Inilah Nasib Para Pemain Persija yang Menjuarai Liga Indonesia 2001

Sejak Liga Indonesia (dan kemudian diikuti dengan pembentukan Indonesia Super League) bergulir, Persija Jakarta tercatat baru satu kali menjadi juara kompetisi liga tertinggi di Indonesia. Lalu bagaimana nasib para pemain di era yang bersejarah tersebut? Gerry Putra mencari tahu...

Gelar juara Liga Indonesia tahun 2001 merupakan sejarah besar bagi Persija Jakarta. Bagaimana tidak? Sudah 22 tahun Macan Kemayoran tidak merasakan gelar juara kasta tertinggi sepak bola Indonesia.

Namun, perjuangan Persija menjadi juara di kompetisi sepak bola modern Indonesia tidaklah mudah. Sempat mengalami keterpurukan para pada era 1990an, Persija mulai bangkit sejak Gubernur DKI Sutiyoso mulai memberikan perhatian kepada Persija.

Sejak tahun 1997, Persija membangun tim super yang menjadi khas Kota Jakarta. Upaya tersebut ternyata tidak instan, perlu bertahun-tahun Persija membangun kekuatannya. Yang menarik, skuat 2001 bukanlah skuat penuh bintang. Pemain-pemain Persija di skuat 2001 pun bisa dibilang perpaduan internal Persija dan pemain muda nasional.

Dengan bekal seperti itu, Persija memang sedikit tidak diunggulkan jika dibanding dengan Persebaya Surabaya dan PSM Makassar. Kedua tim tersebut menjadi kandidat kuat juara Liga Indonesia tahun 2001, terlebih PSM diisi oleh pemain-pemain bintang macam Bima Sakti, Kurniawan Dwi Yulianto, Miro Baldo Bento, sampai Hendro Kartiko.

Akan tetapi, dengan perpaduan internal dan pemain muda itulah, pelatih Sofyan Hadi bisa meramu tim ‘super’ di tahun itu. Berbekal pengalamannya menjadi kapten Persija saat juara tahun 1979, Sofyan menerapkan kerja keras dan kecerdikan taktik yang dimilikinya. Tak heran, sebagai seorang bek, Sofyan tahun betul karakter pemain-pemain tengah dan depan. Sikap kerasnya juga disegani oleh para pemain Persija, menjadikan skuat 2001 bermain seperti sekelompok Macan Muda yang lapar gelar.

Perjalanan Persija ke final tak mudah. Sempat terseok pada awal kompetisi reguler, Persija akhirnya mengamuk di akhir babak reguler. Dan yang menarik ternyata Macan Kemayoran juga mengamuk di babak 8 besar. Persija yang kala itu bermain di Makassar tampil perkasa sebagai juara Grup B. Hasil tersebut membuat Persija bertemu Persebaya di semifinal.

Atmosfer juara sudah dirasakan oleh Persija. Pertandingan klasik melawan Persebaya Surabaya menyedot perhatian warga Ibukota. Saat itu, hampir semua media di Jakarta menyorot kiprah hebat Persija di Makassar. Bahkan, saat melawan Persebaya, stadion penuh dengan pendukung Persija dan hanya beberapa pendukung Persebaya yang hadir di Stadion Gelora Utama Senayan. Hal yang berbeda saat final tahun 1988. Di mana, pendukung Persija hanya segelintir dan hilang ditelan ribuan warga Surabaya yang menikmati kemenangan Persebaya atas Persija saat itu.

Bajul Ijo kali ini tidak berdaya dilahap Macan Kemayoran. Persija pun melaju ke final Liga Indonesia. Di babak inilah, skuat ‘bintang’ Persija bermain lepas. PSM yang punya misi mempertahankan gelar juara yang diraih tahun 2000, bermain cukup tegang. Sofyan Hadi’s Boys bermain atraktif seperti para pendahulu mereka 22 tahun silam. Dua gol dari Bambang Pamungkas dan Imran Nahumarury cukup membawa Persija meraih gelar juara. Gol Miro Baldo Bento dan Kurniawan tak cukup mengejar laju sang macan ke singgasana juara. Hadiah juara pun dipersembahkan Persija kepada warga kota. Di luar stadion, tak hanya The Jakmania (pendukung setia Persija) yang menyambut kemenangan Persija, warga kota pun turut larut dengan kemenangan Persija. Malam yang tak terlupakan oleh para penghuni kotanya MH Thamrin.

Setelah 15 tahun berselang, Persija belum lagi mendapatkan gelar juara. Segala daya upaya membuat Persija kembali berjaya, belum menemukan jalannya. Bahkan saat ini Persija seperti kembali ke era 1990an saat mereka mencoba bangkit dari keterpurukan. Lalu, bagaimana kabar skuat Persija tahun 2001? Apakah mereka masih aktif bermain sepak bola? FourFourTwo mencoba mencari tahu kabar dari skuat juara 2001 tersebut.

Kiper

Mbeng Jean Mambalou

Mbeng datang ke Persija pada tahun 1996 saat usianya masih sangat muda, yakni 19 tahun. Pria berkebangsaan Prancis ini menjadi andalan Persija di bawah mistar gawang. Keahlian dan kecepatan Mbeng membaca pergerakan bola membuat Persija melangkah ke final tahun 2001.

Kiper dengan postur tinggi besar itu tampil gemilang pada kompetisi reguler tahun 2001. Gawang Persija hanya kebobolan 18 gol selama babak reguler. Performa gemilangnya diteruskan di babak 8 besar hingga final. Mbeng membawa harapan besar bagi para pemain bertahan Persija. Hasilnya, Mbeng bermain baik dan membawa Persija juara tahun 2001.

Saat ini Mbeng tidak lagi bermain di Indonesia. Kabar terakhir, Mbeng kini berada di Paris dan sibuk mengurus akademi sepak bola yang dia dirikan. Tidak ada kontak lagi antara Persija dan Mbeng.

Pages