Karl-Heinz Riedle: "Anda Tidak Butuh Bergabung dengan Bayern Munich untuk Menjuarai Bundesliga"

Kepada Tio Utomo dan Ekky Rezky dari FourFourTwo, Karl-Heinz Riedle bercerita tentang Bundesliga era 90an, Michael Owen, dan mimpinya di malam menjelang final Liga Champions 1997...

Untuk urusan nama besar dan reputasi, Karl-Heinz Riedle mungkin saja masih kalah dibanding nama-nama seperti Jurgen Klinsmann, Rudi Voller, atau Gerd Muller. Tapi bahwa Riedle adalah salah satu pemain Jerman tersukses adalah sesuatu yang tak bisa dibantah lagi. Pada akhirnya, catatan kariernya memang tak bisa bohong; ia adalah seorang juara Piala Dunia, tiga kali juara Bundesliga, dan pahlawan Borussia Dortmund ketika menjuarai Liga Champions 1996/97.

Lucunya, ketika ia datang ke Indonesia sejak Sabtu (7/10) pekan lalu, ia datang untuk menemani Dortmund memamerkan trofi DFB Pokal – salah satu dari sedikit trofi yang belum pernah ia raih di sepanjang kariernya.

“Saya kalah di dua final DFB Pokal; yang pertama melawan Borussia Dortmund ketika saya bersama Werder Bremen!” katanya kepada FourFourTwo sambil tertawa. “Tapi saat itu, sebenarnya trofi ini tidak sepenting sekarang – sekarang, semua trofi sama pentingnya.”

Riedle memang akan selalu dikenang sebagai legenda Dortmund berkat dua golnya di final Liga Champions 1997, tetapi sebelum itu, namanya besar justru bersama Werder Bremen.

Karl-Heinz Riedle bersama Manfred Burgsmuller saat di Werder Bremen

Saya kalah di dua final DFB Pokal; yang pertama melawan Borussia Dortmund ketika saya bersama Werder Bremen!

- Karl-Heinz Riedle

Lelaki yang dijuluki ‘Air’ (Udara) di masa aktifnya karena kemampuan melompat dan menyundul bola ini mengawali kariernya di Augsburg, saat klub yang kini bermain di Bundesliga itu bermain di level amatir, Bayernliga. Produktivitasnya kemudian mencuri perhatian Blau-Weiss Berlin pada tahun 1986, yang baru saja promosi ke Bundesliga untuk pertama kalinya di sepanjang sejarah mereka. Sayang, di Berlin, ia gagal membantu klubnya menghindari degradasi di musim pertama mereka di kasta tertinggi.

Meski begitu, bakat Riedle tidak terlewatkan begitu saja. Werder Bremen, salah satu klub kuat Bundesliga, memboyongnya setelah melihat bahwa Riedle muda mampu mencetak 10 gol di liga dalam semusim untuk sebuah tim kecil seperti Blau-Weiss.

“Saya benar-benar tidak menyangkanya karena saya masih muda dan saat itu Werder Bremen adalah salah satu penantang terberat Bayern Munich,” kata Riedle.

Riedle di Bremen

“Rudi Voller adalah idola di Bremen saat itu tapi ia kemudian pergi [ke AS Roma]. Otto Rehhagel lalu mencari pemain dengan tipikal yang berbeda, dan berusaha merekrut saya.”

Pages