Javier Mascherano Pemain Paling Penting Argentina Ketimbang Lionel Messi

Pemain yang berisi penyerang-penyerang kelas dunia, tetap membutuhkan satu pemain yang bisa melakukan pekerjaan "kotor" kata Greg Lea...

Sebuah pertandingan yang luar biasa menarik selama dua babak. Seluruh isi stadion Estadio La Portada di La Serena menjadi saksi bisu dari permainan indah sepak bola menyerang di 45 menit pertama, sebuah kualitas serangan yang luar biasa dan sukses membuat Argentina unggul dua gol. Tim Tango mengandalkan trio Lionel Messi, Sergio Aguero dan Angel Di Maria, mereka bertiga tidak terhentikan dan sangat aneh apabila kita melihat pada akhirnya, tim asuhan Tata Martino tidak mengangkat piala Copa America di Santiago pada 4 Juli nanti.

Akan tetapi, semuanya berubah drastis pada babak kedua. Paraguay, lawan Argentina pada pertandingan tersebut melawan dengan menyamakan kedudukan menjadi 2-2 yang membuat Lionel Messi dkk sedikit terkejut dengan permainan lawannya. Hasil imbang tersebut sangat tidak masuk akal bagi tim yang difavoritkan untuk menjadi juara pada kompetisi tertinggi Amerika Latin ini, mereka diprediksi akan mengakhiri 22 tahun tanpa trofi di tim senior mereka. Tetapi lini tengah mereka dipertandingan melawan Paraguay seperti tidak bisa mengatur dan mendominasi jalannya pertandingan di babak kedua. Martino sepertinya tidak akan mengganti skema permainannya, dengan pola permainan Argentina yang mengandalkan umpan-umpan pendek yang membuat kita terpukau dan diakhiri dengan serangan balik yang cepat benar-benar membuat mereka harus membayar akibatnya.

Pemain Paraguay, Paulo da Silva, Lionel Messi

Paulo da Silva merayakan golnya, Messi terlihat kecewa

Pertahanan Lebih Diutamakan Dari Serangan

Skema dari mantan pelatih Barcelona tersebut pada pertandingan ini memang patut dipertanyakan, keputusannya untuk memainkan Carlos Tevez dan Gonzalo Higuain di menit 75 dimana saat itu mereka sedang unggul 2-1, dipertanyakan banyak pihak. Kenapa dia tidak memasukkan pemain bertahan untuk mengamankan keunggulan mereka, Argentina seharusnya bisa merebut tiga poin pada pertandingan ini, tetapi pada akhirnya mereka hanya mendapatkan satu poin di akhir pertandingan, dan oleh karena itulah, banyak pihak menanyakan apakah Abiceleste tidak memiliki skuat yang seimbang dan hanya tergantung kepada bintang-bintang besar mereka untuk memenangkan gelar Copa America yang ke 15 bagi mereka.

Kemasukan dua gol pada babak kedua membuat Argentina bermain lebih hati-hati pada dua pertandingan selanjutnya yang berakhir dengan dua kemenangan 1-0 atas Uruguay dan Jamaika. Walaupun sepertinya tugas mereka sudah selesai di babak penyisihan grup, Argentina memiliki penyerang-penyerang yang luar biasa berbahaya di lini depan mereka, dengan dua clean sheets dan dua kemenangan tipis sepertinya mereka bisa berharap lebih apabila melihat deretan pemain yang ada di skuat mereka.

Sama seperti Piala Dunia tahun lalu, dimana Argentina tidak kemasukan gol sama sekali di babak knockout hingga akhirnya Mario Gotze berhasil mencetak gol pada extra time dan berhasil membawa Jerman juara di babak final, hal itu bukan tidak mungkin terulang kembali, jadi pertahanan yang kuat bisa membawa anak asuhan Martino ini sukses di Cile.

Dengan pertandingan perempat final melawan Kolombia, ada perasaan bahwa pemain terpenting di skuat Argentina bukanlan Messi, Di Maria, Aguero, Tevez ataupun Higuain, tetapi Javier Mascherano, pemain tengah pekerja keras yang bermain secara lugas tepat di depan empat pemain belakang Argentina. Apabila Argentina ingin mengakhiri kutukan selama dua puluh tahun tanpa gelar di Copa America, pemain Barcelona ini adalah kuncinya.

Terlahir Untuk Barça

Permainan tradisional Argentina yang tersisa adalah pemain murni no.5 mereka, nama-nama sebelumnya yang mengisi posisi no.5 adalah Antonio Rattin, Diego Simeone dan Sergio Batista

Mascherano lahir di San Lorenzo, sebuah provinsi dari Santa Fe, sebuah area di Argantina yang juga melahirkan Messi, Di Maria, Gabriel Batistuta, Jorge Valdano dan Marcelo Bielsa. Setelah bermain di tim lokal, Barrio Vila dan Club Renato Cesarini di awal-awal tahun karirnya, Mascherano setelah itu bergabung dengan tim muda River Plate dan melakukan debutnya di level tertinggi sepakbola Argentina pada umur 19 tahun, sebulan setelah debutnya, dia tampil untuk kali pertama bagi timnas Argentina. Pada 2005, dia dan Tevez bergabung dengan West Ham United dan menjadi dua transfer teraneh yang pernah terjadi sepanjang masa, sebelum pemain yang mendapat julukan "El Jeficito" (Pemimpin kecil) pindah untuk memperkuat Liverpool dan Barcelona, di Spanyol dia berhasil memenangkan dua gelar Liga Champions dan tiga gelar La Liga selama di bermain disana hingga saat ini.

Mascherano: West Ham, Liverpool, Barcelona

Dari Boleyn ke Barca: Kisah hidupnya seperti dongeng

Sepak bola Argentina selalu terobsesi dengan pemain yang berposisi enganche, sebuah posisi old-school dari seorang playmaker yang berposisi tepat di belakang para penyerang, dimana posisi ini memiliki tanggung jawab untuk meningkatkan kreatifitas serangan selama pertandingan. Juan Roman Riquelme, Javier Saviola dan Pablo Aimar adalah pemain-pemain yang pernah bermain di posisi tersebut dalam beberapa tahun terakhir, mengikuti jejak Ariel Ortega dan Ricardo Bochini.

Sementara itu, kecepatan permainan sepak bola modern sudah sangat berubah dan membuat posisi tersebut sudah tidak terlalu dibutuhkan lagi dan seperti tersia-siakan, satu-satunya permainan tradisional Argentina yang tersisa adalah pemain murni no.5 mereka, nama-nama sebelumnya yang mengisi posisi no.5 adalah Antonio Rattin, Diego Simeone dan Sergio Batista, yang dengan sempurna ada dalam diri Mascherano saat ini. 

Diam-Diam Menjadi Andalan

Tugas utama dari pemain No.5 adalah untuk melindungi empat pemain belakang timnya dan merebut bola dari lawan saat mereka sedang menyerang. Dia adalah tipikal pemain yang penuh dengan kesabaran, pandai untuk melakukan pergerakan menusuk ke pertahanan lawan dan penuh dengan determinasi, tetapi khusus bagi Mascherano, dia juga memiliki kemampuan teknik yang luar biasa, Anda tidak bisa bermain sebagai pemain belakang yang senang memainkan bola saat di asuh oleh Pep Guardiola tanpa memiliki kenyamanan dan kepercayaan diri saat menguasai bola.

Saat akhirnya Argentina memaksakan adu penalti kala melawan Belanda di semi final Piala Dunia tahun lalu, Mascherano tidak bisa kita labeli sebagai pemain yang menentukan kemenangan, tetapi dia adalah pemain yang dibutuhkan oleh Alejandro Sabella untuk membawa timnya hingga babak final. Gambaran bagaimana permainan tekun Mascherano di semi final tersebut adalah saat dia mem-block tendangan Arjen Robben padahal pemain Bayern Munich tersebut sudah berada di depan gawang Argentina. Sebuah pergerakan yang menawan yang berhasil menyelamatkan negaranya untuk tetap berada di Piala Dunia. Messi mungkin memenangkan penghargaan Bola Emas di turnamen empat tahunan tersebut, tetapi Mascherano adalah pemain terbaik Argentina pada musim panas tahun lalu.

Messi mungkin memenangkan penghargaan Bola Emas di turnamen empat tahunan tersebut, tetapi Mascherano adalah pemain terbaik Argentina pada musim panas tahun lalu.

Hal itu juga yang bisa menjadi faktor penting Argentina di Copa America kali ini. Messi, pemain yang sangat berbakat memang bisa menampilkan permainan individual yang pantas kita kenang sepanjang masa. Di Maria dan Tevez juga memiliki kapasitas yang sama seperti penyerang Barcelona tersebut, sedangkan Javier Pastore telah menunjukkan kemampuannya untuk melakukan tusukan-tusukan dan vertikalitas di lini tengah mereka, lalu ada Sergio Aguero yang adalah seorang penyerang dengan tipikal predator di lini depan Argentina.

Masalah utama dari tim ini adalah, dengan dahsyatnya pemain bertipikal menyerang yang mereka punya, membuat sering sekali lawan mereka memaksimalkan kelemahan yang dipunya di lini belakang Argentina, dengan masih panjangnya perjalanan mereka di kompetisi ini, pemain terpenting bagi Argentina kemungkinan besar adalah Mascherano, seorang pemain yang selalu mengisi dan menambal kekosongan yang ada di tim saat pertandingan berjalan, dia juga bisa mengatur pertahanan timnya dengan tenang dan memberikan alternatif serangan bagi timnya, dimana lini depan mereka sangat membutuhkan alternatif untuk menciptakan gol. Dia mungkin bukanlah pemain bintang yang membuat pemain lawan berlari kepadanya saat pertandingan usai untuk melakukan selfie, tetapi pemain Barca ini bisa menjadi salah satu pemain yang bisa memimpin Argentina menjadi juara di Cile pada musim panas kali ini.

Baca artikel pilihan seperti ini, setiap harinya di FFT.com