Analisa

Inter Milan, Si Ular yang Kembali Melata di Papan Atas Serie A

Inter Milan kembali mengeliat dalam persaingan perebutan Scudetto musim ini setelah sekian lama hanya berkutat di papan tengah. Arief Hadi menyebutkan faktor-faktor di balik semuanya...

We are part of The Trust Project What is it?

Musim 2017/18 telah berjalan setengah musim. Dari persaingan ketat di lima liga top Eropa, ada yang menarik untuk dicermati jika kita melihat kiprah tim-tim yang belum tersentuh kekalahan sejauh ini. Mereka yang belum merasakah pahitnya kekalahan (di liga) adalah Manchester City, Barcelona, Atletico Madrid, dan Inter Milan.

Dari keempat klub tersebut, munculnya nama Inter tidak disangka-sangka sebelumnya. Maklum, dalam beberapa tahun terakhir ini Inter bukanlah Inter yang sama seperti halnya saat merengkuh treble winners pada tahun 2010 di era Jose Mourinho.

Inter, kompak dengan rival sekota mereka, AC Milan, mengalami keterpurukan mendalam hingga hanya bisa 'gigit jari' melihat dominasi Juventus di Serie A. Berbagai cara dilakukan Inter untuk bangkit, termasuk mencari pelatih yang tepat. Melakukannya pun tak mudah. 

Frank de Boer menjadi salah satu 'korban' kelimbungan Inter musim lalu.

Inter, sampai saat ini ditangani Luciano Spalletti, telah 10 kali berganti pelatih dari Rafael Benitez, Leonardo, Gian Piero Gasperini, hingga terakhir musim lalu, bersama Stefano Pioli. Musim lalu jadi momen terparah dari inkonsistensi manajemen mencari pelatih.

Kelimbungan besar tampak jelas melanda manajemen ketika memecat tiga pelatih dalam satu musim, ya, satu musim. Diawali dari pemecatan Roberto Mancini, yang dilanjutkan pemecatan kepada suksesornya, Frank de Boer, hingga akhirnya Pioli pun dipecat dan digantikan pelatih interim, Stefano Vecchi. Semua dipecat dengan alasan yang sama: gagal mengangkat performa Inter.

Jajaran pelatih bukan satu-satunya sektor yang mengalami perubahan demi misi kebangkitan Inter. Direksi pun terkena efeknya. Pengusaha asal Indonesia, Erick Thohir, terpaksa menjual sebagian besar saham Inter kepada perusahaan asal Tiongkok, Suning Group.

Bersama Suning, Inter diharapkan dapat bersaing dengan klub besar lainnya dalam merekrut pemain. Suning juga langsung menunjuk Walter Sabatini sebagai Direktur Klub untuk menggantikan tugas Michale Bolingbroke dan Marco Fassone. Sabatini bekerja sama dengan Direktur Olahraga Inter, Piero Ausilio, dalam urusan jual-beli pemain. 

Erick Thohir menjual sebagian besar saham Inter ke Suning Group

Dampak revolusi yang dilakukan Inter pun perlahan mulai terlihat musim ini. Sampai giornata ke-16 Serie A, Inter belum pernah kalah, memiliki pertahanan terbaik, keseimbangan di tiap lini, dan menduduki puncak klasemen di atas Napoli dan Juventus.

Teranyar, di laga bertajuk Derby d'Italia melawan Juventus, Inter menahan imbang Bianconeri di J-Stadium dengan skor kacamata. Sekilas, hasil imbang ini tidak berarti apa-apa jika melihat musim yang masih panjang. Akan tetapi bagi Inter (dan mungkin Interista), ini sebuah kemajuan besar.

Tidak mudah menghentikan tren mencetak gol Juve di J-Stadium. Andai Inter masih sama seperti musim-musim sebelumnya, bukan tidak mungkin mereka hanya akan jadi bulan-bulanan atau lumbung gol Juve. Jadi, hasil imbang itu juga bisa diartikan sebagai pesan dari Inter: bahwa mereka siap bersaing merebutkan Scudetto.

"Juve jadi unggulan, tapi Inter juga ikut perburuan gelar, jadi tidak ada yang pasti. Tapi ini adalah Inter yang tampil di atas ekspektasi dan mereka menunjukkan soliditas tinggi," tutur mantan pemain Juventus, Renato Buso.

Setujukah Anda jika dikatakan musim ini merupakan musim kebangkitan Inter? Bisa jadi. Ada sejumlah faktor yang mewarnai kebangkitan Il Biscione (Si Ular) musim ini. 

Pages