua kali di atas 25 gol), membawa United meraih lima gelar liga dan juga sebuah trofi Liga Champions.

Meski begitu, setiap bermain di turnamen besar bersama Inggris, Rooney selalu gagal total, walaupun dirinya berhasil memecahkan rekor sebagai pencetak gol terbanyak di tahun 2015 dan menjadi pemain non-kiper dengan jumlah penampilan terbanyak di bulan September 2016.

Dua pencapaian terakhirnya hanya menjadi pengalihan isu untuk penurunan permainannya yang sangat mengkhawatirkan, Rooney sudah tidak begitu bagus semenjak musim-musim terakhir Fergie, tapi kini ia tengah berusaha untuk membangkitkan kembali kariernya dengan pindah ke klub pertamanya, Everton.

2005: Lionel Messi (Barcelona)

Messi pada saat itu memang belum menjadi seorang pencetak gol tanpa henti seperti sekarang, tapi kemampuan dribble-nya membuat semua orang terpukau dan ia sudah dianggap sebagai salah satu yang terbaik di Dunia, bahkan sebelum ia melewati masa remajanya.

“Saya tidak pernah melihat kemampuan seperti itu dari seorang remaja,” ucap Fabio Capello setelah menyaksikan seorang anak ajaib terbaru di dunia sepakbola menghancurkan Juventus-nya yang penuh pengalaman di musim panas tahun 2005 dalam pertandingan pra-musim di Barcelona.

“Pada akhir pertandingan, saya mendatangi Frank Rijkaard dan meminta untuk meminjamnya pada musim itu, karena mereka sudah memiliki tiga pemain non-Eropa (Messi dijadwalkan untuk menerima paspor Spanyol di bulan selanjutnya), ia hanya tertawa dan berkata: ‘Tidak akan’.”

Ia akhirnya muncul dengan cara yang tepat. Tentu saja Barca sudah tahu apa yang mereka miliki dalam diri pemain jenius bertubuh kecil ini, tapi sekarang semua orang bisa menyaksikannya.

Messi pada saat itu memang belum menjadi seorang pencetak gol yang tak bisa berhenti seperti sekarang, tapi kemampuan dribelnya membuat semua orang terpukau dan ia sudah dianggap sebagai salah satu yang terbaik di dunia, bahkan sebelum ia melewati masa remajanya.

Ronaldinho, Lionel Messi, Samuel Eto'o

Messi memamerkan trofi Golden Ball miliknya bersama Ronaldinho dan Samuel Eto'o

“Terbaik di dunia? Saya bahkan bukan yang terbaik di Barca,” kata legenda Brasil, Ronaldinho, sambil tertawa pada FourFourTwo di akhir 2005 – tapi ia sama sekali tidak bercanda.

Pemain flamboyan penuh trik ini memang brilian dan mengagumkan, tapi ia kemudian menghilang, tidak seperti Messi yang terus bertahan dan entah bagaimana caranya, bisa semakin bagus tiap harinya, seiring dengan umurnya yang terus bertambah.

Delapan gelar La Liga dan empat gelar Liga Champions hanya menggambarkan sedikit dari kehebatan pemain yang menciptakan 515 gol dalam 590 pertandingan untuk klub yang satu-satunya ia bela dari awal kariernya hingga saat ini. Sekarang, di umurnya yang sudah menyentuh angka 30 tahun, ia masih tetap sama mengerikannya seperti saat pertama kali ia memulai kariernya.

2006: Cesc Fabregas (Arsenal)

Menembus ke tim utama Arsenal pada umur 16 sekitar tiga tahun sebelumnya, Fabregas menjadi pemain reguler di skuat Arsene Wenger di musim-musim setelahnya, bermain bersama pemain-pemain papan atas semacam Gilberto Silva dan Patrick Vieira.

Pemain Spanyol ini bisa dibilang adalah murid terhebat Wenger hingga saat ini; pemain yang dipaksa untuk mengambil tanggung jawab berat dan besar setelah kepergian Vieira ke Juventus di tahun 2005 dan menyambutnya dengan penampilan impresif yang konsisten.

Saat ia memenangi gelar Golden Boy di tahun 2006, dia sudah berusia 19 tahun dan saat itu, ia juga sudah tiga perempat jalan menuju 100 penampilan di Liga Premier.

Tapi trofi tidak pernah datang untuknya. Fabregas memang mengangkat Piala FA di tahun 2005 tapi tidak merasakan kesuksesan apapun dengan Arsenal lagi, jadi ia akhirnya pulang untuk bergabung dengan Barcelona di tahun 2011 untuk memenangi La Liga (tapi tidak Liga Champions) di tahun 2013.

Kepulangannya ini tidak berjalan sesuai rencana, dan kepindahan ke Chelsea di tahun 2014 adalah keputusan yang tepat untuk semua pihak.

Selantjutnya: Pemain yang lebih baik dari Kleberson? (OK, fine)

Pages