James Rodriguez: Saya Bukan Orang Yang Baik

Jurnalis FFT, Andrew Murray membeberkan semua hal tentang pemain Galactico terbaru, James Rodriguez kepada kita semua.

"Bisakah semuanya diam sejenak sekarang? teriak seorang direktur Spanyol di sebuah studio televisi Madrid. Dia memberitahu dan bukannya meminta. "Kami punya anjing di dalam studio."
 
Seketika James Rodriguez menoleh saat Sandy, seekor bulldog putih-coklat berusia tiga tahun, memasuki ruangan di belakang pemiliknya. James nyaris tidak bisa menahan kegembiraannya, Galactico terbaru ini langsung melihat dengan seksama anjing sebesar 35cm tersebut yang memiliki lipatan kulit yang banyak, ekspresi muram dan sesekali bersin.
 
"Bukankah dia lucu? James berbisik, sambil berlutut untuk memberikan Sandy tepukan, sama sekali tidak menghiraukan sang direktur. "Berapa tahun umurnya? Anda tahu, saya bisa melakukannya sepanjang hari!"
 
Beberapa menit kemudian, dua bintang tamu studio terbesar berada di depan kamera dan saling melepaskan satu sama lain. Dalam satu kesempatan, Sandy berdiri dengan kaki belakangnya, playmaker Kolombia kemudian menyetuh hidungnya untuk mengubahnya warnanya menjadi emas. Sayangnya, Sandy tetap seperti itu, tidak menjadi seekor anjing emas.
 
Sejak Piala Dunia musim panas lalu, semua orang dari rekan senegaranya, Sofia Vergara, hingga putri pop, Rihanna, menginginkan anak emas ini, bakat yang luar biasa dan pesonanya yang kekanak-kanakan. Sekarang, beberapa adegan lagi setelah mengucapkan selamat tinggal pada Sandy, James menjalani wawancara pertamanya untuk FFT di ruang make up, tidak dengan rambut berantakan.
 
Berpakaian serba hitam dari kepala sampai kaki, untuk pertama kalinya penata rias pribadinya, yang berusia sekitar 30an dengan cambang yang rapi, mengenakan jins dan rompi abu-abu dan botol semprotan perak, tidak berada di sampingnya di sore itu.
 
Ya, pemuda ini adalah seseorang yang suka difoto, sama dengan kamera mencintai dirinya, tapi dia adalah seorang pertarung alami yang bisa saja memilih jalan yang berbeda di luar sepakbola dalam begitu banyak kesempatan dalam hidupnya. Dia tidak pernah melakukannya. Dia tidak dapat menyingkirkan impian untuk mengenakan seragam putih Real Madrid suatu saat nanti, tak peduli berapa hambatan yang mustahil untuk diatasi.
 
Kenapa? Itulah kenapa dia menceritakannya kepada FFT...
 
Tetangga kami yang menakutkan membuka jendela rumahnya dan berteriak akan membunuh kami jika kami tak berhenti bermain sepakbola
 
Semuanya berawal ketika James David Rodriguez  tidak lagi memakai popok. Baru berusia tiga tahun, ayahnya Wilson James Rodriguez - seorang pemain sepak bola profesional yang bermain di Piala Dunia U-20 1985 untuk Kolombia, bersama kiper 'tendangan kalajengking', Rene Higuita - meninggalkan rumah keluarga di Cucuta, di perbatasan Venezuela. Dia jarang melihat ayahnya sejak itu.
 
Ketika James dan ibu Pilar pindah ke Ibague, kecintaannya pada sepakbola dimulai. Neneknya Dona Rosa, masih bercerita tentang James yang berusia empat tahun mengintip dari atas balkon untuk memperhatikan keributan yang terjadi di jalan. Setelah melihat latihan klub lokal divisi tiga, Cooperamos Tolima, ia dengan cepat meminta untik dibawa ke seberang jalan yang sibuk untuk menonton dari sudut pandang yang lebih baik.
 
Adalah ayah tirinya Juan Carlos Restrepo - seorang pesepakbola amatir sebelum fokus pada karir di bidang teknik - yang pertama kali melihat dan mengasuh bakat James muda yang dewasa sebelum waktunya.
 
"Dia (Restrepo) memainkan peran besar dalam karir saya," kata James, suaranya bergetar bukan karena kegagapan yang terjadi pada dirinya sejak ayahnya meninggalkan keluarganya, namun murni karena peran Restrepo saat itu. "Dia membuat saya pergi ke sekolah sepakbola ketika saya berusia enam tahun. Ia melihat bahwa saya punya bakat dan sentuhan yang diperlukan untuk bermain sepak bola pada tingkat tinggi dan yakin bahwa saya harus pergi ke sebuah akademi untuk belajar lebih lanjut tentang sepakbola."
 
Tapi, tidak semua orang terkesan oleh keterampilan James. Ujian  pertamanya di tim muda di Ibague tidak berjalan sesuai rencana.
 
"Pada akhir sesi, pelatih mengatakan saya tidak cukup bagus," kata James, dengan tersenyum. "Beberapa tahun kemudian, saya bermain melawan timnya dan dia tidak bisa percaya bahwa itu saya. Dia terus berteriak pada ayah tiri saya, 'Bawa dia kembali! Tolong bawa dia kembali!" Tapi kami tidak mau tahu. Ayah tiri saya hanya berkata: "Lihat, anda sudah punya kesempatan'. Saya suka cerita itu."
 
Untungnya, tim muda lain, Academia Tolimense, menyadari kejeniusannya ketika muncul dengan sendirinya. Meskipun mendapatkan pelajaran formal di Ibague, kemampuan taktis yang meningkat dan bakat tinggi, ayah tirinya dan dirinya tidak pernah berhenti bermain sepakbola jalanan.
 
"Saya ingat kami bermain di luar rumah kami, menendang bola ke dinding," kenang James, "dan tetangga menakutkan kami membuka jendela dan berteriak bahwa ia akan membunuh kami jika kami tidak berhenti bermain!"
 
Saat pertama kali itu terjadi, James yang masih sangat pemalu menangis, karena keluarga dari dua rumah menghinanya. Keluarganya merawat sentuhan pertama pemain 23 tahun itu dan cara dia mengolah bola, bukan menendang, tercipta hari itu.
 
 
"Saya seorang pejuang alami. Saya meninggalkan negara asal saya, dan yang saya tahu, saya pindah ke luar negeri sendirian ketika saya masih 15  tahun."
 
Pada tahun 2004, dia mengapteni Academia Tolimense ke Ponyfutbol Cup - turnamen sepakbola utama untuk pemain muda Kolombia - bahkan mencetak gol langsung dari sepak pojok di final, dua kali, hanya untuk membuktikan itu bukan kebetulan. Diwawancarai oleh kru TV yang menunggunya usai pertandingan, James menyatakan: "Saya ingin menjadi seorang profesional."
 
Dia masih berusia 12 tahun. Apakah ia pernah ingin menjadi sesuatu di luar sebagai pesepakbola?
 
"Jelas tidak," jawabnya langsung dan tegas. "Sejak saya punya gagasan, ide atau kesempatan - ketika saya masih berusia sekitar enam atau tujuh tahun - itu adalah hal yang mungkin bermain sepakbola untuk menghidupi diri, itulah yang ingin saya lakukan. Saya selalu ingin menang dalam segala hal, itu tidak berubah."
 
Turnamen itu jelas mengubah hidup James. Ditonton oleh pencari bakat dari Envigado, keluarganya pindah lebih dari 200 km ke sebelah utara menuju kota Medellin. Dalam waktu dua tahun, ia membuat debut pertama untuk timnya - pada usia 14 tahun ia menjadi pemain termuda dalam sejarah divisi sepakbola teratas Kolombia - dan membawa Envigado promosi ke Primera Division pada musim pertamanya.
 
Empat tahun kemudian, pada tahun 2008, ia pindah ke klub papan atas Argentina, Banfield. Dia tahu dia akan sangat merindukan keluarganya, yang tidak bisa menemaninya di waktu ini. Dia tahu resikonya. Tapi, yang paling penting, ia tahu itu yang terbaik untuk karirnya.
 
"Saya seorang pejuang alami," ungkap James. "Saya meninggalkan negara asal saya, dan yang saya tahu, itu untuk pindah ke luar negeri sendirian ketika saya berusia 15 tahun. Saya melakukan ini karena saya ingin sukses di olahraga yang saya cintai."