Isco Akan Menjadi Pewaris Tahta Iniesta di Spanyol

Gelandang Real Madrid dipuji oleh fans Elche kala bertanding melawan tim kesayangan mereka dan Lee Roden mengatakan pemain berusia 22 tahun ini sekarang (diam-diam) menjadi salah satu bintang Carlo Ancelotti yang paling penting...

DATA FAKTA

  • Tempat Lahir: Benalmádena, Spanyol
  • Tanggal Lahir: 21 April 21 1992
  • Transfer: €30m dari Malaga, musim panas 2013
  • Mantan Klub : Valencia, Malaga
  • Real Madrid: 89 caps, 16 gol
  • Spanyol: 6 caps, 1 gol

Melihat Elche kalah 2-0 dari Real Madrid mungkin tampak sangat biasa, tetapi, sesuatu yang tidak biasa terjadi di Estadio Manuel Martínez Valero. Di menit ke-88, saat pertandingan sudah menjadi milik Madrid, nomor 23 muncul di layar yang diangkat oleh ofisial keempat pertandingan.
 
Dirinya telah melakukan tugasnya dengan baik, Isco mulai berjalan menuju tepi lapangan. Kemudian pendukung Elche mulai bertepuk tangan. Beberapa dari mereka bahkan harus berdiri. Sang gelandang telah menjadi mimpi buruk bagi tim tuan rumah, dimana kebanyakan penonton akan tergoda untuk mengejek, tapi karena penampilannya begitu brilian, membuat para penonton ini merasa pantas memberikan pengakuan positif. Itu jarang sekali terjadi, bahkan dalam persaingan ketat antar bakat individu yang dimiliki oleh para pemain di La Liga.
 
Mendapatkan tepuk tangan dari suporter lawan juga sudah menjadi ciri khas satu gelandang Spanyol lainnya. Setelah gol penentunya di Final Piala Dunia 2010, Andrés Iniesta selalu ditepuk tangani saat keluar lapangan di hampir setiap stadion di Spanyol yang ia kunjungi dengan Barcelona. Satu-satu pengecualian adalah San Mames, tetapi sekali lagi, Athletic Club memang istimewa.

Menerima Tongkat Estafet

Bahkan, Isco menerima kehormatan yang terasa sama signifikan dan simboliknya. Untuk sementara, pemain Madrid ini telah dibandingkan dengan Iniesta, disebut sebagai penerus untuk tahtanya, berkat gaya mereka yang sama dalam membawa bola ke depan dan melewati area yang padat. Seperti biasa, pembicaraan seperti itu dimulai sebelum itu menjadi sangat basi.
 
Iniesta adalah salah satu pemain paling berbakat dalam sejarah sepak bola Spanyol, sama seperti bakat Isco yang sudah tampak beberapa tahun yang lalu. Kini ia masih memiliki banyak hal untuk dibuktikan sebelum mendapatkan hak untuk dibandingkan dengan pemenang Piala Dunia dan Kejuaraan Eropa tersebut.
 
Pengakuan di pertandingan tersebut benar-benar memperjelas proses bertahap selama setahun terakhir atau lebih. Berdasarkan bukti musim ini, Isco mungkin juga siap untuk menyalip sang master.

Isco telah selalu dibandingkan dengan Iniesta sejak masih memperkuat Malaga

Iniesta saat ini kesulitan untuk mencapai level terbaiknya seperti dulu kala, jarang membuktikan ia begitu menentukan seperti dulu dan tentu saja tidak dengan konsistensi. Perubahan gaya di Barca menjadi penyebabnya, tetapi begitu juga dengan usianya yang semakin tua. Pada usia yang hampir menginjak 31 tahun, dia sepertinya tidak mungkin lagi untuk menemukan performa terbaiknya kembali.
 
Isco, sementara itu, sedang berada dalam puncak karirnya. Sisihkan Cristiano Ronaldo, gelandang ini muncul sebagai pemain Real Madrid yang paling penting dalam musim 2014/15; pemain yang masuk saat masalah cedera menghantam di lini tengah mereka, di mana hal tersebut bisa mengancam langkah Los Blancos untuk meraih gelar juara.
 
Luar biasa rasanya jika disimak bahwa dia bukanlah pemain yang dijamin menjadi starter di awal-awal musim ini. Dibangku cadangkan di belakang James Rodríguez di laga Piala Super Spanyol pada Agustus lalu, laga yang menunjukkan siapa saja starter rutin pilihan Carlo Ancelotti, Isco harus menunggu dengan sabar sebelum meraih kesempatan untuk bermain secara teratur, yang akhirnya tersedia karena kekhawatiran mengenai kondisi kebugaran Gareth Bale di musim gugur.

Pada usia yang hampir menginjak 31 tahun, Iniesta sepertinya tidak mungkin untuk menemukan performa terbaiknya kembali.

Mantan pemain Málaga ini sukses mengambil tongkat dan berlari dengan itu. Ia menunjukkannya dalam kemenangan 3-1 Madrid atas Barcelona pada bulan Oktober, yang merupakan pembuka mata nyata bagi siapa pun yang tidak yakin dia bisa bermain seperti itu dan menunjukkan kualitasnya di level tertinggi. Kerja keras merebut bola, tetapi juga menjaga bola dengan sangat baik dari pemain Barca saat menguasainya, ia memberi Madrid ruang bernapas yang mereka butuhkan untuk membunuh setiap peluang kebangkitan Barcelona.
 
Tepatnya, peran penting Isco dalam gol ketiga yang menentukan di laga tersebut melibatkan perebutan bola dirinya dengan Iniesta, sebelum mengirim bola tersebut kepada Ronaldo.
 
Ancelotti mencium pipi gelandang bintangnya saat ia meninggalkan lapangan dan memuji tingkat kinerjanya di konferensi pers pasca-pertandingan, tapi bisa saja dengan mudah menghapus pentingnya kreativitas Isco.

Pemain Yang Berkontribusi

Isco terus berada di atas lapangan sejak saat itu. Ia sekarang sepenuhnya telah beradaptasi dengan peran lini tengah dimana posisinya saat ini sedikit lebih ke dalam, sebuah posisi yang diharapkan Ancelotti untuk terus dipelajarinya dalam 12 bulan terakhir, dia juga mampu turun areannya sendiri untuk menutup ruang dan memenangkan bola serta mendribble bola dan menciptakan kesalahan di sisi lawan.
 
Saat Madrid tidak dalam penampilan yang bagus, Isco justru tetap bermain gemilang. Menonton dia di Mestalla pada bulan Januari, pemain berusia 22 tahun itu mungkin satu-satunya pemain yang pulang dengan segala pujian dari kekalahan 2-1 atas Valencia, tidak pernah lelah dalam usahanya melawan badai yang dibawa Valencia untuk sang pemegang gelar juara Eropa. Itulah tanda seorang pemain merasa nyaman memikul tanggung jawab di sebuah klub di mana tekanan sangat besar.

Isco menyiksa dirinya tiada henti, baik ketika Madrid menguasai bola dan ketika mereka tidak menguasai bola.

Tepuk tangan dari penggemar Elche pada pertandingan tersebut  adalah bentuk penghargaan lain yang diterima pemain bernomor punggung 23 itu, yang menyimpulkan perkembangannya berjalan dengan baik sebagai gelandang. Bek sayap lawan, Damián Suárez, pasti menghitung waktu hingga pertandingan berakhir, Isco menyiksa dirinya tiada henti, baik ketika Madrid menguasai bola dan ketika mereka tidak menguasai bola.
 
Ketika Suárez meluncur untuk melakukan tantangan, Isco tak kenal takut, berlari setengah yard dari pemain yang mengawalnya dan menempatkan dirinya dengan tepat untuk memberikan penguasaan bola pada Madrid.
 
Ketika sang pemain belakang melakukan usaha untuk menghentikan Isco dengan berdiri, dia terkecoh, dikalahkan oleh kecepatan Isco, satu satunya yang mengakibatkan Isco menusuk ke sayap sebelum melepas umpan silang sempurna untuk sundulan Ronaldo. Sentuhan permainan sayap klasik dari pemain tengah, yang melihat ruang dan mengambil keuntungan.

Pembantu Serangan, Bukan Penyerang

Posisi Isco yang lebih dalam membuat torehan golnya lebih sedikit daripada saat dia di Malaga - itu menjadi kekecewaan bagi siapa saja yang mengingat serangan spektakulernya dalam seragam biru dan putih - tetapi ketika serangan itu muncul, itu adalah serangan berkarya seni.
 
Isco jarang menembak rendah dan mendorong bola, dia lebih memilih penempatan daripada kekuatan, secara teratur menembak dari belakang deretan bek, bola melengkung tinggi ke jala gawang untuk menyulitkan para kiper. Ketiga golnya musim ini di liga tercipta lewat proses yang sama, sebuah pengingat bahwa pemain kreatif dan petarung juga bisa melakukan penyelesaian yang luar biasa jika ada kesempatan.
 
Penampilannya musim ini membuat namanya menjadi buah bibir, dari pemain hingga penulis. Pada hari Minggu, Iker Casillas mengaku: "Kita bicara tentang pemain paling penting yang akan dimiliki negara ini ke depannya," ketika ditanya tentang rekan satu timnya. Mengingat si kiper telah berbagi ruang ganti dengan begitu banyak  talenta hebat Spanyol sepanjang masa, ia berada dalam posisi yang baik untuk menilai.
 
Penulis olahraga El Pais, Cayetano Ros, menjulukinya sebagai "pengganti Iniesta" dalam tulisannya ngtent pertandingan liga akhir pekan. Ros adalah penulis sensasional, dan dia menggunakan istilah yang berbobot. Perbandingan yang mirip antara keduanya kini terlihat lebih bisa dibenarkan dari sebelumnya.
 
Bagaimana dengan Iniesta sendiri? Gelandang ini sudah lebih dulu memuji Isco, yaitu pada bulan Agustus 2013, saat Isco sudah menjadi pemain yang bagus, bahwa ia akan menjadi lebih baik - baik untuk La Roja dan klubnya. Bagian klub sudah terpenuhi, bagian internasional akan segera datang, mungkin dengan pengorbanan Iniesta.

Real Madrid vs Villarreal ANALISA LANGSUNG dengan Stats Zone