Kasper Schmeichel dan Jalan Terjal Menuju Status Kelegendaan Sang Ayah

Ia menempuh jalur yang berbeda (dan lebih luar biasa) daripada sang ayah untuk menuju kesuksesan. Beban nama besar sang ayah dan karier yang jatuh bangun tidak pernah berhasil benar-benar menjatuhkan Kasper...

Pada Mei 2016 lalu, kisah cinderella terukir di Premier League ketika Leicester City dinobatkan sebagai juara. Cerita indah yang selamanya akan dikenang sebagai momen terhebat sepakbola Inggris sejak Nottingham Forest pada 1978 (masih bernama First Division). Di momen itu juga seorang pemain yang hanya bermimpi meraih titel Premier League di masa kecilnya, sukses mewujudkan impiannya.

Dia adalah Kasper Schmeichel, putra legenda Manchester United, Peter Schmeichel. Kasper meraih trofi Premier League tepat 25 tahun setelah Peter meraih titel pertamanya bersama Man United pada 1993. Istilah buah tak jatuh jauh dari pohonnya pun benar adanya.

25 tahun silam Kasper kecil selalu mengikuti sepak terjang Peter, melihat langsung betapa heroiknya Peter dalam menepis bola yang datang ke zonanya. Di dalam benak pikirannya, bukan Captain America atau Superman yang menjadi sosok pahlawan, melainkan sang ayah yang menginspirasinya untuk menjadi kiper.

Di sela-sela kesibukannya menjalani profesi sebagai kiper Man United, Peter kerap membawa Kasper untuk melihatnya berlatih, bahkan, ikut mengangkat trofi Premier League di musim 1993/94. Semua itu terekam abadi di dalam pikiran Kasper, membentuk kepribadian dan karakter bermainnya hingga saat ini menapaki jejak Peter.

Peter kerap membawa Kasper untuk melihatnya berlatih, bahkan, ikut mengangkat trofi Premier League di musim 1993/94. Semua itu terekam abadi di dalam pikiran Kasper, membentuk kepribadian dan karakter bermainnya hingga saat ini menapaki jejak Peter

Bangga, itulah satu kata yang merangkum seluruh komentar Peter kepada Kasper pasca Leicester menjuarai Premier League 2015/16. Peter boleh jadi terharu melihat mental baja putranya, persis seperti dirinya saat aktif bermain dahulu.

“Sangat menyenangkan kini Kasper juga memenangi Premier League. Saya sangat bangga dan saya pikir dia telah melakukan pekerjaannya dengan sangat hebat. Mengenalkannya kepada dunia sejauh ini sangat fantastis, membesarkannya, mendengar harapan dan doanya untuk masa depan, serta ambisinya: dia mengungkapkan dengan sangat jelas keinginannya untuk jadi pesepakbola,” cerita Peter.

“Dia berkembang melihat saya memenangi banyak trofi, jadi itu merupakan batasan yang harus digapainya dan terpatri di benak pikirannya – tak pernah saya mengharuskannya untuk melakukan hal tersebut. Fantastis melihatnya langsung dalam mengejar impian. Dia sudah seringkali terjatuh dan mampu kembali lebih kuat lagi setiap kali terjatuh.”

Impian dan mimpi yang jadi kenyataan bagi Kasper, lebih hebatnya lagi, ia menciptakan jalurnya sendiri sebagai legenda Leicester. Kasper mungkin sudah berada di puncak dunia seperti Peter, namun jalur yang ditempuh untuk mencapai posisinya saat ini sepenuhnya berbeda dari Peter.

Cara Schmeichel yang Anti Mainstream

Dia berkembang melihat saya memenangi banyak trofi, jadi itu merupakan batasan yang harus digapainya dan terpatri di benak pikirannya – tak pernah saya mengharuskannya untuk melakukan hal tersebut

- Peter Schmeichel

Sebelum melihat perjalanan Kasper, mari untuk sesaat membahas petualangan Peter yang melesat cepat bersama klub besar. Peter lahir di Gladsaxe, Denmark, pada 18 November 1963 dan berjuang keras menghidupi keluarganya sembari mengejar mimpi untuk menjadi pesepakbola profesional.

Ia melakukan dua pekerjaan itu kala masih membela Gladsaxe-Hero (1981-1984) dan Hvidovre (1984-1987) sebelum tawaran datang dari Brondy pada 1987. Brondy pun menjadi batu loncatan baginya ketika Peter memperlihatkan kualitasnya, membantu tim memenangi empat titel liga dalam lima musim hingga klimaksnya terjadi pada 1991, saat Brondy mencatatkan sejarah lolos ke semifinal Piala UEFA (Europa League) dan meraih titel Euro 1992 bersama timnas Denmark.

Kepiawaian Peter pun tak lepas dari pengamatan Sir Alex Ferguson yang kemudian memboyongnya ke Old Trafford pada 2000 dengan banderol £505.000. Sejak saat itu, nama Peter pun terangkat di kancah sepak bola Eropa dan dunia dengan kesuksesannya bersama Man United, di mana ia turut andil mempersembahkan trigelar yang bersejarah pada tahun 1999.

Bersama Red Devils merupakan puncak kejayaan bagi Peter yang kemudian bermain untuk Sporting Lisbon, Aston Villa, dan Manchester City sebelum pensiun pada April 2003.