Kenapa Pedro Adalah Pemain Idaman Bagi Chelsea dan Mourinho

Lee Roden memberitahu suporter The Blues apa yang bisa diharapkan dari penyerang baru mereka setelah mengalahkan Manchester United untuk mendapatkan tanda tangan penyerang Barca...

DATA

  • Tanggal Lahir: 28 Juli 1987
  • Tempat Lahir: Santa Cruz de Tenerife, Spain
  • Tinggi: 5ft 5in
  • Klub: Barcelona (321 apps, 99 gol)
  • Timnas: Spain (51 apps, 16 gol)
  • Gelar: La Liga (5), Copa del Rey (3), Liga Champions (3)

Pemain dengan kelas seperti Pedro tidak tersedia terlalu sering.
 
Sementara kurangnya sorotan dan kurangnya keterbukaan membuatnya mudah dilupakan, pemuda asli Tenerife ini, bagaimanapun juga adalah juara Piala Dunia dan Champions League berkali-kali - penyerang juara. Seorng pemain yang menyingkirkan Thierry Henry dari tim Barcelona, dan yang juga mengeluarkan David Villa, Zlatan Ibrahimovic dan Alexis Sanchez. Pemain pertama yang mencetak gol di enam kompetisi dalam setahun.
 
Dia adalah striker superstar tanpa tanda-tanda yang dimiliki pemain sejenisnya. Seorang pemain yang telah memenangkan segalanya, namun masih cukup lapar untuk mencari tantangan yang lebih besar di tempat lain daripada mengumpulkan cek bayaran dengan nilai luar biasa, hidup tanpa tekanan di sebuah klub di mana ia akan selalu disukai. Secara taktis, tak ada yang lebih disiplin daripada dirinya saat ini. Sederhananya, ia adalah seorang pemain berharaga untuk setiap pelatih, terutama pelatih seperti Jose Mourinho. 

Andalan Para Manajer

Dua final Liga Champions menunjukkan kecemerlangan Pedro. Yang pertama, di atas rumput Wembley pada 2011, tak hanya menunjukkan bahwa dia memainkan peran penting untuk keberhasilan tim asuhan Pep Guardiola, namun juga salah satu pemain yang bersedia melakukan segalanya. Sangat mudah untuk memberikan perhatian besar pada gol pembuka dari pertandingan itu, tapi sama pentingnya juga untuk memahami kelas permainan Pedro di sepanjang final tersebut.
 
Ditugasi untuk bermain melebar ke sayap agar tersedia ruang bagi Andres Iniesta untuk memberikan kontribusi, ia hanya melepaskan dua tembakan dalam malam final itu, dan lebih jarang menyentuh bola dibandingkan dengan kiper timnya. Pemain dengan kelas yang lebih rendah akan bosan dan meninggalkan tugasnya dan berusaha menjalin interaksi dengan rekan-rekannya, tapi tidak dengan Pedro, yang melaksanakan tugasnya dengan sangat teratur, berlari tanpa henti dan secara reguler menekan serangan lawan.
 
Bukti bahwa ia tidak mementingkan diri sendiri semakin kentara di final Liga Champions musim lalu melawan Juventus. Masuk ke lapangan di menit-menit terakhir tambahan waktu, saat bola berada di dalam kotak penalti Juve, ia hanya sekian yard untuk melepaskan tembakan dan punya hak untuk melakukannya.
Pedro, Barcelona
Pemain asli Katalan ini harus membuktikan dirinya di Stamford Bridge
 
Menyadari bahwa waktunya di Barca sudah akan berakhir, sebuah gol tentu akan menjadi tanda perpisahan yang sempurna bagi seorang pemain dengan ego yang lebih besar, tana harus menyebutkan bahwa gol itu akan menaikkan harganya di pasaran. Tapi itu bukan Pedro, yang justru memilih mengumpankan bola kepada Neymar dan membiarkan pemain Brasil mendapatkan perhatian besar.
 
Guru Pep Guardiola, Juanma Lillo, menyebutnya "fasilitator", mantan pelatih akademi Barca, Laureano Ruiz menyebutnya dengan 'kipas angin (listrik)'. Sebutan itu tidak terlalu akrab di lidah orang Inggris, tetapi kedua sebutan itu meringkas apa yang diberikan Pedro kepada tim: oksigen, kehidupan yang lebih mudah, keteraturan.
 
Melihat kembali komentar Luis Enrique saat sang pemain mengalami tahun yang sulit juga menggambarkan sosok Pedro dengan baik. "Dia selalu memberikan sesuatu, dia adalah contoh untuk rekan satu timnya dan ia berlatih dengan kesempurnaan. Dia profesional yang tak perlu diragukan lagi, pemain top, dan memainkan pertandingan lebih sedikit dari yang layak ia mainkan."

Simply, he's an absolute luxury for any coach, and in particular, a coach like Jose Mourinho

Pelatih Barca bukan tipe orang yang memberi ujian begitu saja, sehingga kecintaannya dalam kata-katanya menggambarkan yang sebenarnya. Sulit untuk membayangkan ada pemain sepakbola lain yang telah memenangkan lebih dari 20 piala memainkan peran pendukung dengan sedikit keluhan seperti Pedro. Satu di antara sejuta pemain, dan sangat tidak mengherankan jika pelatih yang menekankan kolektivitas seperti Mourinho merasa tertarik kepadanya.

Pedro, Pep Guardiola

Pep tidak bisa membantunya tetapi sangat menyukai etos kerja Pedro

Perilaku Baik

Manajer Chelsea akan melihat pemain tim yang luar biasa dalam diri pemain barunya ini, tapi sebagai seseorang yang menuntu produktivitas saat menjadi manajer Real Madrid dan Inter, Mourinho juga mencari sesuatu yang lebih. Sempurna dalam menjadi bagian tim, Pedro juga individu yang luar biasa, dia tak akan menghabiskan enam musim di tim utama Barcelona jika tidak seperti itu.
 
Pemain yang mengandalkan dua kaki, dia tak hanya gemar menembak dengan dua kakinya, tapi juga melakukan dribel. Lawan akan kesulitan untuk menebak sentuhan pertamanya di sisi sebelah mana, menambahkan faktor tidak terduga dalam permainan menyerangnya.

His habit of scoring important, late goals is directly linked to that desire, a trait that has endeared him with Barça fans from day one

Ketika ia diberi kepercayaan bermain ia dengan senang hati akan melakukan penyelesaian dengan kedua kakinya, dan bisa menembak dari dalam maupun luar penalti. Dengan sedikit perbedaan level permainan di sebelah kiri atau sayap kanan, Chelsea secara efektif menandatangani dua pemain dalam satu tubuh: pemain sayap kiri dan sayap kanan top. Bahkan mungkin bek sayap atau penyerang tengah jika perlu.
 
Gambar dari Stats Zone ini menunjukkan bagaimana Pedro mahir di kedua sayap, beroperasi di kiri dan kanan dengan permainan yang bagus karena dia unggul di kedua area ini musim lalu.

Pedro masih memiliki semangat yang untuk merebut bola lepas seperti seorang remaja ketimbang seorang juara dunia, dan kebiasannya mencetak gol penting, gol di menit terakhir bisa dikategorikan seperti itu, adalah satu faktor yang disukai suporter Barcelona dari dirinya.
 
Pedro masih memiliki semangat yang untuk merebut bola lepas seperti seorang remaja ketimbang seorang juara dunia, dan kebiasannya mencetak gol penting, gol di menit terakhir bisa dikategorikan seperti itu, adalah satu faktor yang disukai suporter Barcelona dari dirinya.
 
Karirnya di Nou Camp diwarnai gol-gol penting. Perhatikan musim debut dari produk asli La Masia ini pada 2009, saat nyaris seluruh pemain tampak seperti hanya menginginkan air minum pada menit 114 dalam laga Piala Super Eropa melawan Shakhtar Donetsk, adalah Pedro yang mencetak gol penentu seperti gambar di bawah ini.

Di final Piala Dunia Antar Klub beberapa bulan kemudian, kiper Estudiantes Damián Albil tampaknya bertekad untuk merusak malam pemain Spanyol itu, dengan sebuah peluang yang berhasil dihentikannya.
 
Alih-alih kecewa, pemain Barca ini terus berupaya dan ia mendapatkan imbalannya di menit 89 saat ia menjadi yang tercerdas dan tertajam di kotak penalti. Lebih cepat dari Albil, ia melepaskan bola sundulan ke gawang untuk mencetak gol penyeimbang penting  yang membuat Blaugrana mencetak sejarah dengan meraih trofi keenam mereka tahun itu.
 
Lionel Messi mendapatkan sanjungan dengan gol kontrol dadanya, tapi adalah Pedro yang membuat semuanya terjadi. Juga pedro yang beraksi pekan lalu, ketika tendangan bebas Messi masuk ke area penalti Sevilla di menit 115 Piala Super UEFA. Gol lain di perpanjangan waktu di laga final dari pemain yang sama ketika pemain lain menyerah; cara yang sempurna untuk menutup karirnya di Barca dan kilasan sempurna dari apa yang nisa diharapkan Chelsea. 

Baca artikel pilihan seperti ini lainnya setiap hari hanya di FFT.com