Kisah

Juanito: Seorang Petarung dan Legenda Real Madrid Sejati

Tak ada pemain yang lebih dicintai oleh penggemar setia Madrid ketimbang pemain sayap yang temperamen ini, yang meninggal dalam kecelakaan mobil di usia 37 tahun, meski Lothar Matthaus jelas tidak menyukainya...

We are part of The Trust Project What is it?

Ada air mata menetes dari mata Juanito. "Saya dikutuk," teriak pemain sayap Real Madrid itu ke awak media Spanyol setelah kekalahan 4-1 Real Madrid atas Bayern Munich di leg pertama semifinal Piala Champions 1986/87. "Saya pikir saya telah berubah sebagai individu dan sebagai pemain sepakbola, tetapi ternyata tidak."

Pria berusia 32 tahun yang emosional dari Andalusia, dengan kemauannya yang besar untuk menang, mendapatkan kartu merah di bulan April dalam laga yang dihelat di Jerman karena menginjak kepala Lothar Matthaus.

"Hal-hal seperti ini bisa mengakibatkan saya pensiun dari olahraga ini," tambahnya. "Pada saat-saat itu, Anda bukan diri Anda sendiri. Ada orang lain yang mengendalikan Anda; Anda melakukan hal-hal yang tidak Anda sadari. Sungguh - saya tidak tahu apa yang saya lakukan."

Rekaman video dari aksi brutak itu tersebar ke seluruh dunia. UEFA memutuskan untuk melarang Juanito bermain di kompetisi Eropa selama lima tahun. Manajer disiplin Real Madrid, Leo Beenhakker, tidak bisa lagi mentolerir aksi kasarnya yang sudah termasuk meludah, meninju wasit, dan bahkan adu manusia melawan banteng. Ia dijual di musim panas tahun itu, sekaligus mengakhiri karierna di Santiago Bernabeu yang sudah berlangsung selama satu dekade.

Penggemar Los Blancos sangat kecewa dengan kepergiannya. Dia adalah sosok yang bisa mewakili madridismo - esensi dari apa artinya mengenakan jersey putih terkenal Real Madrid - ketimbang pemain lainya,  "Jika saya bukan seorang pemain, saya akan menjadi suporter fanatik Madrid." Dia jelas merupakan salah satu suporter setia Madrid.

Dia adalah John Terry-nya Real Mdrid: nyaris dibenci oleh semua pihak di luar klubnya, tetapi seorang pemenang yang rela melakukan apa pun untuk mencapai tujuannya. Dia adalah pemenang yang masih ada di setiap pertandingan Madrid, meski dia meninggal secara tragis pada April 1992 pada usia 37 tahun.

"Dia adalah penyanyi opera; kami hanya pengiringnya"

Juan Gomez Gonzalez tumbuh dengan bermain sepakbola bersama sang ayah, Juan Sr, di sekitar pantai Fuengirola, sebuah desa nelayan di Costa del Sol di tahun 1950-an.

Perjalanan Juanito ke Real Madrid diikuti dengan cerita mengenai kariernya secara keseluruhan: kemenangan dengan etos kerja keras dan semangat pantang menyerah. Setelah tiga tahun bermain di tim junior Atletico Madrid, cedera lutut yang serius membuat masa depan pemain berusia 17 tahun itu menjadi tidak jelas di Burgos. Di musim keduanya di sana, pada 1975/76, dia hampir sendirian membawa timnya meraih tiket promosi ke divisi teratas - dan kemudian membuat mereka bertahan di sana tahun berikutnya. Majalah bergengsi Don Balon memilihnya sebagai pemain terbaik tahun itu.

"Dia sosok yang emosional," kata rekan satu timnya, Pepe Navarro. "Dia meledak-ledak. Dia bersedia jatuh bangun. Dia adalah penyanyi opera, dan kami hanyalah pengiringnya."

Raksasa Spanyol pun tak lama kemudian memnggilnya, dan Real Madrid mengalahkan  Barcelona untuk mendapatkan tanda tangan pemain yang paling diinginkan di negara tersebut. Juanito bukanlah pencetak gol tercepat, yang paling terampil, atau paling produktif, meski dia memenangi gelar top skorer pada 1983/84 di liga. Namun, dia adalah correcaminos tim: pemain yang rajin berlari dan tidak akan pernah lelah dan tidak pernah menyerah untuk kalah.

"Kedatangan Juanito sangat penting bagi Real Madrid," kata Carlos Santillana, penyerang yang mendapatkan banyak pasokan bola dari Juanito yang bermain di sayap kanan. "Dia memiliki semangat, dan berpikir jenius dalam melakukan apa yang dibutuhkan. Dia adalah pemenang dan dia akan terus bekerja keras sepanjang 90 menit."

Karakternya itu juga dibawanya ke rumah. Putrinya, Jenifer, berkata: "Setiap kali Madrid kalah, ada dua hari yang hening. Anda tidak dapat berbicara tentang sepakbola, dan hanya tentang olahraga secara umum dengan suara yang sangat pelan. Dia benci kalah."

Juanito memenangi tiga gelar liga berturut-turut bersama Real Madrid dan mencapai Final Piala Champions 1981 di Paris, di mana mereka kalah 1-0 dari Liverpool. Dia meredakan kekecewaan timnya, mengklaim bahwa kekalahan itu akibat kesalahan sahabtanya, Santillana, karena membiarkan istrinya memakai warna kuning yang membawa sial ke final."

Kesuksesan berikutnya dipuncaki dengan meraih Piala UEFA dua kali beruntun pada tahun 1985 dan '86, meskipun kehilangan posisinya di tim inti selama pertengahan 1980-an karena kehadiran sejumlah pemain muda yang dipimpin oleh Emilio Butragueno yang dijuluki La Quinta del Buitre. Juanito bahkan menjadi mentor dan teman sekamar untuk Michel, pemain yang menggantikan posisinya saat itu.

Kepribadiannya sangat dihormati oleh semua pihak di Los Blancos. Kesuksesan meraih Piala UEFA dua kali beruntun disertai dengan comeback mengesankan di leg kedua setiap pertandingan ketika melawan Anderlecht (6-1), Inter (3-0), Borussia Monchengladbach (4-0), dan Inter lagi (5-1). Dia menjadi inspirasi untuk remontada, atau semangat perlawanan, yang menandai era kesuksesan Madridistas.