Kegagalan Depay di Manchester United Memberikan Kita Gambaran Tentang Karakter Pemain Muda Saat Ini

Memphis Depay

Seb Stafford-Bloor mencoba untuk menyelidiki bagaimana perlakuan para manajer kepada para pemain muda saat ini, dan kenapa kegagalan di Old Trafford bisa membuat pemain kebanggaan Belanda ini sukses di kemudian hari?

Hubungan antara Memphis Depay dan Manchester United sepertinya akan segera berakhir. Pemain muda Belanda ini begitu diabaikan oleh Jose Mourinho hingga jika di bulan Januari ini ada tawaran yang datang, ia hampir dipastikan akan pergi dari juara Premier League 20 kali tersebut.

Mourinho memiliki pola tersendiri dalam hal semacam ini. Kapan saja ia mulai tidak mempercayai pemain muda di masa silam, jarang sekali berakhir selain perpisahan antara mereka. Romelu Lukaku adalah contoh bagus untuk hal ini, Kevin De Bruyne juga; keduanya dibiarkan pergi dari Chelsea dengan permintaan Mourinho dan keduanya digunakan untuk mempertanyakan penilaian Mourinho semenjak saat itu.

Mungkin suatu saat nanti, Depay akan menjadi korban yang lainnya. Ia terlalu muda untuk benar-benar diabaikan dan penurunan yang ia alami di United bisa saja hanya sebuah reaksi dari perpindahan besar antara Eredivisie dan Premier League. Segalanya terlalu dini? Mungkin saja.

Memphis Depay, Louis van Gaal

Van Gaal membawa Depay ke Old Trafford pada 2015, tetapi dia gagal memenuhi ekspektasi

Waktu Mulai Berubah

Seperti yang seringkali dikatakan pemain yang pensiun pada umur tertentu, langkah antara akademi dan tim utama seringkali lebih mulus di pertandingan kontemporer.

Salah satu diskusi yang terus berlangsung di dunia belakang sepakbola adalah bagaimana memperlakukan pemain yang sedang berkembang. Di beberapa klub, inisiatif sudah lahir untuk menyerang budaya penilaian yang mempengaruhi banyak prospek yang menjanjikan. Di beberapa kasus, jumlah penampilan mempengaruhi gaji dan, yang lebih ekstrim lagi, mobil mahal dan hal-hal mewah awal lainnya sekarang dilarang.

Perubahan yang muncul seringkali terlihat hanya di luar saja dan sepertinya tidak akan banyak berpengaruh dalam jangka panjang, tapi setidaknya mengurangi-ego-pemain sudah masuk ke dalam agenda. Ini mungkin saja tidak akan membawa banyak hal bagus, tapi tidak akan melukai siapapun juga.

Meski begitu, tantangan yang lebih besar adalah untuk mempersiapkan generasi masa depan dengan kemampuan untuk memecahkan masalah. Seperti yang seringkali dikatakan pemain yang pensiun pada umur tertentu, langkah antara akademi dan tim utama seringkali lebih mulus di pertandingan kontemporer. Pemilihan secara literal tentu saja tetap tanpa ampun, tapi pengalaman emosional sudah mulai dikurangi. Secara benar, sudah berakhir hari-hari di masa silam di mana seremoni perkenalan yang kejam dan bullying di dalam tim, karena klub-klub sudah lebih menyadari tanggung jawab sosial mereka sekarang dibandingkan sebelumnya.

England Islandia

Kegagalan Inggris di Euro 2016, apakah terlalu cepat memberikan kesempatan pada pemain muda?

Tapi ada sisi buruk dari ini semua, yaitu dalam pengaruh yang muncul setelahnya. Seperti adanya kode tidak tertulis antara pemain yang lebih tua dan lebih muda, begitu juga pelatih harus bisa menghormati perasaan dan sensitivitas pemain-pemain muda yang perasa. Dalam sepuluh hingga dua puluh tahun ke depan, otobiografi tidak lagi akan menceritakan tentang rasa cinta yang keras dari karier muda seorang pemain dan, di samping beberapa kekecewaan mereka kemungkinan tidak akan bisa terlalu melihat adanya perbedaan yang mencolok apapun.

Rasa Kekecewaan Pertama

Di 2016, tradisi modern yang muncul adalah sosok yang lebih lembut dan mungkin lebih sulit menerima kritik membangun yang muncul

Ini tidak sepenuhnya positif. Dalam beberapa wawancara dengan Graham Hunter di 2016, Phil Neville dan Steve McManaman berbicara tentang pengalaman mereka di akademi Manchester United dan Liverpool secara berurutan. Standar teknis kepelatihan, menurut mereka masing-masing, penting dalam awal karier mereka, tapi mereka juga mengakui –meski terkadang terasa sulit dan disesali- perlakuan yang lebih kasar yang mereka terima juga menjadi salah satu hal penting dalam edukasi emosional mereka.

Meski di beberapa kasus, hal ini lebih banyak memberikan hal buruk dibandingkan sesuatu yang bagus, ini benar-benar mempersiapkan pemain untuk dunia profesonal dan membuat mereka lebih tangguh. Di 2016, tradisi modern yang muncul adalah sosok yang lebih lembut dan mungkin lebih sulit menerima kritik membangun yang muncul.

Steve McManaman

McManaman percaya pengalamannya di akademi Liverpool membuatnya menjadi pemain yang lebih baik

Pemain muda meningkat cepat ke puncak. Di tiga kasus yang ada, Lukaku, De Bruyne, dan Depay sudah dilabeli spesial dari usia muda dan semuanya didatangkan klub bagus dengan harga yang besar. Tembok yang muncul di karier mereka (Lukaku dan De Bruyne di Chelsea, Depay di Manchester United) adalah kemungkinan besar titik pertama di mana mereka menemui tantangan yang besar. Di luar kesulitan yang mereka temui di masa kecil atau di luar pertandingan, ini mungkin pertama kalinya mereka melihat sisi kejam sepakbola –mungkin juga untuk pertama kalinya mereka tidak dikagumi siapapun.

Lalu tidak terlalu dianjurkan juga untuk melihat sebuah kegagalan besar awal yang bisa menggantikan beberapa sifat yang terbentuk dari pertandingan. Jika sesuatu bisa muncul dan memberikan perubahan besar atau membuat seseorang mengubah salah satu sifat kunci mereka, biasanya ini muncul secara tidak sengaja.