Kenapa Calon Pahlawan Turin, BENAR Memilih Amerika Utara Ketimbang London Utara

Ahli sepakbola Italia, Adam Digby menjelaskan kenapa salah satu kejutan di bursa transfer musim dingin ini membuat keputusan yang benar...

Bahkan tahun 2015 masih bisa membuat kita kaget dengan sebuah berita transfer. Penggemar bola di antara Atlantik tidak menyangka dengan berita kepindahan Sebastian Giovinco ke Toronto FC pada musim panas nanti. Walaupun jarang mendapat kesempatan untuk bermain, tengah di usia emasnya pindah ke Kanada jelas menjadi berita besar minggu ini.

Lahir asli dari Turin, dia tidak bisa maksimal bersama Bianconeri hanya 200 menit dari tujuh pertandingan selama musim ini. Tidak jauh berbeda dengan musim lalu dimana 11 dari 17 penampilannya datang dari bangku cadangan. Membuat dampak minimal bagi klub dengan dua gol dan satu assist.

Kurang mendapat kepercayaan dari klub tempat ia berasal bukanlah hal baru, melihat penerus Alessandro Del Piero pergi dengan status bebas transfer menjadi bukti hubungan yang seharusnya bisa lebih baik dari ini. Tidak ada yang meragukan kualitas pemain satu ini namun standard yang diterapkan klub tak bisa bisa bertemu terlihat dari 18 bulan terakhir.

Meninggalkan si Nyonya Tua

Pertanyaan muncul mengapa pemain berusia 27 tahun dengan kualitas baik, regular pula dalam tim nasional Italia lebih memilih pindah ke Amerika Utara ketika klub Premier League macam Arsenal dan Tottenham Hotspur sangat berminat pada dirinya?

Jawaban paling sederhana adalah rumor dimana ia akan menerima gaji sebesar tujuh juta dollar setiap tahun, jika melihat rekam jejak pemain satu ini hal tersebut benar adanya.

Giovinco bergabung dengan tim junior Juventus, secara cepat ia berhasil merangkak naik dengan performanya dan membangun reputasi sekaligus membantu klub memenangi beberapa gelar prestisius.

Bermain sebagai pemain tradisional dengan nomor 10, dia bergerak di antara lini, mampu mencetak atau buat gol dalam frekuensi cepat. Perhatian nasional langsung tertuju pada dirinya dengan desakan untuk segera masuk ke tim nasional semakin besar.

Mimpi tersebut menjadi kenyataan pada Mei 2007, setelah Juventus promosi ke Serie A, dirinya dan Claudio Marchisio menghabiskan waktu bersama Empoli dengan status pinjaman, dengan harapan keduanya memiliki pengalaman di level tertinggi. 

Bersama klub itu ia tampil gemilang, mencetak enam gol termasuk tendangan bebas di masa injury time kala bersua Roma dan berakhir dengan skor 2-2.

Kesepakatan Buruk

Dibuai selama bermain di Stadio Carlo Castellani, dia kembali ke Juventus berharap dapat peran besar namun yang terjadi adalah kebalikan. Grafik permainannya yang naik seperti tidak menjadi referensi bagi direktur olahraga kala itu Alessio Secco. Banyak transfer gagal dan Claudio Ranieri harus bisa mengembangkan skuad.

Hubungan dengan David Trezeguet dan Del Piero tetap terjaga baik, namun tidak dengan Vicenzo Iaquinta dan Amauri, membuat Giovinco beberapa kali harus mengganti posisi Pavel Nedved di sisi kiri.

Walaupun tidak familiar dengan posisi ini ia tetap tampil baik. Salah satu yang patut diingat adalah ketika berjumpa Chelsea di 2008/09 Champions League, hampir membawa timnya menang, walaupun pada akhirnya mereka harus kalah dengan skor tipis. Begitu juga dengan penampilannya di Serie A dimana Ranieri harus hengkang dan diteruskan oleh Ciro Ferrara.

Mantan bek itu berjanji kepada Giovinco bahwa ia menjadi cadangan Diego sebagai trequartista. Akan tetapi karena tingginya yang hanya 5 kaki, 5 inci dan 60 kg membuat permainannya sulit berkembang dibandingkan pemain tengah modern. Dia kesulitan untuk bertarung melawan musuh dengan bentuk seperti itu.

Memang, Ia memiliki kecepatan dari keadaan berdiri tegak, namun untuk keluar dari penjagaan lawan tidak mudah baginya, ditambah dampak yang dihasilkan olehnya nihil.

Kedatangan manajemen baru pada 2010 sedikit membawa angin segar bagi perkembangan pemain muda ini. Peminjaman ke Parma jadi solusi ideal, status ini berubah jadi kepemilikan bersama dan musim 2011/12 terlihat potensi sebenarnya dengan catatan 15 gol dan 11 assists termasuk golnya ke gawang Juve.

Pembelian Balik Tidak Tepat

Giovinco mencetak empat gol dari tiga kali pertemuannya dengan Bianconeri, yang akhirnya mengucurkan 11 juta Euro untuk membawanya kembali ke Turin. Akan tetapi, sekali lagi mereka tak tahu peran apa yang harus dilakoni oleh pemain mungil ini. Semua penampilan gemilang selama di Parma seperti lenyap begitu saja.

Sang pemain sendiri tak membantu karirnya dengan baik. Ia kerap mengkritisi permainan Juventus, sementara agennya berbicara kemungkinan ia pindah dengan London Utara menjadi tujuan utama. Namun Giovinco masih saja di klub ini, memenangkan dua gelar liga dimana kebanyakan dirinya tidak pernah bermain. Kontraknya yang sudah mau habis, nampaknya ia tidak akan mendapat perpanjangan.

Mendapat kesempatan tampil di Coppa italia minggu lalu, mengingatkan kembali kemampuan asli darinya. Kalahkan Hellas Verona 6-1, ia menyumbangkan dua gol. Klub-klub Premier League semakin gencar mengincar tanda tangannya. Melihat banyak rekannya yang gagal disana seperti Mario Balotelli, Fabio Borini, dan Pablo Osvaldo membuat dirinya membuat ide cemerlang (menurutnya).

Bahkan Erik Lamela yang bersinar di Serie A kesulitan memberikan dampak bagi Tottenham, juga menambah keraguan bagi Giovinco untuk merintis karir di Inggris dan memilih terbang ke Kanada.

Mimpi untuk menjadi pahlawan di kampung sendiri tidak bisa terealisasikan, namun bersama Toronto FC, kontraknya akan menjamin status sebagai pemain bintang. Mengenakan nomor 10 di kota yang banyak orang Italia dan akan menjadi tajuk berita ketika harapan bersama Juventus sudah sirna.