Wawancara

Ivan Campo, Sang Duta La Liga yang Pernah Bersinar Terang di Premier League

Underrated di mata sepakbola Eropa, terasa asing di telinga pecinta sepakbola Asia. Timotius MP berkesempatan untuk mewawancarai Ivan Campo yang sedang berkunjung ke Indonesia untuk mempromosikan La Liga.

We are part of The Trust Project What is it?

Ivan Campo Ramos memang nama yang – jujur saja – cukup asing di telinga para pecinta sepakbola di Indonesia. Namun tidak akan terdengar asing jika Anda mengikuti kiprah Real Madrid pada akhir dekade 90-an hingga awal 2000an, serta Bolton Wanderers ketika mereka memiliki El Hadji Diouf dan Jay Jay Okocha.

Ivan Campo adalah mantan punggawa dari dua tim itu. Ketika di Madrid, sebagai bek tengah, ia lebih sering menjadi pemain pelapis untuk sosok besar seperti Fernando Hierro, Manuel Sanchis dan Aitor Karanka. Meski pun hanya sebagai pelapis, lima tahun Ivan di Madrid dilalui dengan sangat manis – bahkan dipenuhi oleh piala yang jauh lebih bergengsi dibandingkan Ronaldo dari Brasil yang mengalami penurunan sejak pindah ke ibukota Spanyol itu.

Bersama Madrid, Ivan menjadi juara La Liga 2000/01, Intercontinental Cup 1998 dan – ini yang spesial – dua kali menjuarai Liga Champions musim 1999/00 serta 2001/02. Apalagi di final tahun 2000, Ivan bermain 90 menit penuh. Ketika itu ia dipasangkan dengan Karanka – dan Ivan Helguera di posisi sweeper – untuk meredam perlawanan mantan timnya tersebut yang dikomandoi oleh Gaizka Mendieta serta Claudio Lopez.

“Sebuah perasaan yang sangat menyenangkan karena saya bisa bermain di final Liga Champions. Apalagi akhirnya Real Madrid keluar sebagai pemenang walaupun harus melawan mantan tim saya, Valencia,” ucap Ivan ketika FourFourTwo temui di Serpong, Tangerang Selatan.

Namun kisah manisnya di Madrid tidak berlangsung lama. Setelah menjuarai Liga Champions 2002, dengan kesempatan bermain yang semakin sedikit, Ivan dipinjamkan ke Premier League, tepatnya ke Bolton Wanderers, tim yang musim sebelumnya nyaris terdegradasi. Di sana ia menemukan lagi apa yang disebut sebagai permainan sepakbola.

Kenapa Anda memutuskan bertahan di Bolton daripada kembali ke Madrid? Apa yang menyebabkan Anda memilih keputusan itu?

Saat itu, kondisi saya memang sudah habis masa kontrak di Madrid. Itulah mengapa saya harus pergi mencari klub yang baru. Dan Bolton mau mempermanenkan saya di sana.

Ketika Anda bermain di Bolton, mereka bisa memberikan permainan terbaik sepanjang sejarah Bolton berdiri – dengan berhasil masuk ke kompetisi Eropa. Mengapa hal itu bisa terjadi pada masa Anda bermain di sana?

Karena Bolton adalah tim yang mempunyai ciri khas tersendiri. Bahkan lebih punya ciri khas daripada kebanyakan tim-tim di Premier League. Dan ketika saya bermain di Madrid, saya bermain lebih sebagai bek tengah, sedangkan ketika di Bolton, posisi saya lebih sebagai gelandang bertahan. Karena itu adalah perbedaan yang terasa untuk saya sendiri.

Tentang Ronaldo dan Hierro

Di Bolton, Ivan betul-betul menemukan tim yang seharusnya sudah ia tempati sejak dulu. Ia lebih berguna di sana. Bahkan ketika masih masa peminjaman pun, ia sudah dipercaya sebagai pemain utama oleh manajer Sam Allardyce. Daripada menaruhnya sebagai bek tengah, Big Sam memilih untuk memberikan peran berbeda bagi Ivan. Gelandang bertahan adalah posisi yang dijalani pemain kelahiran 21 Februari 1974 itu selama masa baktinya di Reebok Stadium.

Lima musim di Bolton, dua kali Ivan mampu membawa mereka ke kancah Eropa, bahkan dalam musim pertamanya setelah pindah secara permanen. Di sana, ia saling bahu-membahu bersama nama-nama seperti Okocha, Diouf, Hierro, Kevin Nolan, Youri Djorkaeff, dan Gary Speed. Sayangnya, Ivan tidak mau untuk menjawab pertanyaan saya ketika saya menanyakan apa kesannya terhadap Speed, mantan rekan satu timnya selama empat musim di Bolton, yang sudah meninggal dunia pada 2011 silam.