Karir Jermain Defoe di Bournemouth: Pencetak Gol Produktif Memahami Rasanya Mencetak Gol

Masa peminjaman di klub lain tidaklah mudah. Anda tidur sendirian di hotel dan rekan-rekan setim marah dengan karena kehilangan posisi mereka di tim utama dari Billy Big Boots muda. Atau anda adalah Jermain Colin Defoe.

Saat Defoe bergabung dengan Bornemouth dari West Ham di 2000/01, ekspektasi tidaklah sangat tinggi. Steve Fletcher, sosok yang menghabiskan 20 tahun karirnya di klub mengatakan, "Saya harus jujur, dia (Defoe) tidak mengesankan saat latihan. Di laga pertamanya, dia mencetak gol sundulan dan saya berpikir, 'Ya, itu tidak buruk tapi dia sekedar lumayan'."
 
Tapi Sean O'Driscoll, di musim pertamanya sebagai manajer, melihat sesuatu yang ia sukai. 
 
"Jermain menginspirasi pidato babak pertama termudah yang pernah saya berikan," kata O'Driscoll, yang kemudian melatih Doncaster dan Nottingham Forest, kepada FourFourTwo.
 
"Dia telah bersama kami 24 jam ketika kami pergi ke markas Stoke, dan di babak pertama peluangnya membentur tiang dan mencetak gol. Dia begitu lengkap. Saya berjalan ke ruang ganti dan hanya berkata," Berikan bola kepadanya (Defoe)'."
 
"Pidato di babak pertama hanya mengenai hal itu" ucap gelandang Richard Hughes, yang bermain dengan Defoe di Bournemouth dan Portsmouth. "Sean Hanya butuh waktu 45 menit untuk menyadari Defoe terlalu bagus untuk lawan kami."

Delapan pertandingan berikutnya, Defoe telah menceploskan 10 gol lainnya dan kurang satu pertandingan dan satu gol untuk memecahkan rekor pasca-perang dunia dengan mencetak gol dalam 10 pertandingan liga berturut-turut - dalam 10 pertandingan liga pertamanya. Itu tidak terwujud. "Kami dikalahkan 2-1 oleh Luton, saat Jermain memainkan laga kedelapannya, dan kami mendapat penalti di menit ke-83," kenang Hughes.
 
"Saya berada di titik penalti dan kiper Luton, almarhum Mark Overdale, adalah mantan rekan setim saya, jadi saya tahu apa yang akan dia lakukan. Kemudian Jermain berusaha merebut bola dari saya, mengatakan, 'Tolong, tolong, saya ingin membuat rekor. " Saya berkata, "Saya tidak peduli tentang rekormu - kami tertinggal 2-1 dengan tujuh menit tersisa!" Dia tidak senang tapi saya tetap melakukannya, kemudian Jermain mencetak gol kemenangan di menit terakhir."
 
Segalanya berjalan sesuai keinginan Defoe di pertandingan pada momen Tahun Baru, pertandingan ke-10, kami menjamu Cambridge, takdir seolah melawan dirinya. Lebih tepatnya, sikutan Wade Elliot melawan dirinya. Dengan Bournemouth bermain 10 orang di saat pertandingan berjalan setengah jam, karena sikutan membuat kepala John Dreyer berdara, Defoe kemudian dipindah ke posisi sayap, seuatu yang tidak wajar untuk sang striker muda tersebut.
 
"Sean O'Driscoll berteriak kepada Jermain, 'Dengar, saya kau akan kecewa tapi kamu harus mengorbankan pencapaian pribadi ini untuk tim dan bermain melebar," kenang Fletcher.
 
Tapui, peluang masih datang. "Itu umapn yang bagus dari Carl Feltcher dan saya melihat kiper keluar dari areanya, " kata Defoe. Apakah rekor tersebut mempengaruhi mentalitas ketajamannya? Mengingat dia menyia-nyiakan beberapa peluang untuk mencetak gol ke-100nya di Premier League sambil mengenakan sebuah T-shirt terlebih dahulu untuk merayakan pencapaian tersebut, bagaimana menurut anda?

"Saya ingin memberikan bola itu kepadanya," kata Defoe.
 
"Tapi, rekor itu sudah ada di pikiran saya. Saya berpikir, 'Tidak, saya akan memastikannya'. Jadi saya melewatinya. Saya tak melihat ke arah gawang saya hanya menyundulkan bola dengan kepala saya dan mengarahkan bola ke gawang."
 
Untungnya bola itu masuk ke gawang. Apakah Defoe telah memecahkan rekor? Beberapa klarifikasi menyebutkan bahwa sudah ada beberapa pemain yang mencetak gol di 10 laga berturut-turut, terutama Ron Davies di Southampton dan Billy McAdams di Manchester City.
 
"Saya tidak yakin apa yang sedang terjadi," ujar Defoe.
 
Tak masalah. Pemuda berusia 18 tahun itu tidak memecahkan rekor Dixie Dean yang mencetak gol dalam 12 pertandingan secara beruntun atau rekor Pele di 16 pertandingan beruntun, tapi terus bersinar. T-shirt Defoe pun terjual, suporter menyanyikan, 'Siapa yang membiarkan Defoe keluar? (dibalas: Harry Redknapp). "Anda bisa selalu menjamin dia akan mencetak gol," ungkap suporter The Cherries, Alan Levy. "Kami sudah memiliki Rio Ferdinand di Bournemouth. Ini membantu manajer lawas anda di tim Premier League."
 
"Dia mencetak gol yang luar biasa saat latihan dan para pemain memberikan tepuk tangan, saya tak pernah melihat gol seperti itu lagi dalam 25 tahun karir saya," ujar Fletcher tentang Defoe, bukan Rio Ferdinand. "Golnya di Oxford membuat kami meminta maaf ke bangku pemain lawan. Dia menjauh dari gawang dan anda berpikir dia akan mengumpan bola kembali saat dia berputar dan melepaskan bola chip dari sudut sempit."
 
Defoe dipasangkan dengan Fletcher di lini depan. "Mereka berkembang bersama-sama, Fletcher bertindak sebagai pelindungnya di atas lapangan," kata O'Driscoll. Fletcher tertawa. "Dengan Jermain berlari kencang, dari tengah lapangan dan mencetak gol seolah semuanya tidak direncanakan, dia membuat beberapa orang merasa terganggu. Mereka ingin melemparkan 10 bel ke arahnya. Sebagai pemuda yang dewasa, saya mencontoh dirinya."
 
Fletcher juga memanfaatkan masa peminjaman seperti Defoe. "Anda hanya akan sebagus rekan anda. Saya menciptakan eksistensi karir saya dengan kemampuan duel udara saya, mengocek bola dan dengan Jermain berada di belakang saya, saya juga bisa mendapatkan sebuah pencapaian, dia bisa mengambil bola, mengalahkan dua pemain dan melesakkannya ke sudut  atas gawang dari jarak 25 yard, dan saya bisa mencetak satu assist."
 
Tak selalu menyenangkan. "Saat satu laga tandang, Jermain begitu naif, meninggalkan kunci kamarnya kepada seseorang," kata Fletcher. "Kami melupakannya, tidak terlalu buruk dengan sedikit teh dan gula di tempat tidur. Dia tidak bahagia. Saya merangkulnya dan mengatakan ini hanyalah olok-olok."
 
Dan selama karirnya yang luar biasa, Defoe pernah gagal mencetak gol dalam satu pertandingan kandang melawan Dover Athletic pada trofi LDV Vans. Sangat konyol.

SEE ALSO

Additional reporting: George Solomon