Irvin Museng: Ke Mana Bakat Besarnya Sekarang?

Ia pernah dianggap sebagai salah satu bakat muda terbaik yang dimiliki Indonesia. Cedera dan nasib buruk membuat kariernya hanya berusia pendek...

Chad Sugg, seorang penulis puisi, pernah mengatakan, "Nikmati masa mudamu. Anda tidak bisa lebih muda daripada Anda yang sekarang ini." Dan hal itulah yang pernah dilakukan oleh Lionel Messi. 

Pada tahun 2009 lalu, Messi masih berusia sekitar 22 tahun. Namun ia begitu menikmati perannya sebagai dewa sepakbola Katalunya. Saat itu, selalu diharapkan mampu menciptakan keajaiban yang mustahil dilakukan oleh pesepakbola biasa saja, Messi bisa melakukannya dengan mudah. Semudah membalikkan telapak tangan.

Pada musim 2008-09, Messi berhasil membawa Barcelona meraih tiga gelar, juara liga, juara Copa Del Rey, dan juara Liga Champions Eropa. Di final Liga Champions Eropa ia bahkan mampu mengerjai pemain-pemain Manchester United dengan trik-trik ajaibnya yang tidak manusiawi. Gara-gara dirinya, para pesepakbola profesional Manchester United yang menghabiskan hari-harinya hanya untuk menendang bola itu terlihat seperti orang-orang yang baru belajar menendang bola.

Capaian pribadi Messi saat itu juga mengagumkan. Sangat superior. Tampil sebanyak 51 kali bersama Barcelona di seluruh kompetisi, ia mampu mencetak 38 gol dan mencatatkan 17 assist. Pada akhirnya, gelar pemain terbaik dunia pun jatuh ke tangannya. 

Menariknya, sekitar lima tahun setelah kejadian itu, jauh dari Katalunya, seorang bocah berusia 22 tahun bernama Irvin Museng mengalami nasib yang berlawanan. Ia sudah tidak bisa lagi menikmati masa mudanya. Ia merasa bahwa sudah tidak mempunyai harapan lagi. Ia sedang berada di ujung tanduk. Padahal, keinginannya saat itu tak muluk-muluk: ia hanya ingin terus menendang bola.

Lalu, ia mengeluarkan sebuah keputusan yang tidak populer untuk anak-anak muda seusianya. Irvin Museng memilih pensiun dari sepakbola.

"Teman-teman banyak yang bertanya sekarang saya main di klub mana. Saya ingin menyampaikan bahwa saya sudah pensiun dari sepakbola," kata Irvin Museng di akun Twitter pribadinya pada tahun 2014 lalu. "Dan pasti banyak yang menanyakan mengapa saya pensiun dini. Di mana umur saya yang sekarang adalah umur keemasan untuk seorang pesepakbola. Seringnya berkutat dengan cedera menjadi salah satu faktor penyebabnya," ia kemudian menambahkan pernyataannya.

Bagi kebanyakan pecandu sepakbola Indonesia, keputusan Irvin Museng tersebut mungkin tidak penting. Ia belum menjadi pemain top, seperti Boaz Solossa, Kurniawan Dwi Yulianto, serta Bambang Pamungkas, misalnya. Namun bagi orang-orang yang mengikuti perkembangannya sejak awal, keputusan tersebut tentu saja sangat disayangkan.

 

A post shared by Irvin Museng (@irvinmuseng) on

Saat anak-anak seusianya sibuk dengan video game dan permainan anak-anak lainnya, Irvin Museng kecil sudah mampu menunjukkan potensi besarnya sebagai pesepakbola. Tak tanggung-tanggung, ia menunjukkannya di kancah dunia, bukan hanya di kancah sepakbola lokal. Dalam gelaran Donone Cup 2005 di Perancis,  selain berhasil membawa Indonesia finis di peringkat ke-11, ia juga berhasil menjadi top skorer dalam kejuaran bergengsi dunia di level junior tersebut.