Analisa

Kenapa Manchester United adalah Klub Terbaik untuk Masa Depan De Gea

David de Gea Manchester United

Sekelompok orang menganggap sang pria Spanyol adalah penjaga gawang terbaik di dunia, tulis  Seb Stafford-Bloor – tapi penyebab utamanya adalah performa buruk timnya. Di mana lagi dia bisa mendapat pengakuan seperti ini?

We are part of The Trust Project What is it?

Sudah 55 tahun berlalu sejak Lev Yashin meraih penghargaan Ballon d’Or — penjaga gawang terakhir yang menerima penghargaan individu paling bergengsi di Eropa. Di tingkat negara, sudah 40 tahun berlalu sejak Peter Shilton meraih penghargaan PFA’s Player of the Year.

Keduanya kejadian istimewa. Yashin adalah ikon nasional Uni Soviet dan pemain paling menonjol dari tim Dynamo Moscow yang berjaya pada 1950-an dan 1960-an. Dia pahlawan yang setara dengan Yuri Gagarin, berhias julukan-julukan abadi dan, ketika wafat pada 1990, dimakamkan secara kenegaraan.

Karier Shilton malah lebih terbatas. Dia mungkin tidak diingat oleh rakyat Inggris dengan cara yang sama seperti Yashin, tapi dia juga pemain terbaik di angkatannya. Penjaga gawang andalan Brian Clough itu diberi penghargaan oleh sejawatnya pada 1978, setelah menjuarai liga di musim pertamanya di Nottingham Forest. Dua European Cups berturut-turut diraihnya pada 1979 dan 1980, dan penampilan Shilton di final kedua, melawan Hamburg yang diperkuat Kevin Keegan, hingga kini masih menjadi salah satu penampilan penjaga gawang terbaik sepanjang masa.

Pahlawan Tunggal

Implikasinya jelas: dilihat dari sisi mana pun, penjaga gawang punya kategori sendiri.

Sepak bola adalah olahraga yang dinilai dari gol dan serangan, dan penampilan saja tidak akan cukup untuk meluruskan kekeliruan itu di acara-acara penghargaan; untuk menjadi pemain terbaik, seorang penjaga gawang harus memiliki kualitas yang mengangkat derajat permainan. Seorang penjaga gawang tidak bisa hanya menjadi pemain terpenting di tim terbaik di antara yang terbaik, kemampuannya harus begitu nyata terlihat hingga segala jenis bantahan langsung tak berarti apa-apa.

Mampu-tidaknya De Gea menembus teritori itu akan dijawab oleh waktu. Secara mufakat, dia adalah pemain Premier League paling elite di posisinya. Di level benua, ini masih bisa lebih diperdebatkan: penjaga gawang Atletico Madrid, Jan Oblak, secara konsisten tampil luar biasa selama bermusim-musim dan Marc-Andre ter Stegen-nya Barcelona, walau bukan penjaga gawang tradisional seperti De Gea dan Oblak, juga patut dipertimbangkan.

Di antara ketiganya, tim De Gea paling payah. Manchester United masih terombang-ambing di era pasca-Ferguson dan Jose Mourinho terus memberondong para pemainnya dari pinggir lapangan. Dengan sudut pandang seperti ini, tidak iri kepada De Gea adalah tindakan tak perlu. Sementara para penjaga gawang yang nyaris sama bagusnya (dan beberapa yang lebih payah) bersaing memperebutkan gelar juara liga dan kompetisi tingkat benua, De Gea terjebak dalam permainan tanpa tujuan.

David de Gea saves

United belakangan cukup payah sehingga itu memungkinkan De Gea dianggap sebagai yang terbaik di dunia, tapi United tidak cukup baik untuk bisa menegaskan kehebatan penjaga gawang utama mereka. Di sepakbola, seperti di olahraga lainnya, pengukuhan sebagai yang terbaik hanya bisa didapat dengan memenangi pertandingan final dan mengoleksi medali.

Harapan United menjuarai Premier League sudah kandas, peluang mereka untuk kembali lolos ke Champions League semakin tipis, dan, walau masih ambil bagian di edisi kali ini, mereka diprediksi akan gugur dengan cepat dan memalukan di fase gugur.

Sasaran Kritik

Mudah melihat De Gea sebagai sosok yang mampu melakukan semuanya sendiri, dan segala yang ada di hadapannya seolah tak berarti.

Masa baktinya di Old Trafford juga telah diperpanjang. Sementara kontraknya saat ini baru akan berakhir pada musim panas 2019, Manchester United telah mengambil pilihan untuk memperpanjangnya satu tahun. Tentu saja klub sekelas mereka bisa kembali jaya dalam waktu singkat, dan United hanya perlu tambahan beberapa pemain yang tepat untuk bisa kembali bersaing. Tapi saat ini tak ada cukup bukti bahwa United punya momentum untuk maju dan, setidaknya di bawah manajemen saat ini, hanya ada sedikit jaminan United mampu memuaskan ambisi profesional De Gea.

Walau demikian, berkata demikian berarti mengabaikan dinamika lengkap situasi De Gea saat ini.

David de Gea training

Dalam pengertian yang lebih luas, pengaruh penjaga gawang klub-klub besar dilemahkan oleh dominasi timnya. Salah satu tolok ukur abadi posisi ini barangkali adalah kemampuan untuk tampil dalam standar terbaik terlepas dari keterlibatan sporadis, tapi secara akurat mengukur pengaruh pemain mana pun yang menjadi bagian dari tim dominan memang sangat sulit.

Manuel Neuer adalah salah satu penjaga gawang terbaik Eropa dalam satu dekade terakhir, tapi bisakah dengan mantap dikatakan bahwa Bayern Munchen bisa saja kehilangan salah satu dari enam gelar juara Bundesliga berturut-turut tanpanya? Logikanya, jawabannya adalah tidak. Tidak seharusnya itu mengubah persepsi tentang nilai Neuer, tapi itu memang sulit dihindari. Itu juga logis. Kemampuan lengkapnya jarang harus ditunjukkan dan, tidak seperti De Gea, Neuer bisa melewati berpekan-pekan tanpa kritik.

Preseden Pete

Ada preseden khusus untuk Manchester United mengenai hal ini. Sementara kebanyakan akan mengakui bahwa Peter Schmeichel sangat penting untuk kesuksesan klub pada 1990-an, dan penjaga gawang terbaik di Inggris pada periode itu, hanya satu kali — pada musim 1992/93 — sang pria Denmark terpilih ke dalam Tim Terbaik Premier League. Nigel Martyn, Tim Flowers, David James, dan David Seaman lebih dipandang ketimbang Schmeichel — Martyn dan Flowers masing-masing terpilih dua kali — dan itu mendukung asumsi bahwa keadaan sekitar benar-benar berpengaruh.

Hasilnya, ketiadaan Schmeichel di Team Of the Year mudah dipahami. Sebagian besar kehebatannya terpendam. Reputasinya sendiri saja sudah mengintimidasi untuk para penyerang yang berlari ke arah gawangnya, sebagian besar efeknya bersifat teoretis, dan pengaruhnya lebih sering digambarkan dalam pengandaian. Itu perhitungan yang dibuat dari variabel-variable yang tak berwujud.

Schmeichel mengarahkan para pemain bertahannya dengan sangat baik, distribusi bolanya patut dicontoh dan beragam, dan penguasaan udaranya sangat dominan. Pada puncak tertinggi kariernya Schmeichel juga memiliki aura, menyiratkan tak ada yang tidak bisa dia selamatkan.

Peter Schmeichel, Alan Shearer

Itu atribut-atribut yang kuat, pastinya, dan atribut-atribut yang berpengaruh terhadap keberhasilan timnya dalam banyak pertandingan ketat, tapi atribut-atribut itu tak punya tempat di Match of the Day atau tayangan cuplikan-cuplikan pada masanya. Nyatanya, ketika tiba masa penayangan Premier League Years dan cuplikan lima terbaiknya, Schmeichel sangat jarang muncul.

Kehebatan Schmeichel tak selalu jadi bahan perbincangan. Suporter yang pernah melihat Schmeichel bermain tahu kehebatannya dan testimoni mantan rekan-rekannya membantu menjaga warisan tersebut, tapi kariernya secara umum tak membuatnya sering tampil dalam cuplikan.

Penampilannya saat melawan Newcastle di St James’ Park, penyelamatannya dalam pertandingan Champions League di Austria, dan penyelamatannya saat berhadapan dengan Ivan Zamorano pada 1999. Masih ada lagi, masih banyak lagi malah, tapi kebanyakan di antaranya tertimbun oleh kehebatan United.

Masalah Status

De Gea tidak menghadapi masalah semacam itu. Faktanya, keadaannya optimal. Penurunan performa United saat ini tidak menggerogoti status global mereka, tidak pula membuat United tak sanggup membayar mahal para pemainnya. Sang pria Spanyol menjadi pemain utama dan dibayar mahal.

Terlebih lagi, dia dapat menunjukkan seluruh kemampuannya di bawah sorotan dan, walau seringnya kurang mendapat penghargaan, dia berperan sebagai satu-satunya aktor kredibel dalam drama yang cenderung buruk.

Itu framing yang sangat kuat; lebih kuat lagi jika kita berandai-andai tentang kepindahannya. De Gea termasuk pemain yang tidak akan dijual, tapi transfer ke klub yang sama besarnya akan nyaris pasti melibatkan penurunan status — bahkan jika dia terus-terusan tampil seperti sekarang.

Sebaliknya, di tim Manchester United sekarang, ketidaksempurnaan yang terus-terusan merusak mereka adalah hal yang sebenarnya membantu meningkatkan dan menjaga reputasi De Gea. Bagaimanapun, di setiap akhir musim United, seberapa besar persentase momen ajaib klub yang menjadi milik De Gea? Dan berapa banyak di antara momen tersebut yang termasuk langka dan aksi kualitas tertinggi? Cuplikan mingguan De Gea begitu kaya, beragam, dan sangat pekat.

Di antara sejawatnya, hal itu memungkinkan De Gea menempati satu tempat unik di dunia penjaga gawang. Perbandingan dengan Yashin atau Shilton memang tidak begitu kuat, tapi dia juga berada di teritori istimewa. Posisinya tak tergoyahkan, dan nilainya secara hampir mustahil begitu tinggi.

Kapan pun, sangat sedikit pemain yang bisa berkata demikian — pemain-pemain yang betul-betul tak tergantikan — dan dua di antaranya, Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi, sudah di ujung masa dominasi. Ketika itu terjadi dan kedua supernova itu akhirnya lenyap, De Gea akan menjadi bagian dari sekelompok pemain yang memasuki atmosfer yang dijernihkan.

Dan anehnya, itu akan terjadi karena dia di Manchester United, bukan meskipun dia di Manchester United.

Temukan feature terbaru setiap harinya di FourFourTwo.com